
"Sepertinya...Tuan Dion tidak senang dengan kehadiran kita...", ujar Melinda setelah Aprilio dan Nicholas pergi.
"Ya... apalagi padaku...saat Nio memanggil ku Papa tadi...", sambung Felix sedih.
"Sudah... jangan terlalu di pikirkan...kita disini hanya memenuhi undangan dari Aprilio...itu saja...", ujar Laura menenangkan.
"Benar... sebaiknya kalian duduk saja dulu...aku akan buatkan minum dulu...", sahut Aurora meminta keduanya duduk, Felix dan Melinda menghela nafas sejenak sebelum akhirnya berjalan dan duduk di sofa, sedangkan Aurora akan beranjak pergi ke dapur.
Namun belum Aurora melangkah, Antonio datang lebih dulu dengan membawa sebuah piring kecil berisi potongan kue stroberi di tangannya, di belakangnya ada Bibi Chu yang membawa nampan berisi beberapa gelas minuman.
"Astaga...kenapa repot-repot Bi...baru saja aku mau ke dapur membuat minum untuk mereka...", ujar Aurora menghampiri Bibi Chu.
"Tidak apa-apa Nona...ini sudah tugas saya...", jawab Bibi Chu sambil terus berjalan hingga ke arah meja dan meletakkan nampan itu.
"Tapikan Bibi sedang repot menyiapkan makan malam...", ujar Aurora membantu mengambil satu persatu gelas itu dan memberikan masing-masing pada yang lain.
"Tidak...makan malam di siapkan maid yang lain...saya hanya mengawasi saja...", jawab Bibi Chu tersenyum.
"oh begitu", Aurora mengangguk mengerti.
"Baiklah kalau begitu saya kembali ke dapur...silahkan di minum...", ujarnya sopan sebelum akhirnya pergi dari sana setelah Aurora dan yang lainnya mengangguk mengiyakan.
"Ma...kue nya enak..." ujar Nio menunjukkan kue yang dia bawa, Aurora pun tersenyum dan kembali duduk tepat di samping Antonio yang hanya duduk di pinggir sofa sambil memegang piring kuenya.
"Sayang...kita kan mau makan malam...kenapa kue nya di makan sekarang... nanti kalau Nio kekenyangan sebelum makan bagaimana...Hm", ujar Aurora sambil mengusap sayang putranya.
"Sedikit saja kok Ma...lihat", jawabnya sambil menunjukkan kuenya yang hanya tinggal sedikit, membuat Aurora tersenyum.
Skip Makan Malam
Semua orang sudah berada di meja makan, suasananya terasa sedikit canggung, apalagi untuk Aurora, Melinda dan Felix, jika Aprilio, Nicholas bahkan Antonio bisa santai sesekali berbincang, namun tidak untuk ketiga orang itu, sedangkan untuk Laura yang terlihat biasa saja, mungkin karena dia memang sudah biasa dengan pertemuan seperti ini dengan klien-klien Nicholas.
"Silahkan di nikmati semuanya...", ujar Aprilio mencairkan suasana.
__ADS_1
"Nio mau yang mana...", Aurora berujar dengan lembut menatap putranya, kemudian mengambil piring Antonio untuk dia isi nasi.
"Nio mau ayam nya Ma...", jawab bocah itu antusias.
"Apalagi..."
"mmm", Antonio menatap setiap makanan dengan berpikir, sedangkan Aurora dengan sabar menunggunya.
"Bagaimana dengan sayur nya...trus udang goreng tepung...Nio mau kan...", tanya Aurora lembut.
"Iya mau...", jawab Antonio antusias, membuat semua orang di sana tersenyum.
"Sudah cukup...ada yang Nio mau lagi...", tanya Aurora setelah mengambilkan apa yang putranya mau, bocah 5 tahun itu tersenyum lalu menggeleng pelan kemudian berdoa lebih dulu sebelum menyantap makanan nya.
Aurora tersenyum kemudian ingin mengisi piring nya sendiri, namun Aprilio yang duduk di sampingnya menyerahkan piring miliknya, Aurora terdiam sesaat mengernyitkan keningnya menatap Aprilio, tapi kemudian mengerti apa maksud dari pria nya itu.
"Ka-mu ingin aku ambilkan...", tanya Aurora gugup sambil sesekali menatap Tuan Dion, dan dengan entengnya Aprilio mengangguk mengiyakan dengan tersenyum lebar. "...Tapi-", Aurora menghentikan ucapannya saat Aprilio menggelengkan kepalanya tanda jika dia tidak ingin Aurora menolaknya.
Mau tidak mau, akhirnya Aurora mengambil piring milik Aurora dan mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk yang Aurora masih ingat, mana yang Aprilio suka atau tidak, tentu saja hal itu membuat Aprilio tersenyum bahagia, begitupun dengan Bibi Chu yang memang sejak tadi berada disana, bertugas melayani Tuan Dion.
"Terima Kasih", ujar Aprilio tersenyum berbinar, hal itu membuat semua orang disana menatapnya tidak terduga, tatapan lembut dan senyuman yang selama ini tidak pernah terlihat di wajah Aprilio saat di hadapan banyak orang, wajah yang selalu dingin dan kaku.
Skip
Makan malam sudah selesai sejak beberapa jam yang lalu, ada sedikit pembicaraan antar pria tadi, entah apa yang mereka bicarakan dan rencanakan, sedangkan Aurora dan dua sahabatnya, memilih ke kamar Antonio untuk menemani bermain, sekaligus sedikit berbincang tadi.
Hampir satu jam lebih, hingga Felix datang ke kamar Antonio untuk berpamitan pulang, sempat ada drama karena Antonio merengek masih belum puas bertemu Felix, dan dengan segala pengertian, akhirnya Antonio mau mengerti, dan mereka semua pun pamit pulang.
Dan saat ini Aurora sedang menemani Antonio tidur, setelah sempat bermain dan menggambar bersama Aurora tadi, bocah 5tahun itu pun menguap mengantuk, jadi Aurora menemaninya tidur, setelah sebelumnya membantunya mengganti pakaian dan menggosok gigi, sedangkan Aprilio sepertinya masih berbincang dengan Tuan Dion.
cklek
Terdengar suara pintu terbuka perlahan, untungnya Antonio sudah benar-benar terlelap, Aurora membangunkan tubuhnya saat melihat ternyata Aprilio yang datang.
__ADS_1
"Sudah tidur", tanyanya dengan sedikit berbisik, Aurora pun mengangguk mengiyakan. "...ini...pakaian ganti untuk mu...aku tau kamu tidak membawa banyak baju...tapi kamu tenang saja...ada banyak pakaian untuk mu di kamar ku...", lanjutnya menyerahkan sebuah baju tidur.
"Pakaian untuk ku...di kamar mu...", Aurora mengulang perkataan April dengan mengernyit heran, namun pria di depannya itu malah tersenyum dan mengangguk.
"Mau melihatnya...", tanya Aprilio mengajak, Aurora menimang sejenak, namun karena penasaran, akhirnya dia mengangguk. "...ayo...", ajaknya mengulurkan tangan, yang tentu saja di sambut baik oleh Aurora.
Di kamar Aprilio
Aurora masih saja terkagum-kagum melihat kamar Aprilio, padahal tadi Aurora sudah melihat nya saat mengantar Aprilio tadi setelah pulang dari rumah sakit, tapi tetap saja kamar itu begitu luas dan mewah.
"Bukalah", ujar Aprilio setelah berhenti di salah satu pintu yang terbuat dari kaca berwarna hitam, satu-satunya yang berada di kamar itu.
Dan tanpa banyak tanya lagi, Aurora membukanya walau masih kebingungan, namun detik selanjutnya Aurora di buat tertegun tak percaya setelah membuka pintu itu, dan memperlihatkan deretan lemari berisi baju-baju, tas, sepatu bahkan aksesoris lain nya, dan yang membuat Aurora semakin terkejut adalah bukan hanya baju pria, tapi juga baju wanita.
"Ini...", Aurora tidak bisa melanjutkan ucapannya saat berjalan perlahan sambil menatap kagum semuanya.
"Ini semua aku siapkan untuk mu Ra...", ujar Aprilio di belakang Aurora.
"Untuk ku...", tanya Aurora berbaik menghadap Aprilio.
"Ya...", Aprilio mempersempit jarak di antara mereka, "...kita akan segera menikah...jadi kamu akan tinggal di sini selamanya... dan kamar ini akan jadi kamar mu juga...", ujarnya mengambil tangan Aurora untuk di genggam.
Mendengar hal itu, wajah Aurora merona merah, dan segera menunduk untuk menutupi wajahnya, membuat Aprilio diam-diam tersenyum melihat tingkah wanita yang dia cintai itu, yang masih sama seperti dulu.
"Ra...", panggil Aprilio sambil mengangkat dagu Aurora agar melihat nya, "...aku sudah 6tahun menunggu mu...jadi aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi...aku sudah tidak sabar ingin hidup bersamamu...dan...memiliki mu...", ujarnya tulus dengan berbisik ke telinga Aurora di kalimat terakhir nya.
"Lio...", Aurora melepas satu tangannya yang di genggam Aprilio, dan ingin memukul main-main dada pria di depannya, namun dengan sigap Aprilio lebih dulu menangkap tangan Aurora dan menariknya, hingga membuat tubuh mereka bertabrakan, dan kedua nya saling pandang untuk beberapa saat.
"Lio...", Aurora tersadar dan ingin menarik jarak di antara mereka, namun tangan lain Aprilio lebih dulu memeluk pinggang Aurora membuat tubuh mereka semakin menempel.
Aurora benar-benar seperti terhipnotis saat menatap wajah Aprilio, sehingga tidak menyadari jika Aprilio secara perlahan mendekat wajahnya ke wajah Aurora, hingga perlahan tapi pasti, Aprilio menyatukan bibir nya dengan bibir Aurora.
**Bersambung
__ADS_1
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**