Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 42.2


__ADS_3

Disisi lain


Nicholas dan Laura terkekeh saling pandang setelah mendengarkan apa yang mereka dengar dari panggilan di ponsel Laura, begitupun dari ponsel Nicholas yang terdengar suara dua orang ikut terkekeh.


"Apa-apaan itu... jelas banget kalau cuma alasan Felix doang...", ujar Nicholas kemudian.


"Astaga...lucu banget sih si Felix itu Ra...", timpal Laura


"Hey maklumin aja...Felix mungkin masih belum menyadari perasaan nya...", bela Aurora terdengar di ponsel Nicholas.


"Tapi kan ini bukan pertama kali untuk nya... sebelum nya...dia sudah mencintaimu selama bertahun-tahun Ra...", sambung Nicholas tanpa menyadari ucapannya.


Hal itu membuat Laura membulatkan matanya menatap tajam Nicholas sambil mencubit pinggang nya, sedangkan dari panggilan Aurora, tidak terdengar jawaban apapun.


"akh"


"Oh...itu kan beda situasi...kalau sebelumnya karena sudah saling mengenal bertahun-tahun... sedangkan kali ini kan baru beberapa bulan... apalagi pihak perempuan yang lebih dulu tertarik...jadi mungkin Felix belum terbiasa saja....", elak Laura mengalihkan pembicaraan, membuat Nicholas tersadar dengan ucapannya.


"ah benar... apalagi sepertinya ini bukan cinta bertepuk sebelah tangan...apa perlu kita membantu nya...", timpal Nicholas buru-buru.


"Tentu saja...tapi jangan terlalu di paksakan...kita buat senatural mungkin... bagaimana menurut mu Ra...", tanya Laura pada Aurora.


"setuju saja... mereka berdua sama-sama orang yang aku sayang...tentu aku mau melihat mereka berdua bahagia...", ujar Aurora bijak.


"Kalian berdua atur saja...besok kami akan kembali...nanti aku ajak kalian semua makan bersama...", timpal Aprilio.


"Baiklah...kalian berdua hati-hati ya...jangan lupa oleh-oleh nya...", canda Laura.


"Ck kebiasaan...", gerutu Nicholas.


"Kenapa... tidak boleh... kamu malu...", omel Laura


"Bukan...bukan begitu sayang...aku kan tidak bilang begitu...aku cuma bilang kebiasaan..."


"Lalu"


"Ya...maksudku kan tidak perlu bilang seperti itu...nanti mereka juga pasti akan memberikan oleh-oleh pada kita...jadi kenapa masih di perjelas... bukankah malah akan membuat kita terlihat sangat mengharapkan oleh-oleh dari mereka...", jelas Nicholas hati-hati.

__ADS_1


"Iya aku tau maksud kamu...tapi maklumin aja...anggap aja ini jiwa ibu-ibu selalu pingin gratisan...iya gak Ra...", jawab Laura santai, terdengar Aurora terkekeh mendengar jawaban Laura.


"Sudah sudah tidak perlu bertengkar... tenang saja...kami sudah menyiapkan oleh-oleh untuk kalian semua...", ujar Aurora.


"Kalau begitu sudah dulu...ini sudah larut malam...dan penerbangan nya pagi sekali...jadi kami harus istirahat...", sambung Aprilio.


"Oke oke...maaf mengganggu waktu istirahat kalian...", jawab Laura


"Thanks bro... istirahat lah...semoga perjalanan besok lancar...kita ketemu lagi...", timpal Nicholas.


Back to Kafe


"Lebih baik kita pergi sekarang Mel", ujar Felix berjalan pergi lebih dulu.


"Len...aku minta maaf banget ya... karena harus membatalkan janji mendadak seperti ini...", ujar Melinda pada Alen.


"Tidak apa-apa Mel... santai aja...kita kan bisa atur ulang jadi besok...atau kita ubah jadi makan malam saja nanti...", ujar Alen sengaja.


"Melinda...", panggil Felix terdengar kesal setelah mendengar ucapan Alen.


Skip


"Felix... pekerjaan ku semuanya sudah selesai... jadi aku bisa pulang sekarang... apa kau tidak pulang...", tanya Melinda memasuki ruangan Felix setelah mengetuk pintu terlebih dulu sebelum nya.


"Ya...tapi aku akan mampir ke mansion keluarga Victory... Nio ingin makan malam bersama ku..."


"Oh begitu... baiklah kalau begitu...aku pergi dulu...", ujar Melinda ingin beranjak pergi.


"Tunggu Mel... bisakah kau membantuku membeli kue untuk Nio... tidak enak kalau aku ke sana tidak membawa apa-apa... apalagi pasti ada Tuan Dion di sana...emm... sekalian saja kau temani aku datang ke sana..."


"Eh apa"


"Kenapa...kau tidak mau...", tanya Felix


"Bukan begitu...kan yang di undang Nio cuma kamu... tidak enak kan kalau aku tiba-tiba datang ikut makan malam tanpa di undang...", jelas Melinda buru-buru


"Tidak apa-apa...aku akan memberitahu Nio...", ujar Felix, Melinda pun hanya bisa menghela nafas pasrah kemudian mengangguk mengiyakan ajakan Felix.

__ADS_1


Padahal rencana Melinda tadi sepulang kerja, dia akan mampir ke kafe Alen dan mengajaknya makan malam sebagai permintaan maaf karena membatalkan janji tadi, tapi kalau begini, mau bagaimana lagi, Melinda harus mengurungkan niatnya.


Disisi lain


Aurora keluar dari toilet bandara dengan tergesa-gesa sambil merapikan pakaian nya, dia tidak menyangka jika toilet cukup penuh dan harus menunggu meski tidak lama, tapi tentu saja itu membuat nya takut ketinggalan penerbangannya.


Karena berjalan dengan merapikan pakaian nya, Aurora tidak menyadari jika ada seorang pria berpakaian formal yang tengah menyeret koper berjalan berlawan arah dengan nya yang sepertinya juga tengah fokus pada ponselnya dan tidak memperhatikan jalan.


*bugh


plak*


"Astaga", pekik Aurora.


"ck ponselku...


"Maaf...maafkan saya...saya tidak sengaja...", ujar Aurora sambil mengambil ponsel pria itu dan membersihkannya. "...Tuan... tuan...ini ponsel anda...", lanjutnya memanggil pria itu yang diam saja.


"Oh iya..."


"tolong periksa... kalau ada kerusakan...saya akan ganti rugi...", ujar Aurora.


"tidak apa-apa...ponsel saya aman...", jawab pria itu setelah memeriksa ponselnya yang ternyata masih bisa menyala dan tidak rusak.


"Syukurlah kalau begitu...jadi saya tidak perlu mengganti apapun...saya-


(Perhatian, untuk penumpang penerbangan xx tujuan negara xxx akan segera berangkat...)


"Oh itu penerbangan saya...saya harus pergi...sekali lagi saya minta maaf... terima kasih...permisi", ujar Aurora buru-buru pergi meninggalkan pria itu.


"Tunggu...", panggil nya, namun Aurora tidak mendengar, "...ck...aku belum tau nama nya...tapi sepertinya dia bukan orang sini...pasti dia wisatawan...dia pasti habis liburan...", gumamnya kemudian kembali menyeret kopernya dan melanjutkan langkahnya.


"Dia benar-benar cantik..."


**Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**

__ADS_1


__ADS_2