
Felix sedang sibuk membahas pekerjaan dengan Nicholas, namun tangannya tidak sengaja menjatuhkan gelas kopi miliknya yang ingin dia letakkan kembali ke meja setelah meminum nya, untungnya tidak mengenai kakinya.
"hey hati-hati...", ujar Nicholas terkejut.
"maaf...aku tidak sengaja...", Nicholas segera berjalan ke arah meja nya menghubungi OB untuk membersihkannya.
"kau tidak apa-apa...", tanyanya kembali ke sofa tempat nya duduk tadi.
"iya...aku tidak apa-apa...", jawab Felix.
"apa ada sesuatu yang menggangu mu...", tanya Nicholas sedikit khawatir melihat Felix yang gelisah.
"entahlah... perasaan ku tiba-tiba tidak enak...", ujar Felix menghela nafas.
"apa-
Nicholas menghentikan ucapannya saat pintu ruangan nya di ketuk, setelah mengijinkannya, seorang OB masuk membawa segelas air putih seperti permintaan Nicholas, setelah meletakkannya, OB segera membersihkan pecahan gelas dan cairan kopi yang mengotori lantai ruangan itu.
"Minumlah...", ujar Nicholas menggeser segelas air putih tadi kedepan Felix, setelah mengangguk mengerti, Felix segera meminumnya hingga tersisa setengahnya.
Namun kemudian, ponsel Felix berdering membuatnya bergegas meletakkan kembali gelas yang dia pegang, dan langsung mengambil ponselnya yang berada di sofa. sejenak mengernyit heran menatap ponselnya, karena nomor baru yang dia tidak kenal, tapi Felix tetap menjawabnya.
"halo"
"Halo ini Felix ya...", suara seorang perempuan semakin membuat Felix mengernyit heran.
"iya saya Felix...ini siapa ya...", Felix mengangkat bahunya saat Nicholas menatap dan memberi isyarat bertanya siapa?
"ini aku Melinda..."
"Melinda...tumben kau menghubungi ku ada apa...", Nicholas yang mendengarnya pun tersenyum menggoda nya.
"Antonio di culik...guru nya tadi menghubungi Aurora...", Felix refleks berdiri dari duduknya, membuat Nicholas menatapnya bingung.
"apa kau bilang... Antonio di culik... bagaimana bisa...", sekarang giliran Nicholas yang berdiri saat mendengar perkataan Felix.
"aku tidak tau... Aurora pikir orang suruhan Aprilio...ternyata bukan...", jelas Melinda singkat.
"Baiklah...aku akan kesana...", Felix menutup panggilan sepihak dan bergegas pergi, di ikuti Nicholas dari belakang.
"Felix...aku akan memberitahu Laura dan Aprilio...kau pergilah lebih dulu...", Felix mengangguk mengerti dan berlari ke arah lift.
Nicholas menghentikan langkahnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Laura dan Aprilio.
__ADS_1
Disisi lain
Aprilio sudah sampai di sekolah Antonio bersama beberapa orang, ini memang bukan sekolah elit, namun cukup layak untuk anak-anak seusia Antonio untuk belajar dan bermain.
"periksa sekeliling...dan semua CCTV...", perintah Aprilio langsung setelah turun dari mobil nya.
"permisi...eoh...bukankah anda tuan Aprilio Victory...ada kepentingan apa anda kemari...apa ada yang bisa saya bantu tuan...", seorang security menghampiri Aprilio dengan ramah, tentu saja dia mengenali wajah Aprilio yang sering muncul di TV maupun majalah, apalagi setelah masalah kemarin.
"saya ingin bertemu dengan guru putra saya... Antonio...", jawab Aprilio dengan suara beratnya.
"oh Antonio...apa anak yang tadi di jemput dengan mobil sport itu ya...karena setau saya...hanya anak itu yang bernama Antonio...apa dia anak anda tuan...", security itu berbicara panjang lebar.
"mobil sport nya seperti apa...model...warna...atau plat nomor nya...trus ciri-ciri orang nya seperti apa...", tanya Aprilio beruntun, membuat security itu kebingungan.
"eoh...em saya tidak tau modelnya apa...tapi warna nya tadi biru...gelap...saya juga tidak melihat plat nomor nya...",
"lalu ciri-ciri orang nya...", potong Aprilio lebih dulu.
"laki-laki muda... usianya sekitar 20an... seperti anak kuliahan... terlihat dari caranya berpakaian...dan saya sempat mendengar Antonio memanggil nya kakak...itu berarti usianya masih muda sekali kan...", penjelasan security itu membuat Aprilio teringat sesuatu dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Namun belum sempat melakukannya, ponsel Aprilio lebih dulu berdering
"kebetulan kau menelpon...cepat kirimkan foto Kelvin pada ku...", ujar Aprilio setelah menjawab panggilan yang ternyata dari Nicholas, orang yang juga ini dia hubungi.
"aku tau...sekarang aku ada di sekolah Antonio...jadi cepat kirim foto nya pada ku...dan dapatkan informasi tentang nya sekarang juga... cepat...", Aprilio memutuskan panggilan secara sepihak, bersama dengan beberapa pesan masuk dari anak buahnya yang berkeliling tadi mencari bukti CCTV.
"apa ini orangnya...", Aprilio langsung menunjukkan foto yang baru saja di kirimkan Nicholas.
"benar tuan...dia orang nya...", jawab security itu yakin.
"baiklah... sekarang tolong antar kan saya ke ruangan guru..."
"baik...mari tuan saya antar kan..."
Di sebuah gudang terbengkalai
"sudah ku duga...kakak ternyata bukan orang baik...", ujar Antonio pada pemuda yang membawa nya tadi.
"oh benarkah...lalu kenapa kau percaya dan mau saja ikut dengan ku...", tanya Kelvin terkekeh.
"aku hanya ingin menguji seseorang saja...", jawab Antonio santai.
"menguji seseorang...siapa...", tanya Kelvin mulai penasaran.
__ADS_1
"nanti Kakak juga akan tau...", Antonio mengangkat bahunya cuek, membuat Kelvin membulatkan matanya.
"hey... sepertinya kau tidak takut sama sekali ya...", ujarnya berjongkok di depan Antonio yang sengaja mereka dudukkan di sebuah kursi kayu tinggi.
"aku yakin kalian tidak akan menyakiti ku...kalian hanya ingin memancing Papa ku kemari kan...", jelas Antonio pintar.
"wah wah... tidak salah kau adalah keturunan keluarga Victory yang terkenal dengan kecerdasan otaknya itu...", Kelvin berujar dengan berdiri dan bertepuk tangan. "...tapi... apa kau tidak takut kalau kami akan melukai...atau bahkan membunuh Papa mu itu Hm...", lanjutnya menepuk kepala Antonio pelan.
"seperti kata mu...Papa ku itu cerdas...jadi...lihat saja nanti...", jawab Antonio membuat Kelvin ragu.
"terserah kau saja...", ujarnya menutupi keraguannya. "kalian jaga dia...jangan sampai kabur...aku akan menghubungi bos...", lanjutnya pada beberapa orang yang berada disana.
Di kafe
Sejak mendapatkan kabar kalau Antonio di culik, Melinda memilih untuk menutup kafe, bahkan menggratiskan biaya makanan para pelanggan yang terpaksa di minta untuk pergi, bahkan sebelum makanan mereka habis.
Aurora duduk dengan meremas tangannya cemas, air matanya terus saja mengalir, bahkan tanpa Aurora sadari, pikirannya penuh dengan pikiran buruk, di sebelah kanan kiri nya ada Melinda dan Laura yang terus menenangkan nya sejak tadi.
Jujur saja mereka sendiri juga khawatir pada Antonio, apalagi Aurora yang ibu kandungnya, bahkan ini adalah kejadian pertama yang di alami Aurora, mereka takut Aurora akan sakit lagi.
"Aku akan menghubungi Aprilio lagi...", ujar Aurora mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Aprilio, namun hingga beberapa kali, tidak ada jawaban sama sekali.
"tidak di jawab...", ujarnya frustasi. "...tolong hubungi Felix atau Nicholas...tanyakan apa mereka sudah menemukan Nio...", ujarnya memohon.
Keduanya mengangguk mengerti, Laura segera menghubungi Nicholas, namun hingga berkali-kali tak ada jawaban, begitupun dengan Melinda yang sedang menghubungi Felix juga sama, panggilan nya tak di jawab.
"Aku tidak bisa diam saja...aku harus mencari Antonio...", Aurora berdiri dengan cepat dan ingin pergi, membuat Laura dan Melinda tidak sempat mencegahnya.
"Ra...kau mau kemana...", teriak Melinda memanggil dan langsung berlari mengikuti Laura yang berlari lebih dulu.
Saat keluar dari kafe, Laura berhasil menyusul dan menarik tangan Aurora.
"Ra...jangan gegabah...kalau terjadi sesuatu juga pada mu bagaimana...", ujar Laura mencoba memberi pengertian.
"kalian mau membantu ku atau tidak...kalau tidak mau... aku akan pergi sendiri...", Aurora melepas tangan Laura yang sedang memegang tangan nya, dan berlari ke arah jalan raya begitu saja.
"Aurora"
bugh
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**