Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 24


__ADS_3

"Hah", Felix menghela nafas berat sesaat setelah mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi, membuat perempuan di depannya mengernyit heran menatapnya.


"Kenapa...Felix tidak suka tempat nya...", tanyanya


"Oh bukan...aku hanya merasa lega bisa keluar... karena sejak pagi pekerjaan ku banyak sekali...", jawab Felix berbohong.


"Tapi...apa tidak apa-apa kamu keluar seperti ini..." tanya perempuan itu.


Flashback on


"Jadi kamu minum 2cangkir sekaligus...", tanya Angel saat melihat dua buah cangkir di atas meja.


"O-oh tidak... satunya itu milik Daniel...aku tadi meminta bantuan Daniel untuk mengerjakan sesuatu...", elak Felix buru-buru, dan berharap jika Angel tidak sadar jika dia sedang berbohong.


"Ah begitu...kamu pasti sedang sibuk sekali ya...",


"Iya sih...tapi tidak apa-apa...", ujarnya menghampiri Angel "...jadi Angel kemari ada urusan apa...", tanyanya kemudian.


"Sebenarnya...aku hanya sedang jalan-jalan saja... dan kebetulan lewat...jadi aku mampir kemari...", jawabannya terlihat jelas hanya sebuah alasan.


"Ah begitu...sayang sekali...aku pikir Angel ini mengajak ku makan siang bersama...", ujar Felix dengan nada kecewa.


"oh itu juga...se-benarnya aku juga ingin mengajak Felix makan siang bersama...tapi...kalau Felix mau...", ujar Angel menunduk malu.


"Tentu saja aku mau...ayo kita pergi...makan di mana pun yang Angel mau...biar aku yang traktir...", ajaknya antusias.


"Eh kenapa jadi Felix yang traktir...kan Angel yang mengajak Felix...", cegahnya.


"Tidak apa-apa... sebagai ucapan terima kasih...karena Angel sudah membuat ku senang hari ini...", ujar Felix bahagia.


"Membuat mu senang...",


"Iya...", Felix mengangguk, "...sejak pagi aku stress hanya melihat berkas-berkas saja...dan akhirnya Angel datang... dan membuat perasaan senang lagi...", jelasnya membuat Angel tersipu malu.


"Felix bisa saja...",


"Jadi...aku kita pergi sekarang...", ajak Felix yang kemudian di angguki Angel dengan antusias.


Flashback off

__ADS_1


"Tidak apa-apa...aku sudah mengirim pesan pada Nicholas...lagian kan aku hanya keluar sebentar untuk makan dengan Angel...dia pasti paham kok...", jelas Felix panjang lebar menatap Angel tak berpaling sedikit pun.


"Benarkah...", Felix mengangguk yakin menjawabnya, membuat Angel tersenyum malu-malu, "...memangnya Nicholas kemana...kok kamu sendirian...", lanjutnya.


"Entahlah...sepertinya Dia sedang mengurus sesuatu yang aku tidak paham... jadi dia yang harus pergi sendiri...", jawabnya mengangkat bahunya.


"Sudah berapa lama kamu kenal dengan Nicholas...kok sepertinya kalian akrab sekali...", tanya Angel.


"Sebenarnya orang tua kami yang berteman...dan sebelumnya kami tidak akrab sama sekali...hanya sebatas kenal saja...karena sejak kecil aku tinggal di luar negeri...", jelas Felix


"lho...lalu bagaimana kamu bisa menjadi pemilik saham di perusahaan A...", tanya Angel to the points.


"Orang tua ku pindah kemari beberapa tahun yang lalu... dan bertemu kembali dengan orang tua Nicholas...mereka menawarkan saham perusahaan A...yang baru di rintis saat itu...jadi orang tua ku membelinya atas nama ku...padahal aku tidak berminat sama sekali...", jelasnya santai.


"Tidak berminat...kenapa...", tanya Angel penasaran.


"Ya... karena itu bukan bidang ku...aku lebih suka seni daripada bisnis...",


"Seni...bukankah lebih menjanjikan menjadi pebisnis...", tanya Angel terus menggali.


"Belum tentu...Seni juga bisa menjadi sukses...ya...kalau bukan karena orang tua ku meninggal...aku tidak mungkin berada di sini...dan masih sibuk di sekolah seni ku...", penjelasan Felix membuat Angel membulatkan matanya.


"Y-ya...masih kecil-kecilan sih...", ujarnya tersenyum. Felix diam-diam meruntukki kebohongan yang satu persatu keluar dari mulutnya.


"wah kamu hebat sekali ya Felix...aku tidak menyangka kamu memiliki kemampuan lain...selain bisnis...", puji Angel berbinar.


"Tidak...itu biasa saja..."


"Bagaimana biasa saja...menurutku itu luar biasa Felix...", ujar Angel antusias. "...kau tau...aku ingin sekali menjadi idol...tapi Papa ku tidak menyetujuinya...dia bilang aku harus belajar bisnis untuk meneruskan perusahaan...ck... bahkan dulu aku sangat iri pada Aurora...", jelas Angel dengan berdecak kesal di akhir kalimat.


"Aurora...", ujar Felix seolah bertanya.


"Huh...iya mendiang sepupu ku...dia meninggal 6tahun... tidak... lebih tepatnya di menghilang entah kemana...sampai saat ini...kami tidak tau bagaimana keadaannya...", jelas Angel hati-hati, agar Felix tidak curiga.


"Astaga...aku turut Prihatin ya...apa kalian sudah mencarinya...ya... setidaknya...jika dia meninggal...kalian harus tau dimana dia di makam kan...iya kan...", ujar Felix berpura-pura simpati.


"Ah i-iya...kalau masalah itu...kami sudah mencarinya... dan nihil...kami tidak menemukan jejaknya sedikitpun...jika masalah makam...kami tidak berpikir ke arah situ... karena kami yakin kalau dia masih hidup...", jelas Angel mencoba meyakinkan Felix kalau keluarga nya benar-benar peduli satu sama lain.


"Oh begitu... kalau begitu aku doakan semoga kalian bisa cepat menemukan nya...dan kalau kamu butuh bantuan apapun...jangan lupa menghubungi ku...", ujar Felix yakin, agar terlihat peduli.

__ADS_1


"I-iya...kamu tenang saja... Keluarga ku sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari keberadaan nya...", ucapan Angel kali ini hanya di tanggapi anggukan oleh Felix.


Disisi lain


"aku boleh kan...duduk disini sebentar...", tanyanya pada Daniel yang masih berdiri di depan pintu, kemudian meminum tehnya.


"Oh tentu Nona Melinda... silahkan...apa anda mau di buat kan teh lagi...atau mau di belikan sesuatu...biar saya panggilkan OB...", ujar Daniel sopan dan ramah.


"Tidak perlu...aku hanya numpang duduk sebentar...", Daniel mengangguk mengerti.


Melinda kesal, kecewa dan menyesal, kenapa tidak langsung saja mengajak Felix makan siang tadi, kalau begitu kan yang makan siang sekarang sama Felix itu Melinda, bukannya Angel.


Melinda membuka ponselnya, dan mengetik sesuatu dengan kesal, di media sosial nya, bahkan di pesan yang dia kirimkan ke Aurora dan Laura, "Menyebalkan 😡", hanya satu kata dan satu emoticon saja hingga beberapa kali, sampai dia merasa puas.


"Hah...padahal kan aku juga niatnya ingin mengajak Felix makan siang...aku terlalu banyak basa-basi sepertinya...", gerutu Melinda tanpa sadar sambil melihat ponselnya, bahkan dia tidak tau jika Daniel juga mendengarnya dan tersenyum.


Dengan bibir yang cemberut, Melinda terus menggeser layar ponselnya dengan kasar, entahlah apa yang sedang dia lakukan, namun ekspresi kesalnya tak pudar sedikit pun.


toktok


Suara ketukan pintu membuat Melinda dan Daniel refleks menatap ke arah pintu, setelah itu Daniel buru-buru berbalik menatap Melinda.


"Permisi Nona...saya tinggal dulu...kalau perlu apa-apa...bisa panggil saya...", ujarnya sopan.


"oiya...tidak apa-apa kembalilah bekerja... sebentar lagi saya juga akan pergi...", jawab Melinda ramah, Daniel pun mengangguk sejenak, kemudian beranjak keluar.


Melinda kembali sibuk dengan ponselnya, cukup kesal karena sahabat-sahabatnya belum membalas satupun pesan yang dia kirimkan tadi, ya...bukan salah Aurora dan Laura sih, mereka pasti sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, jadi belum sempat membalas, biasanya pun juga begitu, hanya saja saat ini Melinda sangat sensitif karena sedang kesal.


cklek


Pintu ruangan terdengar di buka, namun tidak membuat Melinda mengalihkan sedikitpun pandangan nya dari layar ponselnya, karena dia pikir itu Daniel yang kembali lagi untuk melihatnya, menghela nafas panjang, akhirnya Melinda memutuskan mematikan ponselnya dan menyimpannya kembali di tas.


"Baiklah...aku akan pergi sekarang... tenang saja...aku tidak ada niat buruk sedikitpun...", ujarnya sambil memasukkan ponselnya tanpa melihat seseorang yang masuk tadi.


"Sekarang kau bisa lanjut...Kau-


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin**


__ADS_2