
"Bibi Chu"
"oh Tuan Muda Kecil... kenapa ke dapur...apa membutuhkan sesuatu...", tanya wanita paruh baya itu perhatian setelah mensejajarkan tinggi nya dengan Antonio.
Aurora tidak menyangka dalam sehari Antonio bisa seakrab itu dengan orang baru, tapi Aurora tidak terkejut jika orang itu adalah Bibi Chu, orang yang baik dan perhatian, bahkan pada orang baru, seperti Aurora dulu.
"Apa minuman dan cemilan untuk Mama sudah siap...", jawab Antonio tersenyum beralih menatap Aurora, membuat Bibi Chu mengikuti kemana arah Antonio melihat.
Bibi Chu membulatkan matanya terkejut, kemudian perlahan berdiri dan berjalan ke arah Aurora, sepertinya perempuan paruh baya itu masih mengingat Aurora, terlihat dari matanya yang memandang Aurora dengan berkaca-kaca.
"No-na Aurora... benarkah ini kau...", ujarnya bergetar dengan kedua tangannya yang memegang lengan Aurora, membuat perempuan yang sempat menghilang 6tahun itu mengangguk lemah. "... syukurlah...anda baik-baik saja... sekarang anda kembali... syukurlah... syukurlah...", lanjutnya langsung memeluk Aurora.
"Iya Bibi...aku tidak menyangka Bibi masih mengingat ku...", jawab Aurora dengan membalas pelukan nya, mendengar perkataan Aurora, Bibi Chu melepaskan pelukannya.
"Tentu saja...hanya Nona yang mampu membuat Tuan Muda tersenyum lagi... sekaligus juga menjadi gila saat Nona menghilang 6tahun ini...", jawab Bibi Chu jujur, membuat Aurora menunduk sedih.
"Maafkan aku Bi...aku sudah menyusahkan banyak orang...," ujar Aurora lirih.
"Tidak...ini bukan salah Nona...ini ujian dari Tuhan untuk memperkuat perasaan kalian...", kali ini perkataan Bibi Chu membuat Aurora mengangkat kepalanya kemudian tersenyum dan mengangguk setuju.
"Bibi tidak datang ke rumah sakit...", tanya Aurora hati-hati, membuat Bibi Chu terdiam sesaat.
"Saya sengaja...", Bibi Chu menjeda ucapannya. "...saya tidak sanggup kalau melihat Tuan Muda berbaring tak berdaya seperti itu...", lanjutnya bergetar menahan air matanya, Aurora mengusap lengan Bibi Chu untuk menenangkan.
"Mama... lihatlah... banyak makanan...", pekik bocah 5 tahun itu antusias setelah melihat-lihat meja makan yang sudah ada berbagai macam makanan ringan dan minuman.
"oh astaga...Bibi sampai lupa...ayo ayo silahkan duduk dulu Nona Aurora...", ajak Bibi Chu ke arah meja makan, di ikuti Aurora di belakangnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Aurora mengikuti Bibi Chu dengan menggandeng tangan Antonio, saat sampai di depan meja makan, Aurora tertegun dengan banyaknya makanan yang di sediakan.
"Ayo duduk Nona Aurora... silahkan di cicipi...", ujar Bibi Chu mempersilahkan.
"Astaga...ini banyak sekali Bi...kenapa repot-repot...kan yang datang cuma aku saja...", jawab Aurora tidak enak, namun kemudian duduk di salah satu kursi saat Antonio yang menariknya.
"Tidak repot...hanya makanan ringan saja...sekalian untuk cemilan Tuan Muda Antonio...", jelas Bibi Chu tersenyum, mendengar itu Aurora kemudian menatap putranya yang bahagia sambil mencoba beberapa makanan, Aurora pun tersenyum melihatnya dengan mengusap lembut kepala Antonio.
"Mama ayo cicipi...ini enak...", ujar sambil menyodorkan sebuah cupcake coklat pada Aurora.
"iya sayang... terima kasih... pelan-pelan makannya Hm...", ujar Aurora lembut, yang langsung di angguki Antonio dengan cepat.
"oh iya...apa Nona Aurora akan sekalian makan siang di sini nanti...", ujar Bibi Chu tiba-tiba.
"Sepertinya tidak Bi...aku tidak tenang kalau meninggalkan Aprilio lama-lama...", jelas Aurora sendu, Bibi Chu mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Ma... Nio boleh ikut tidak...", tanya bocah itu saat mengetahui Aurora tidak bisa lama-lama.
"Jangan sayang...anak kecil tidak boleh ke rumah sakit lama-lama...lebih baik Antonio di sini menemani Kakek...Hm...", jelas Aurora lembut mengusap pipi putra nya.
"Tapi Nio masih ingin bersama Mama...", jawab bocah itu menunduk sedih, melihat itu Aurora merasa bersalah, tapi juga dia merasa ini yang terbaik, Antonio bisa menemani Tuan Dion sekaligus menghibur nya agar tidak terlarut sedih dengan keadaan Aprilio.
"Sayang...-
"Lebih baik Nona Aurora di sini sampai makan siang...biar nanti saya yang menghubungi Nicholas...", sela Tuan Dion berjalan ke arah meja makan, lebih tepatnya ke arah Antonio duduk, membuat Aurora refleks berdiri kemudian membungkuk hormat. "...Jagoan Kakek...kita akan kerumah sakit kalau Papa sudah sembuh...jadi sekarang lebih baik Nio di rumah dan mendoakan Papa agar cepat sembuh...Hm", lanjutnya lembut, Antonio pun menatapnya dengan mengangguk mengerti, meski dengan raut wajah yang kecewa.
"Duduklah Nona Aurora...temani Antonio setidaknya sedikit lebih lama lagi...", jelas Tuan Dion tersenyum menatap Antonio, dan mengusap kepalanya sayang, membuat cucu nya berbinar bahagia.
"Terima Kasih Kakek...", pekiknya bahagia.
"Iya Tuan...", akhirnya Aurora pun pasrah mengiyakan ucapan Tuan Dion.
Disisi lain
"Halo", Felix sedang menghubungi Nicholas, saat ini dirinya tengah berada di ruangan Nicholas, sedangkan sang pemilik ruangan sedang tidak ada di tempat, lebih tepatnya di rumah sakit.
"Ada apa...", terdengar suara Nicholas begitu santai, membuat Felix mengernyit heran
"Apa hari ini kau tidak ke kantor...", tanya Felix kemudian.
"Tidak...aku di rumah sakit menggantikan Aurora...dia sedang pergi menemui Antonio...", jawab Nicholas.
Felix memang ke rumah sakit tadi pagi mengantarkan sarapan untuk Aurora seperti biasanya, namun dia tidak bertemu Nicholas, dan Aurora juga tidak mengatakan apapun.
"Entahlah...mungkin Aurora tidak enak dengan Paman Dion kalau mengajak mu...kau tau kan bagaimana keadaan nya saat ini...", jelas Nicholas mengingatkan.
"ah benar juga...memang keluarga orang kaya susah di tebak...", balas Felix menghela nafas berat.
"Sudahlah...jangan menambah beban untuk nya...lebih baik kau bantu aku mengurus pekerjaan di kantor...", Ujar Nicholas.
"Iya iya...astaga...aku kan cuma merindukan putra ku...", balas Felix kesal.
"Lebih baik kau merindukan orang lain saja..."
"Orang lain...siapa... kalau Aurora kan aku bertemu dengannya setiap hari...", ujar Felix kebingungan.
"Jangan aneh-aneh deh...move on...Ingat Aurora itu sudah dengan Aprilio...jadi jangan macam-macam...", suara Nicholas terdengar serius.
"Aduh...maaf maaf... salah ngomong aku...kau ini setia kawan banget sih...", balas Felix dengan bercanda. "...trus siapa dong yang kau maksud...", lanjutnya.
__ADS_1
"Melinda...dia menghubungi ku semalam... karena melihat mu bersama Angel... sepertinya dia cemburu...jadi coba kau hubungi dia...", Felix membulatkan matanya mendengar penjelasan Nicholas.
"ck...Kau ini jangan asal bicara...nanti jadinya salah paham...", jawab Felix berdecak malas.
"Cuma telpon saja apa susahnya sih..."
"Telpon saja... memangnya gampang...trus aku harus ngomong apa...masa aku tanya...'kau cemburu ya lihat aku bersama Angel...' begitu...", ujar Felix mencontohkan.
"ya gak gitu juga kali...kau kan bisa alasan yang lain..."
"Alasan apa...aku aja bingung...", ujar Felix bingung.
"Sepertinya kalian berdua harus di beri waktu untuk sering-sering bersama...biar lebih dekat...", goda Nicholas kemudian.
"Aish Kau ini sepertinya kurang kerjaan...",
"sudah sudah... aku ingin ngomong serius...sepertinya kau juga harus menggantikan aku beberapa hari kedepan...", ujar Nicholas serius.
"Eh kenapa..."
"Kau tau kan berita pagi ini... sepertinya aku harus membantu Paman Dion...kasihan kalau dia harus mengurus masalah ini dan perusahaan sendirian...", Jelas Nicholas panjang lebar.
"Ah itu...aku tau...", Felix menjeda ucapannya sejenak. "...Kau bantu saja Victory Company...aku akan berusaha melakukan yang terbaik...yang aku bisa disini...", balas Felix yakin.
"Baiklah...kalau ada yang kau tidak mengerti...kau bisa meminta bantuan Daniel...atau kau langsung bisa menghubungi ku...", jelasnya lagi
"Baiklah aku mengerti...Lalu--
tok tok
Felix menghentikan ucapannya saat pintu ruangannya, tidak- lebih tepatnya ruangan Nicholas di ketuk seseorang dari luar.
"Tunggu", ujar Felix pada Nicholas.
"Masuk", setelah itu memberi ijin pada orang yang berada di luar ruangan, yang ternyata adalah sekertaris Nicholas, Daniel.
"Tuan Felix...di lobby ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda...", ujar Daniel, membuat Felix mengernyit heran karena merasa tidak kenal, ataupun janjian dengan siapapun.
"Siapa..."
"Kata resepsionis...Nona Angelina...dari Moon Travel..."
**Bersambung
__ADS_1
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**