Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 21.2


__ADS_3

Melinda membulat kan matanya saat mendongak melihat Felix, begitupun dengan Felix yang tertegun saat menundukkan kepalanya, dengan satu tangan Felix yang menumpu di dinding belakang Melinda, sedangkan sahabat Aurora itu hanya melipat kedua tangannya di depan dada.


Wajah mereka saling berhadapan, bahkan hanya berjarak beberapa senti, mereka sama-sama terdiam beberapa saat dengan pandangan yang dia dapatkan, menyelami mata satu sama lain.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka sama-sama tersadar, dan Melinda segera menunduk mengalihkan pandangan, begitupun dengan dengan Felix yang langsung berpaling ke arah lain.


tring


Pintu lift terbuka dan beberapa orang keluar dari lift menuju tujuan masing-masing, sehingga setelah itu tidak ada desak-desakan lagi, dan membuat Felix memundurkan tubuhnya dengan cepat.


Disisi lain


toktok


"Clara...buka pintunya...ini Papa...", mendengar suara sang Papa, Clara buru-buru membuka pintu kamarnya.


"Pa...", rengeknya langsung memeluk sang Papa setelah membuka pintu kamarnya, "...Papa lihat beritanya kan...aku tidak terima Pa...aku tidak terima kalau Kak Aprilio bersama dengan perempuan j**ang itu...", ujarnya di pelukan Tuan Chen.


"Papa tau...tapi ingatlah jangan gegabah...kita sudah di awasi Nicholas karena apa yang kau lakukan waktu itu...jadi sekarang kita harus lebih berhati-hati...", ujar Tuan Chen lembut, tapi membuat Clara melepaskan pelukannya dan menatap Papa nya tak percaya.


"Jadi...maksud Papa...aku harus diam saja melihat mereka begitu...tidak...aku tidak bisa...", ujarnya kesal dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Sebentar saja sayang...kita harus susun rencana dengan baik...agar mereka tidak bisa menemukan cela sedikitpun...agar kita bisa menghancurkan mereka hingga tidak bisa bangkit lagi...", Tuan Chen menyeringai dengan ucapannya. "...kau mengerti kan maksud Papa...", lanjutnya tegas.


Clara mau tak mau mengangguk mendengar ucapan sang Papa, namun tentu saja sebenarnya dia masih tidak terima, jika dia diam saja, maka hubungan Aprilio dan Aurora akan semakin jauh, apalagi jika Aprilio sadar nanti, kemungkinan dia akan langsung menikahi Aurora.


"Baiklah...Papa pergi ke kantor dulu...", pamitnya kemudian beranjak dari sana setelah mendapat persetujuan dari Clara.


"Maaf Papa...Clara tidak bisa menunggu lagi... Clara sudah menunggu selama 6tahun ini... agar Aprilio membuka hati untuk Clara...tapi ternyata perasaannya masih sama untuk perempuan j**lang itu...", gumamnya setelah sang Papa menghilang di balik pintu.


Perusahaan A


Nicholas baru saja di kantornya dan langsung berkutat dengan komputer miliknya, namun bukan untuk mengerjakan pekerjaan, melainkan meretas beberapa CCTV yang berada di sekeliling rumah sakit tempat Aprilio di rawat, untuk mengawasi gerak-gerik yang mencurigakan.


Namun sepertinya Nicholas tidak bisa mengawasi masalah sendiri langsung, karena dia sendiri harus pergi perusahaan Victory untuk membantu Tuan Dion mengatasi masalah di sana.


"Apa aku minta tolong pada Antonio saja ya... karena aku tidak bisa mempercayakan masalah pada orang lain...takutnya orang itu adalah mata-mata yang di kirim Clara atau Tuan Chen...", gumamnya sendiri.


"Coba...aku hubungi dulu...", lanjutnya mengambil ponsel untuk menghubungi Antonio.


*Tut Tut

__ADS_1


"Halo...uncle*" terdengar suara ceria Antonio dari seberang sana.


"Halo Nio...apa uncle mengganggu...", tanya Nicholas lembut.


"tidak uncle...Nio baru saja masuk kamar setelah selesai sarapan dengan Kakek...ada apa uncle...apa ada yang Nio bisa bantu...", tanya bocah 5tahun dewasa.


"Ya...uncle butuh bantuan Nio sedikit...apa Nio tidak keberatan membantu uncle...", tanya Nicholas.


"tentu saja tidak uncle...katakan saja...apa yang bisa Nio bantu...", ujar Nio lagi bijak seperti orang dewasa.


"Baiklah...uncle berterima kasih sebelumnya... nanti uncle akan mengirimkan kodenya...dan Nio hanya perlu mengawasi nya...kalau ada yang mencurigakan nanti...Nio hubungan uncle saja... bagaimana...", jelas Nicholas panjang lebar.


"oh...apa uncle meretas CCTV...dan meminta ku untuk mengawasi seseorang...", Nicholas tersenyum mendengar ucapan Antonio yang pintar.


"Benar...Keponakan uncle cerdas sekali...", ujar Nicholas bangga.


"Terima Kasih uncle...", ujar Nio berbinar bahagia. "...baiklah...uncle kirimkan saja kodenya sekarang...", lanjutnya.


"Oke...uncle sungguh-sungguh berterima kasih karena Nio bisa membantu...maaf merepotkan... karena hari ini uncle harus membantu di perusahaan Papa mu...", lanjut Nicholas menjelaskan.


"Iya...Nio tau uncle...maka nya...karena uncle membantu Papa...jadi Nio juga mau membantu uncle...", ucapan Antonio benar-benar bijak seperti orang dewasa.


"Astaga...keponakan uncle ini ya...", Nicholas tidak bisa berkata-kata lagi untuk menjawab ucapan Antonio.


"Baiklah baiklah...uncle akan melakukan yang terbaik untuk membantu perusahaan Papa mu...jadi Nio tidak perlu khawatir lagi...", ujar Nicholas terkekeh. "... kalau begitu uncle tutup dulu ya...dan uncle akan segera kirimkan kodenya...", lanjutnya.


"oke uncle..."


Rumah Sakit


Aurora menatap bingung bergantian 2orang yang berada di samping dan depan nya, mereka terlihat aneh di mata Aurora, seperti orang yang canggung satu sama lain.


"Ada apa dengan kalian berdua...", tanya Aurora akhirnya setelah sekian lama dalam suasana hening.


"Apa...", tanya keduanya hampir bersamaan, dan refleks saling menatap saat menyadari nya.


"Kalian berdua terlihat aneh...", ujar Aurora mengernyit menatap keduanya.


"Aneh...", tanya ulang keduanya juga hampir bersamaan, membuat Aurora semakin menatap curiga keduanya.


"Entahlah...", Aurora mengangkat kedua bahunya sejenak. "...kalian terlihat seperti...habis tertangkap basah melakukan sesuatu...", lanjutnya santai membuat keduanya membulatkan matanya terkejut.

__ADS_1


"Apa", pekik keduanya, gantian membuat Aurora membulatkan matanya


"ssttt...jangan berisik...ini rumah sakit...", ujar Aurora kesal, membuat keduanya refleks menutup mulut mereka masing-masing.


"Maaf", bisik keduanya hampir bersamaan lagi.


"Kalau kalian berisik...pulang saja sana...", usir Aurora main-main.


"Kau tega sekali mengusir ku Ra...", ujar Melinda cemberut, "... Baiklah... kalau begitu aku berangkat ke kantor saja...", lanjutnya beranjak pergi dengan kesal.


"Oke... hati-hati di jalan ya...", ujar Aurora santai, membuat Melinda menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Aurora dengan memanyunkan bibirnya. "...oh Lix... kau kan juga harus ke kantor...jadi tolong sekalian antar Melinda ya...", lanjutnya beralih ke Felix membuat Melinda semakin cemberut.


"Tidak perlu...aku bawa mobil sendiri...", ujar Melinda kesal dan langsung pergi dari sana, membuat Aurora dan Felix terkekeh.


"Kau ini senang sekali menggoda nya...", ujar Felix saat Melinda sudah pergi.


"Habis ekspresi nya lucu banget...", jawab Aurora terkekeh.


"Ya sudah...aku berangkat ke kantor dulu...", ujar Felix yang di angguki Aurora. "...ingat...kalau butuh apa-apa hubungi aku...", lanjutnya yang lagi-lagi hanya mendapat anggukan dari Aurora.


Aurora beralih menatap Aprilio yang masih setia memejamkan matanya setelah sosok Felix menghilangkan di balik pintu.


Aurora perlahan beranjak dari sofa dan berjalan


mendekat ke arah Aprilio, beralih ke kursi yang berada di samping tempat Aprilio berbaring, mengambil tangan Aprilio untuk di genggam dengan kedua tangannya, Aurora bahkan sesekali mengecup punggung tangan Aprilio dengan lembut.


"Kapan Kau bangun...kau tau...aku sangat merindukanmu...", gumam Aurora. "...apa kau tidak merindukan ku... banyak hal yang ingin aku katakan mu...bangunlah Lio...aku mohon...", lanjutnya bergetar menahan air matanya, Aurora meletakkan kembali tangan Aprilio, namun tak melepaskan nya, Aurora menyandarkan keningnya di atas punggung tangan Aprilio dengan terisak.


"A-ku mencintaimu Lio...sejak dulu...A-ku ingin hidup bersama mu selamanya...A-ku tidak ingin berpisah lagi dengan mu...A-ku mohon bangunlah...", ujar Aurora terbata-bata dengan terisak.


"Bukan hanya aku yang menunggu mu...Nio... Papa mu... Nicholas dan yang lain juga...apa kau tidak ingin bertemu dengan mu... bangunlah... berusahalah... berjuanglah untuk kembali pada ku...pada kami semua...", lanjut Aurora lagi.


"Apa kau tidak ingin mendengar Nio memanggil mu Papa...Apa kau tidak ingin membangun keluarga yang bahagia bersama ku... A-ku ingin...Aku mau...Selama 6tahun ini...aku merasa seperti menunggu sesuatu yang aku sendiri tidak tau apa itu...tapi sekarang aku sudah ingat...dan apa yang aku tunggu...jadi aku tidak mau menunggu lebih lama lagi...kau mengerti...jadi bangunlah...atau aku akan menghilang lagi...", gumam Aurora panjang lebar.


...


"Lio...


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin**


__ADS_2