
"Hey...apa yang kalian lakukan di rumah kami..."
"Keluar...siapa kalian berani menerobos rumah keluarga Moon...keluar sekarang atau aku panggil polisi..."
Kedua orang wanita itu berteriak marah saat ada beberapa orang berpakaian hitam memasuki rumah mereka dengan paksa.
"Tidak perlu repot-repot...", suara seseorang membuat keduanya mengalihkan perhatian ke arah pintu masuk. "...simpan saja tenaga kalian untuk nanti...", lanjutnya santai, namun membuat kedua wanita tadi membulatkan matanya terkejut.
"Aurora"
"Halo Bibi...Sepupu...lama tidak bertemu...", jawab Aurora tersenyum sambil mendekap kedua tangannya di dada.
"Ka-kau masih hidup...", ujar salah satunya, wanita paruh baya, istri dari Giovanni dan ibu dari Angel, yaitu Natasya.
"Berarti yang aku temui waktu itu Kau...", ujar Angel tak kalah terkejutnya, "... La-lu kenapa kau tidak mengenali ku waktu itu...", lanjutnya tidak percaya.
"Itu tidak penting...yang penting sekarang...aku sudah kembali...dan aku akan mengambil semuanya dari kalian...jadi bersiaplah untuk angkat kaki dari rumah ini...", ujar Aurora serius.
"Apa kau bilang...angkat kaki dari rumah ini...apa tidak salah...kau itu yang seharusnya tidak datang ke rumah ini... karena ini bukan rumah mu lagi...tapi sekarang ini rumah ku...", ujar Angel sombong.
"Benarkah...mana buktinya...lebih baik...tunjukkan suratnya pada ku kalau ini adalah rumah mu...", balas Auto tenang.
"Un-tuk apa kami menunjukkannya pada mu...itu tidak penting...kau sudah meninggalkan rumah ini bertahun-tahun...jadi kau tidak punya hak lagi...", ujar Natasya.
"Itu salah Bibi...siapa yang memberitahu mu hal bodoh seperti itu...yang benar... siapapun yang bisa menunjukkan surat kepemilikan atas rumah ini...itu adalah pemilik nya...", ujar Aurora menekankan setiap perkataannya dan menunjukkan sebuah map di tangan nya, "...dan satu hal lagi yang harus aku perjelas...aku tidak pernah pergi dari rumah ini...tapi kalian yang mengusir ku...apa kalian lupa huh...", pekiknya marah.
"Ti-tidak...itu pasti surat palsu...Papa ku punya semuanya...bahkan wasiat dari Ayah mu...jadi lebih baik kau pergi... sebelum Papa ku datang...", pekik Angel.
"Papa mu... hahaha...ups maaf aku lupa memberitahu mu... kalau Papa sekaligus Suami kalian itu sudah di tangkap polisi...jadi...dia tidak akan pulang...", ujar Aurora menyeringai, kedua wanita tadi terkejut bukan main.
__ADS_1
"Apa... tidak...itu tidak mungkin...", pekik keduanya cemas.
"Angel...cepat hubungi Papa mu sekarang...Biar Mama hubungi Paman Josh...", pinta Natasya bergegas menelpon menggunakan ponselnya, sedangkan Angel juga menghubungi lewat ponselnya sendiri.
Aurora yang melihat itu, hanya menyeringai lebar, kemudian matanya menatap setiap sudut rumah, dimana terdapat banyak nya kenangan indah dengan sang Ayah, bahkan juga dengan sang Ibu, walaupun tidak banyak.
Dulu, Ayah Aurora memasang foto mendiang Ibu Aurora di setiap sudut rumah ini, sehingga Aurora tidak pernah lupa sedikitpun wajah sang ibu, juga serasa bersama ibunya setiap hari.
Bahkan ketika Aurora beranjak remaja, dia tau ternyata rumah mereka itu, di desain oleh Ayah dan Ibu Aurora sendiri, jadi setiap sudut rumah adalah bagian dari keseharian mereka, namun mereka juga memiliki tempat favorit masing-masing.
Tuan Johnny sangat menyukai ruang kerja nya di rumah, karena ruangan itu di buat menyatu dengan ruang desain tempat istrinya biasa membuat desain baju, hanya di batasi oleh jendela kaca, jadi mereka tetap bisa saling bertatapan mata tanpa anda penghalang, dan itu salah satu kunci keberhasilan mereka masing-masing, menurut Aurora "itu sangat romantis".
Dan baru ingat, dimanakah barang-barang itu, semoga saja Pamannya tidak akan sekejam itu membuang semua barang-barang milik mendiang kedua orang tua Aurora.
"Dimana kalian meletakkan barang-barang kedua orang tua ku...", tanya Aurora tiba-tiba kepada Angel dan Mama nya, namun keduanya masih sibuk dengan telpon masing-masing, "...kalian tidak membuang nya kan...", lanjutnya.
Namun lagi-lagi keduanya tidak menggubris sedikitpun perkara Aurora, tentu saja hal itu membuat Aurora kesal, lalu kemudian menarik lengan Angel dengan kencang.
"Lepaskan...apa kau tidak lihat aku sedang sibuk...", balas Angel tak kalah kesal.
"Aku tidak peduli...Jawab saja...", jawab Aurora santai.
"Aku tidak tau", jawab Angel tidak peduli, Aurora pun beralih ke Natasya.
"Bibi...dimana barang-barang orang tua ku...", tanya Aurora masih bersabar.
"Aku juga tidak tau...", jawaban nya membuat Aurora marah.
"Tidak mungkin Bibi tidak tau...katakan padaku dimana..."
__ADS_1
"Sudah di buang...", jawabnya santai membuat Aurora naik pitam.
"Bibi jangan bercanda...katakan dimana...", ujar Aurora memaksa.
"Aku tidak peduli...apa kau tidak lihat aku sedang sibuk...", pekik Natasya marah karena tak ada yang menjawab panggilannya, di tambah dengan pertanyaan Aurora, namun itu semakin membuat amarah Aurora memuncak.
"Tidak perlu menghubunginya...", Aurora merebut ponsel Natasya lalu membanting nya "pyar", menghantam lantai hingga suaranya menggema di seluruh rumah "... tidak perlu menghubungi Paman Joshua...karena dia juga sudah di penjara...apa kau puas mendengar nya huh...", teriak Aurora marah.
Ucapan Aurora membuat kedua wanita itu membulatkan matanya terkejut, kemudian terlihat mereka berdua sama-sama bergetar ketakutan, hingga beberapa menit mereka dalam keheningan.
"Ada apa Ra...", suara seseorang yang tiba-tiba masuk mengalihkan perhatian mereka. "...apa kamu terluka...", tanyanya melihat seluruh tubuh Aurora.
"Aku tidak apa-apa Lio...", jawab Aurora datar, namun kedua orang di depannya tertegun menatap ke arah mereka.
Aprilio sebenarnya ikut datang, hanya saja Aurora memintanya untuk menunggu di mobil, jadi mau tidak mau Aprilio menurutinya, dan sebagai gantinya, Aprilio meminta salah satu anak buahnya yang mengikuti Aurora, untuk menyalakan alat penyadap, agar Aprilio tau situasi dan apa yang terjadi di dalam.
Awalnya, Aprilio begitu terkesan dengan cara Aurora bersikap, bahkan menurutnya sudah sedikit mirip dengan nya, tenang dan dingin, sampai akhirnya Aurora terdengar bertanya tentang barang-barang orang tuanya, Aprilio yakini jika Aurora akan sangat emosional, dan benar saja saat terdengar suara sesuatu yang pecah, tanpa pikir panjang Aprilio pun bergegas masuk.
"Sudah...jangan terlalu memaksakan diri...", masih memeriksa badan Aurora, "Sudah aku bilang...biar anak buah ku saja yang mengurus mereka...kamu tidak perlu berurusan dengan mereka secara langsung seperti ini...", lanjutnya menatap kedua orang wanita disana dengan tajam.
"Aku tau Lio...aku hanya ingin tau dimana barang-barang orang tua ku...dan mereka tidak menjawabnya...makanya aku kesal...", ujarnya menjelaskan, Aprilio pun tersenyum, lalu membawa Aurora ke dalam pelukannya.
"Oke oke...biar aku minta anak buah ku menggeledah seluruh rumah ini... bagaimana menurutmu...", tanya Aprilio lembut, Aurora pun mengangguk antusias.
Setelah itu Aprilio melepaskan pelukannya dan beranjak ke anak buahnya untuk memberi perintah, sedangkan Aurora kembali menatap kedua wanita itu.
"Kenapa...bingung...", tanya Aurora, keduanya terlihat syok, jadi hanya mengangguk menjawabnya, "...kalian taukan siapa dia...", keduanya mengangguk lagi, "...ingin tau apa hubungan ku dengan nya...", lagi-lagi keduanya hanya mengangguk, membuat Aurora menyeringai, "...dia Aprilio Victory...suami dari Aurora Moon...", lanjutnya bangga.
**Bersambung
__ADS_1
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**