Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 14.1


__ADS_3

Beberapa Jam Kemudian


Aurora sudah selesai melakukan beberapa tes, dan sudah di ijinkan pulang, masih di temani Laura dan Melinda, sedangkan Felix dan Antonio baru saja keluar untuk mengambil mobil di parkiran.


"Kenapa kalian tidak bertanya apa-apa...",tanya Aurora tiba-tiba, membuat kedua sahabatnya itu mengernyit saling pandang.


"bertanya masalah apa Ra...", ujar Laura balik bertanya.


"Penyebab aku pingsan...", jawaban Aurora membuat keduanya mengangguk mengerti.


"ah masalah itu...Kami tidak akan bertanya apa-apa...Kamu akan tunggu sampai kau sendiri yang bertanya...ataupun menceritakan nya...", jelas Melinda bijak.


"Jadi...kalian tau tentang berita itu...dan tentang Ap- pria itu sudah memiliki tunangan...", tanya Aurora, membuat keduanya mendekat ke Aurora yang sedang duduk di tepi bangkar. Laura duduk di samping kiri Aurora, kemudian mengambil tangan Aurora dan di usapnya halus.


"Ra...masalah berita itu kami tidak tau apa-apa...begitupun dengan Aprilio...dan untuk masalah perempuan itu...em bukannya kami tidak ingin memberitahu mu...tapi karena masalah itu...bukan kapasitas kami untuk menjelaskan nya pada mu... biarkan Aprilio yang menjelaskan setelah semuanya selesai...", jelas Laura panjang lebar, membuat Aurora menghela nafas kecewa.


"tapi Ra...tolong percayalah... Aprilio melakukan itu... untuk kebaikanmu...jadi... sabarlah...", sambung Melinda yang duduk di samping kanan Aurora dan menenangkan dengan mengusap punggung Aurora dengan lembut.


Disisi lain


Seorang gadis yang sudah berpakaian, bahkan berdandan cantik, berjalan memasuki sebuah restoran mewah dengan wajah kesal, namun saat sudah masuk ke dalam, dan melihat restoran itu sudah di dekorasi begitu indah dan romantis, membuat sebuah senyuman mengembang di bibirnya, apalagi ada seorang pria tampan membawa bunga, yang kini sedang menghampiri nya.


"Kak Lio", pria itu Aprilio, berhenti di depan gadis itu dengan senyum manis, dan memberikan bunga yang dia bawa.


"Maaf ya...aku tidak bisa menjemput mu tadi...karena aku harus kemari lebih dulu untuk menyiapkan semua ini... bagaimana...kau suka kan...", jelas Aprilio lembut.


"Kak Lio yang menyiapkan ini semua...", Aprilio mengangguk sejenak, "... terima kasih Kak...Clara suka banget...", lanjutnya bahagia dengan langsung menabrakkan tubuhnya memeluk Aprilio.


"ah iya sama-sama...", jawab Aprilio, "...sudah ayo kita duduk...", lanjutnya melepas pelukan itu dengan lembut.


Clara Chen mengangguk dengan senyuman bahagia, Aprilio pun mengajaknya ke sebuah meja yang sudah di tata romantis, dan memberikan perlakuan manis.


Aprilio menyewa seluruh restoran ini, agar tidak ada orang yang tau, bahkan sebenarnya Aprilio tidak menjemput Clara secara langsung, karena tidak ingin ada wartawan yang mengikuti, dan memotret mereka.


Bahkan Aprilio juga meminta semua anak buahnya untuk berjaga-jaga di sekitar restoran, namun dengan penyamaran agar tidak di curigai orang lain. Aprilio juga berbohong, karena seluruh persiapan juga anak buahnya yang mengatur, dia tidak ingin repot.


"Makanan disini enak...kau pasti suka...", jelas Aprilio memberi kode pada pelayan.


"Benarkah...Cla jadi tidak sabar...", ujar gadis itu berbinar.


Beberapa saat kemudian, makanan sudah tersaji, dan mereka mulai memakannya, tidak ada perbincangan, hanya terdengar dentingan alat makan yang beradu, Clara juga tak mengatakan apapun, karena dia tau jika Aprilio adalah orang yang tidak suka berbicara saat makan.

__ADS_1


"oiya... bagaimana persiapan pesta ulang tahun mu...apa ada yang bisa aku bantu...", tanya Aprilio setelah beberapa menit dalam keheningan.


"tidak perlu Kak...aku sudah menyerahkan semuanya pada EO...jadi hanya tinggal menunggu hari H nya saja...", jelas gadis itu antusias, Aprilio mengangguk mengerti.


"Kalau begitu...besok datanglah ke kantor ku...aku ada kejutan untuk mu...", ujar Aprilio selembut mungkin, Clara yang mendengar itu pun semakin berbinar bahagia.


"kejutan untuk ku...," Aprilio mengangguk, "... baiklah...aku akan datang besok...", lanjutnya.


Keesokan harinya


Semuanya kembali ke rutinitas sehari-hari, bahkan Aurora sudah pulang ke rumah tadi malam setelah selesai melakukan beberapa tes, dan hanya menunggu hasilnya beberapa hari lagi.


Aurora juga berencana untuk pergi ke kafe hari ini, karena dia merasa sudah sangat baik-baik saja, seperti sebelumnya, bahkan dia sudah bersiap untuk membuat sarapan, namun saat masuk ke dapur, Aurora di buat mengernyit heran saat menatap Felix yang tengah sibuk memasak.


"Felix...apa yang sedang kau lakukan...", Felix yang sejak tadi fokus dengan apa dia lakukan, dan tidak menyadari kehadiran Aurora, menjadi terkejut mendengar suara Aurora.


"Astaga Ra...kau membuatku terkejut...", omel Felix sambil mengusap dadanya, Aurora terkekeh mendengarnya.


"hehe Maaf maaf...jadi kau sedang apa...", ucap Aurora melihat apa yang sedang di lakukan Felix. "...kau sedang membuat sarapan...", lanjutnya saat melihat Felix sedang membuat nasi goreng.


"iya...jadi kau duduk diam saja sana...", usir Felix sambil mendorong tubuh Aurora ke arah meja makan.


"Kerja...", jawab Felix singkat.


"Kalau begitu... bersiaplah...biar aku yang teruskan...", ujar Aurora kembali ke dapur.


"Astaga kau ini--


"ssttt sudah sana...sekalian bangunkan Nio...", sekarang berbalik Aurora yang mendorong Felix untuk ke kamar, membuat pria itu menghela nafas mengalah.


Beberapa menit kemudian


Felix dan Antonio keluar dari kamar dengan rapi, Aurora pun juga sudah selesai menyiapkan sarapan dan menatanya di meja makan.


"Baiklah... sekarang kalian makanlah dulu...aku akan ke kamar untuk bersiap-siap...", ujar Aurora ingin beranjak.


"Bersiap... memang nya kau mau kemana...", tanya Felix mengernyit heran.


"Tentu saja ke kafe...aku kan harus bekerja...", jawab Aurora santai.


"Siapa yang mengijinkan mu bekerja... tidak...kau harus istirahat di rumah hari ini...", tolak Felix tegas.

__ADS_1


"Ayolah Felix...aku sudah baik-baik saja...aku janji tidak akan pingsan lagi...", jawaban Aurora membuat Felix berdecak kesal.


"Tidak-


tingtong


Felix menghentikan ucapannya saat bel apartemen berbunyi.


"Tunggu...aku buka pintu dulu", ucap Aurora beranjak membuka pintu. "...oh Mel...kenapa kemari pagi-pagi...", lanjutnya saat membuka pintu ternyata Melinda yang datang.


"Aku datang membawakan makanan untuk kalian...", jawabnya sambil menunjukkan sekantong plastik makanan yang dia bawa.


"Masuklah..." ajak Aurora mempersilahkan. "...kebetulan kami baru saja akan mulai sarapan...", lanjutnya sambil terus berjalan lebih dulu sampai ke meja makan


"Oh benarkah...", ujar Melinda antusias mengikuti Aurora. "...Hay Nio...wah kebetulan kalian sarapan nasi goreng... dan Tante bawa Ayam goreng...", lanjutnya melihat Antonio dan mengeluarkan makanan yang dia bawa.


"yey...Ayam goreng... terima kasih Tante Melinda...", Antonio berbinar bahagia saat Melinda meletakkan 1box Ayam di depannya.


"sama-sama sayang...makan yang banyak...", ujar nya perhatian.


"Duduk Mel...kau pasti juga belum sarapan kan...", Aurora memberikan sebuah piring kosong. "...kau mau minum apa...Susu ...Kopi atau Teh...", lanjutnya menawarkan.


"Hehe...aku buru-buru kemari...jadi tidak sempat sarapan dulu...", jawab Melinda terkekeh. "tidak perlu repot-repot membuat minuman Ra...air putih saja...", lanjutnya.


"ck... bilang saja ingin numpang makan...", sela Felix menggerutu.


"Apa kau bilang...", Melinda menatap Felix tajam. "...walaupun begitu...aku kan tidak datang dengan tangan kosong...", lanjutnya mengelak ucapan Felix.


"ya ya...itu alasan mu saja...", ucap Felix memutar bola matanya malas.


"Kau-


"sudah sudah...lebih baik kita sarapan sekarang... daripada telat nanti...", sela Aurora menengahi.


"Papa Felix dan Tante Melinda... seperti Tom and Jerry kalau bertemu...", ucap Antonio polos, membuat Aurora tertawa, begitupun dengan Felix dan Melinda yang tersenyum malu.


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**

__ADS_1


__ADS_2