
6 tahun kemudian
Di sebuah desa kecil yang berjarak beberapa kilo meter dari kota dan membutuhkan beberapa jam perjalanan menuju ke sana. Namun suasananya begitu damai dan sejuk, sebagian besar penduduk nya adalah petani, tapi sebagian lagi yang tidak memiliki lahan, hanya bisa menjadi pedagang ataupun pekerja serabutan, kebanyakan penduduk nya adalah orang tua dan anak-anak kecil, karena anak-anak muda memilih untuk bekerja merantau ke kota.
Namun, di sebuah kedai kecil penjual makanan, seorang wanita muda dan cantik tengah bersih-bersih dan akan segera menutup kedai nya, sebenarnya makanan masih tersisa, tapi dia harus cepat pulang untuk membuat makan siang untuk putra tercintanya. Setelah membungkus sisa makan, suara pintu kedai terdengar terbuka, wanita mengernyit bingung, karena dia merasa sudah menempelkan tulisan tutup di pintu kedai.
“Maaf...kedai kami sudah tutup” teriaknya ramah sambil berjalan ke arah pintu, namun kurang beberapa langkah lagi, wanita itu menghentikan langkah nya saat melihat ternyata beberapa laki-laki yang memasuki kedai nya, wanita itu ketakutan, tapi menyembunyikannya dan berusaha bersikap tenang.
“halo Nyonya Yang...sudah tutup ya...sayang sekali...padahal aku membawa banyak teman untuk mencicipi makananmu...apa kau akan menolak nya...bukankah kau membutuhkan uang...” ucap seorang laki-laki bertubuh gemuk yang berdiri di paling depan.
“maaf tuan...makanannya sudah habis... saya juga harus cepat pulang...” jawab wanita yang di panggil nyonya Yang tadi.
“oh iya saya lupa...biasanya jam segini kau akan memberi makan anak dan perempuan tua yang sakit-sakit an itu ya...” sarkas laki-laki itu merendahkan.
“jaga bicara anda tuan...kalau anda hanya ingin mencari masalah disini... lebih baik anda pergi... sebelum suami saya datang...” ujar wanita itu kesal.
“suami mu...suami mu yang miskin itu...si Felix...ck... aku yakin...kau dan Felix itu paling hanya suami istri palsu...bagaimana mungkin Felix yang miskin itu bisa mendapatkan istri yang cantik seperti mu...” wanita menegang mendengar ucapan laki-laki sombong itu, namun cepat-cepat mengubah ekspresi nya setenang mungkin saat laki-laki itu berjalan semakin dekat ke arahnya. “bagaimana kalau kau tinggalkan Felix... dan menikahlah dengan ku...aku akan berikan apapun yang kau mau... dan kau tidak perlu susah payah bekerja lagi...huh” lanjutnya Angkuh.
“tuan Hordon yang terhormat... saya tidak tertarik dengan harta... atau apapun yang anda miliki...” balas wanita itu kesal.
“benarkah... sekalipun saya akan memberikanmu sebuah rumah atau toko sekalipun nona Aurora yang cantik...” ujarnya sambil tangannya mencolek lengan Aurora, tentu saja Aurora langsung refleks memundurkan langkahnya dan langsung melirik tajam laki-laki bernama Hordon itu.
Disisi lain
Seorang anak kecil tengah berada di sebuah kamar tidur berukuran kecil dengan seorang wanita paruh baya yang tengah terbaring terlelap di tempat tidur, anak kecil itu sedang memegang sebuah gadget di tangannya, matanya sedang serius menatap layar ponsel itu yang tengah menunjukkan seorang wanita dan beberapa laki-laki.
“ck...paman-paman jelek itu mengganggu Mama ku lagi...” gerutunya kesal, “aku tidak bisa diam saja...tapi- “ anak kecil itu menjeda ucapannya dan menatap wanita paruh baya itu dengan sedih. “ aku tidak mungkin meninggalkan Nenek sendirian...lebih baik aku menghubungi Papa saja... mungkin Papa berada tidak jauh dari sana...” ujar kemudian menghubungi seseorang dari ponselnya.
Kembali ke Kedai
“tuan jangan macam-macam ya...atau saya akan teriak...” ancaman Aurora tidak membuat laki-laki itu takut, tapi justru tertawa terbahak-bahak.
“teriak saja...kita lihat...siapa yang akan menolong mu...” ujarnya tertawa angkuh di ikuti dengan laki-laki yang lain.
“jangan jual mahal...” lanjutnya semakin mendekat ke arah Aurora. Sedangkan Aurora yang ketakutan, semakin memundurkan langkah agar semakin menjauh dari laki-laki tersebut, namun akhirnya tubuhnya terhenti karena sudah terbatas dinding. Melihat itu, tentu saja membuat laki-laki gemuk itu semakin tertawa, dan di saat tangan ingin menyentuh Aurora...
BRAAAKKKK
Pintu kedai di buka kencang oleh seseorang, membuat semua yang ada disana beralih menatap ke arah pintu, semua nya menatap terkejut, berbeda dengan Aurora yang menghela nafas lega.
“felix”
“apa yang kalian lakukan pada istri ku...” teriak seorang laki-laki tampan bertubuh tinggi dan dengan cepat berlari kemudian menendang laki-laki kurang ajar yang menggoda Aurora tadi. “kau berani mengganggu istri ku...apa kau masih kurang memiliki 3 istri di rumah mu itu...” geram nya memukul rahang kanan laki-laki bernama Hordon tersebut, membuatnya jatuh tersungkur.
“kurang ajar...berani kau memukul ku...” ujar Hordon dengan mengusap sudut bibirnya yang berdarah, “kenapa kalian diam saja...bantu aku menghajar laki-laki miskin ini...” teriaknya marah pada orang -orang yang bersama sejak tadi.
Mereka terlihat saling memandang untuk sejenak, ragu-ragu tapi juga takut, karena Hordon adalah orang paling kaya di desa ini, bekerja sebagai rentenir, memberi pinjaman dengan bunga yang tinggi, hampir semua penduduk desa memiliki hutang padanya, jika tidak mampu membayar, dengan kejam mereka akan mengambil barang atau bahkan mengusir pemilik hutang dari rumahnya yang di jadikan jaminan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat akhirnya menyerang felix bersama-sama, namun bukannya takut, Felix justru menyeringai dan langsung menghajar mereka secara bergantian tanpa ragu-ragu, dalam hitungan beberapa menit 5orang sudah jatuh tergeletak di lantai.
“pergi kalian dari sini...atau aku akan membunuh kalian semua” teriak felix marah, membuat semua langsung lari terbirit-birit keluar dari kedai itu. Setelah itu, Felix menghampiri Aurora yang masih terlihat syok. “kau tidak apa-apa...apa kau terluka...apa mereka menyakiti mu...” tanyanya beruntun dan khawatir memegang kedua bahu Aurora.
“a-aku tidak apa-apa...” jawab Aurora terbata, namun bukan karena ketakutan, tapi karena canggung, setiap kali bersama Felix ada rasa berhati-hati, seperti Aurora takut menyakiti seseorang, tapi entah siapa.
Setelah kejadian 6tahun yang lalu itu, Aurora menjalani kehidupan baru walaupun dengan nama yang sama, namun berbeda dari kehidupannya dulu yang hanya seorang gadis yang sibuk belajar dan mencari uang, sekarang Aurora menjadi seorang istri, walaupun hanya di depan orang lain, juga menjadi seorang menantu dari wanita paruh baya yang tinggal di desa sendirian dan hanya mengandalkan uang kiriman dari anaknya, dan menjadi seorang ibu dari anak yang bahkan Aurora tidak ingat siapa bapaknya.
Banyak pekerjaan yang harus dia lakukan, tapi Aurora tidak pernah mengeluh sedikitpun, karena pertolongan yang di berikan Felix dan ibunya tidak bisa di balas dengan harga berapapun. Mereka memberikan kehidupan baru untuk Aurora, tidak, bukan hanya Aurora, tapi juga anaknya yang bahkan belum lahir saat itu. Tempat berteduh, makanan minuman setiap hari, kasih sayang, bahkan biaya yang tidak bisa di perhitungkan lagi.
Semoga suatu hari nanti, Aurora mampu membalas kebaikan mereka, mungkin jika Aurora tidak mampu, anak nya akan mampu mewujudkannya, walaupun butuh waktu seumur hidup.
“Mama...Papa...” teriak anak kecil saat melihat Aurora dan Felix masuk ke dalam rumah, “Mama tidak apa-apa kan...mereka tidak menyakiti Mama kan...” tanyanya beruntun khawatir, Aurora tersenyum kemudian membungkuk lalu memeluknya.
“Mama tidak apa-apa sayang...” jawab Aurora setelah memeluk anak itu. “apa tadi Nio yang menghubungi Papa...” anak itu mengangguk antusias membuat Aurora tersenyum. “terima kasih ya sayang...” ujarnya tulus dengan melepas pelukannya.
“iya Ma...kan Nio selalu mengirim Bee untuk menjaga Mama...” ucapnya yakin. “karena Nio tadi sedang menjaga nenek...Nio tidak bisa datang membantu Mama...jadi Nio menghubungi Papa untuk membantu Mama...” jelas anak itu pintar.
“Bee...kamera berbentuk lebah itu...” sela Felix antusias, membuat Antonio pun juga ikut mengangguk antusias.
“itu bagus sayang...terima kasih ya untuk bantuannya... dan apapun yang terjadi...jangan pernah meninggalkan nenek sendirian...mengerti” ujar Aurora menasehati.
“iya Ma...Nio tau...tapi Nio kesal tidak bisa melindungi Mama...” ujarnya cemberut.
“hey Jagoan...kenapa kau kesal...kan ada Papa...” sela Felix ikut membungkuk bersama mereka.
“iya iya...Mama mengerti...tapi kan selama ini Nio sudah menjaga Mama dan Nenek dengan baik...” Ujar Aurora lembut.
“sepertinya Nio harus membuat sesuatu yang bisa di jadikan senjata oleh Mama di saat terdesak...” ucapnya sambil berpikir, “yang kecil...tapi setidaknya bisa melukai seseorang...” lanjutnya santai.
“benarkah...coba beritahu Papa...” Aurora yang ingin marah saat mendengar kata melukai tidak jadi mengomel karena di dahului Felix yang malah menatap Antonio dengan bangga.
Antonio, putra Aurora berusia 5tahun, Berambut hitam legam dengan mata coklat yang tajam. Bukankah terlihat mirip dengan seseorang, laki-laki yang berada di foto, foto yang sudah lama Aurora simpan dan tak pernah Aurora lihat lagi sejak Antonio lahir. Bukan hanya wajah yang mirip, nyata nya sifat dan otak pintarnya benar-benar membuat Antonio mirip sekali dengan Aprilio, hanya saja Aurora tidak ingat itu.
Beberapa jam kemudian
Aurora sedang di kamar, dan tengah menyuapi bubur buatannya untuk ibu Felix yang memang sejak beberapa minggu terakhir ini sedang sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Itu juga yang membuat Felix harus menempuh perjalanan beberapa jam untuk pulang pergi ke kota hampir setiap hari. Aurora juga begitu sabar merawat dan menyiapkan semuanya untuk wanita yang sudah di anggap seperti ibu kandungnya sendiri itu, tanpa mengeluh sedikitpun.
Sedangkan di ruangan lain, Antonio sedang bermain dengan Felix, Antonio bukan anak yang selalu merengek meminta mainan, tapi Felix selalu membelikannya tanpa perlu di minta, bahkan apapun yang di minta Antonio, apalagi saat Antonio meminta barang-barang elektronik bekas yang bisa dia perbaiki atau di ubah menjadi barang yang ingin dia buat, salah satu nya adalah kamera semacam drone berbentuk lebah untuk mengawasi Aurora di manapun, dengan pengendali jarak jauh.
Ketika mereka fokus dengan apa yang mereka lakukan, tiba-tiba suara berisik dari luar mengganggu kegiatan mereka.
TOKTOKTOK
TOKTOKTOK
BRAKBRAKBRAK
__ADS_1
Suara ketukan pintu yang awalnya biasa, menjadi tiba-tiba brutal tak sabaran, membuat Aurora segera berlari keluar dari kamar lalu memeluk Antonio, sedangkan Felix berlari ke arah pintu rumah dan membukanya.
Setelah Felix membuka pintu, terlihat Hordon bersama beberapa orang laki-laki tinggi besar dan menyeramkan. Felix berpaling ke belakang menatap Aurora yang tengah menggandeng Antonio tidak jauh dari nya. Mereka saling mengisyaratkan dengan mata jika apa yang mereka khawatirkan tadi akan terjadi. Terlihat juga beberapa tetangga berdatangan di seberang jalan.
“tuan Hordon...ada yang bisa saya bantu...” tanya Felix bersikap tenang.
“oh sepertinya kau sudah lupa dengan apa yang kau lakukan pada ku tadi siang...” jawabnya angkuh.
“saya ingat...tapi anda yang lebih dulu ingin melecehkan istri saya... jadi sebagai suami...saya hanya ingin melindungi istri saya...apa itu salah...” jelas Felix tegas.
“apa kau bilang...aku ingin melecehkan istrimu...untuk apa...aku sudah memiliki 3 istri cantik-cantik...jadi untuk apa aku melakukannya...istri mu bahkan tidak seksi sama sekali...” ujarnya merendahkan.
“jaga ucapan anda tuan...saya punya bukti...” ujar Felix mulai kesal.
“bukti...bukti apa yang kau punya...” balas nya angkuh.
“putra saya memiliki video nya...saat anda datang ke kedai istri saya bersama beberapa orang lainnya...” ujar Felix sambil menunjuk Antonio.
“ah i-itu...a-aku tidak peduli masalah itu...aku datang kemari untuk menagih hutang ibu mu...” elaknya ketakutan.
“tapi ini belum jatuh tempo tuan Hordon...masih beberapa hari lagi...” tolak Felix.
“aku tidak peduli...karena kau sudah menyinggung ku...kau harus melunasinya sekarang juga...atau kau serahkan rumah mu pada ku...” ujar Hordon angkuh.
“saya tidak mau...saya sudah membayar tiap bulan pada anda...dan hutang ibu saya pasti hanya tinggal sedikit... jadi itu tidak sebanding dengan harga rumah ini...” tolak Felix lagi dengan tegas.
“kalau begitu bayar sekarang...aku mau 20 juta sekarang juga...” mintanya tegas.
“dari mana saya mendapatkan uang sebanyak itu sekarang...” tanya Felix tak percaya dengan perkataan laki-laki angkuh tersebut.
“itu bukan urusanku...kalau begitu...pegangi dia dan hajar sampai dia sadar bagaimana akibatnya sudah menyinggung tuan Hordon...dasar orang miskin...” ujar nya kemudian memberi kode pada beberapa laki-laki di belakangnya yang ternyata adalah bodyguard nya. Ke 4 bodyguard itu langsung memegangi Felix dan yang satu lagi bertugas memukuli.
“ugh” Felix menerima pukulan pertama di perutnya.
“Hentikan...jangan pukuli suami saya...” teriak Aurora berlari ke arah Felix.
“Berhenti Ra...tetap disana...jaga Antonio...akh” cegah Felix lebih dulu agar Aurora tidak mendekat.
“Tapi-
“Tolong...dengarkan aku...akh sshh” mendengar Felix yang memohon, membuat Aurora terpaksa kembali bersama Antonio dan memeluk nya agar tidak melihat apa yang terjadi.
BRUUKK
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**