
"Itu rumah Nenek", tunjuk Antonio saat mobil mereka melewati rumah mendiang ibu Felix.
"Benarkah" tanya Aprilio pada putranya dan Aurora bergantian, keduanya pun hanya mengangguk lemah mengiyakan.
"Sayangnya...Papa Felix sudah menjualnya", ujar Antonio sedih, begitupun Aurora, Aprilio sudah tau apa yang terjadi, Aurora sudah pernah menceritakannya.
"Berhenti", pinta Aprilio pada supirnya.
"Kenapa berhenti di sini Lio...", tanya Aurora bingung.
Aprilio tidak menjawab apapun, namun beranjak turun dari mobil, Aurora dan Antonio pun mengikutinya dengan kebingungan. sedangkan di belakang mereka, Felix dan Melinda ikut turun dan menghampiri mereka.
"Kenapa berhenti di sini Ra...", tanya Felix penasaran, namun Aurora hanya menggeleng lemah.
Aprilio terlihat memperhatikan sekeliling, melihat ke dalam kediaman yang terlihat sepi itu, seperti tidak terurus.
"Ini di tempati atau tidak...", tanya Aprilio tiba-tiba, Felix pun hanya mengangkat bahunya sejenak. "... sepertinya sudah lama tidak di tempati...", ujarnya kemudian beralih menelisik kedalam rumah itu.
"Ya...mungkin saja karena rumah ini terlalu kecil...", jawab Felix sedih.
"Kalau begitu...antar aku menemui siapa yang membeli rumah mu ini waktu itu...", ucapan Aprilio membuat Aurora dan Felix membulatkan matanya terkejut.
"Untuk apa Lio...aku tidak ingin berurusan lagi dengan dia...", ujar Aurora khawatir.
"Iya Aprilio...dia orang berpengaruh di desa ini..dia juga orang yang licik...jadi lebih baik kita tidak berurusan dengan nya...", sambung Felix meyakinkan.
"Apa yang perlu di takutkan...aku hanya ingin membeli kembali rumah ini...", ujar April santai, namun mampu membuat yang lainnya terkejut.
"Apa", pekik Aurora dan Felix bersamaan.
"Papa mau beli rumah ini lagi...benarkah...", tanya Antonio antusias menggenggam tangan Aprilio, sang Papa pun mengangguk tersenyum.
"Lio...kamu yakin...", tanya Aurora memastikan.
"Iya...sepertinya tidak perlu... untuk apa juga kau beli rumah di desa...lagian ukuran rumah ini juga terlalu kecil... jauh dari ukuran rumah-rumah di kota...", jelas Felix coba memberitahu.
"Aku tau...tapi setidaknya di rumah ini banyak kenangan saat Antonio kecil...benar kan...", ujar Aprilio. "... apalagi disini Nio dan Auto hidup selama 6tahun ini...pasti banyak kenangan disini... apalagi untuk mu Felix...rumah ini pasti memiliki banyak kenangan antara dirimu dan kedua orang tua mu...", lanjutnya, kali ini membuat Aurora dan Felix terdiam.
"Felix... maksud Aprilio...jika rumah ini di beli lagi...rumah ini bisa menjadi tempat singgah saat kita datang kemari menjenguk ibu mu...iyakan...", Melinda berujar mencoba memberi pengertian, Aprilio pun mengangguk yakin. "... lihatlah Nio...walau dia memiliki pemikiran yang lebih dari anak-anak seusianya...jadi dia diam saja...tidak ingin membuat kalian bersedih...tapi bagaimanapun...dia tetaplah anak kecil berusia 5tahun...dia pasti merindukan hal-hal yang pernah dia lakukan disini...", lanjutnya mengarahkan yang lain untuk melihat Antonio yang terlihat antusias menatap sekelilingnya.
Keempatnya terdiam sesaat dengan pikiran mereka masing-masing, bahkan mereka sampai tidak menyadari jika sudah banyak orang yang sedang menatap mereka, hingga suara seseorang mengalihkan perhatian mereka.
"Siapa kalian berdiri di depan rumah ku...", Aurora dan yang lain refleks beralih ke arah suara tersebut, "...oh ternyata Man-Tan pemilik rumah ini...", lanjutnya sedikit menekan ucapannya.
"Tuan Hordon...", ujar Felix terkejut, sedangkan Aurora dan Antonio refleks berdiri di belakang Aprilio untuk mencari perlindungan.
__ADS_1
"Wah wah lihatlah...sepertinya kalian sudah banyak uang dan jadi orang kaya ya...kalian bahkan memakai pakaian mahal...", ujarnya dengan nada mengejek dan menatap ketiganya bergantian. "...katakan pada ku...darimana kau mendapatkan uang dengan cepat...apa kau menjual istri mu yang cantik itu...", lanjutnya sambil mengisyaratkan menatap ke arah Aurora.
"Jaga ucapan anda Tuan...", pekik Felix marah, bahkan Aprilio pun membulatkan matanya terkejut.
"Kenapa...apa aku salah... bukankah itu yang kau lakukan...dulu kau menolak tawaran ku... karena berpikir di kota...harga istri mu pasti lebih mahal...iya kan...", ujar Hordon terus meremehkan.
"Anda-
bugh
"Lio", pekik Aurora saat Aprilio dengan cepat memukul Hordon hingga terjatuh.
"sshh kurang ajar...", desisnya marah, "...siapa kau berani memukul ku...", lanjutnya berdiri di depan Aprilio, hal itu membuat beberapa pengawal yang di bawa Aprilio refleks mendekat, namun Aprilio segera memberikan kode dengan tangannya untuk tidak mendekat.
"Kau masih beruntung hanya mendapatkan satu pukulan dari ku...atau kau mau Anak Buah ku yang menghajar mu...oh sepertinya itu tidak perlu...cukup aku sendiri saja...mampu menghancurkan sampah menjijikkan seperti mu...", tekan Aprilio meremehkan.
"Apa kau bilang...Sampah...", ulang Hordon tak percaya. "...kau belum tau siapa aku huh...", lanjutnya mencengkram baju depan Aprilio, tentu saja hal itu membuat semua orang terkejut, bahkan pengawal Aprilio yang melihat itu menatapnya dengan tatapan iba.
"Tuan Hordon cukup...tolong lepaskan Tuan Aprilio...", ujar Felix memohon.
"Jangan memohon padanya Felix...orang sepertinya-
"akkhhh", Aprilio mencengkram satu tangan Hordon hingga kesakitan, bahkan dengan tetap melanjutkan ucapannya.
"asshhh sakit", pekiknya kesakitan saat Aprilio memelintir tangannya ke belakang punggungnya.
"...tidak bermulut kotor sepertinya...", lanjut Aprilio kemudian mendorong tubuh Hordon hingga tersungkur.
"akkhhh sshhh yak...kau benar-benar cari mati ya...", teriaknya marah, "...kenapa kalian diam saja...cepat hajar dia...", lanjutnya marah saat berdiri di bantu oleh 2 orang berbadan besar yang sepertinya adalah anak buah Hordon.
Namun saat dua orang itu akan mendekat, pengawal Aprilio lebih dulu melumpuhkan keduanya dengan mudah, tentu saja hal itu membuat semua orang terkejut, walau bagaimanapun, tubuh pengawal Aprilio lebih kecil daripada tubuh kedua orang itu.
Begitupun juga Hordon yang tidak menyangka kalau anak buahnya akan kalah semudah itu, apalagi selama ini, salah satu senjatanya untuk bisa menakut-nakuti warga lain adalah anak buahnya itu, tapi sekarang mereka kalah bahkan sebelum bertarung.
"Dasar anak buah payah", teriaknya marah.
"Diam...", balas Aprilio dengan nada tegas.
"Kau tidak tau siapa aku huh...aku akan-
"Diam dan dengarkan apa yang akan aku bicarakan...atau kau akan berakhir seperti anak buah mu itu...", potong Aprilio dengan tegas dan dingin.
"Apa-
"Aku akan membeli kembali rumah ini...", semua orang terkejut mendengar perkataan Aprilio, begitupun Hordon, namun dia langsung terkekeh merendahkan.
__ADS_1
"Heh...membeli rumah ini...apa kau yakin mampu...apa kau punya uang...hahaha", remehnya dengan tertawa.
"Katakan saja berapa...", tanya Aprilio singkat tanpa basa basi, Hordon terdiam sejenak sebelum akhirnya menyeringai menatap Aprilio.
"100...100 juta...aku menjualnya 100 juta"
"Apa...jangan bercanda Tuan Hordon...itu 2kali lipat dari harga anda belinya dari saya dulu...", sela Felix tidak percaya.
"Kenapa...ini rumah ku...terserah mau aku jual dengan harga berapapun...kalau kau tidak punya uang...jangan bicara omong kosong ingin membelinya...", ujarnya merendahkan lagi.
"Kau-
"Berikan nomor rekening mu...aku akan transfer 50%... sisanya...pengacaraku yang akan mengurusnya...", potong Aprilio menyodorkan ponselnya lebih dulu setelah mencegah Felix.
"Lio"
"Jangan Aprilio... tidak perlu seperti ini...", tolak Felix tidak setuju.
"Tidak apa-apa...ini hanya hal kecil yang bisa aku berikan sebagai tanda terima kasih untuk mendiang ibu mu...", jelas Aprilio yakin.
"Tapi-
"Tenang saja...ini juga untuk Aurora dan Antonio...", kali ini Felix tidak bisa membantah lagi.
"Cepat...atau aku berubah pikiran...", ancam Aprilio berbohong, Hordon pun buru-buru mengambil ponsel Aprilio dan langsung mengetik nomor rekeningnya.
"Lio...kamu yakin... bukankah harga itu terlalu mahal...", tanya Aurora khawatir.
"Tidak apa-apa...kamu tenang saja...ini tidak seberapa... di bandingkan dengan kebaikan Felix dan mendiang ibu nya selama 6tahun menjaga mu dan Antonio...", jawab Aprilio menenangkan Aurora dengan mengusap kepalanya sayang.
"Tapi Lio-
"Sayang...percaya pada ku...", sela Aprilio sebelum Aurora berbicara lagi.
"Hey... Bukankah itu istri mu...kenapa kau diam saja Mereka dekat-dekat...apa jangan-jangan...dia orang lain membeli istri mu dengan mahal ya...", ujar Hordon menunjuk Aurora, dan menatap Felix bergantian.
"akkhhh", Hordon berteriak lagi kesakitan, karena Aprilio dengan cepat langsung mencengkram leher belakangnya saat mendengar ucapannya tadi.
"KAU BENAR-BENAR CARI MATI"
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**
__ADS_1