
Dea yang kesulitan bertemu dengan aditya berusaha menerobos barisan pertahanan para sekretaris wanita, hal itu menimbulkan keributan di depan pintu utama ruangan presdir.
Naya yang baru kembali dari makan siangnya pun langsung menghampiri setelah mendengar kabar itu, ia tersenyum saat melihat siapa dalang dari keributan yang terjadi di sana.
“ ada apa ini? “ tanya naya seraya berjalan menghampiri
“ beliau memaksa untuk bertemu dengan presdir tanpa membuat janji bu” jawab seorang sekretaris
“ biarkan nona dea bertemu dengan pak adi, sepertinya dia memiliki urusan yang penting” ucap naya, ia berusaha menunjukkan kebaikannya pada dea
“ maaf bu naya, anda tidak bisa mengatur kami, posisi anda adalah kepala sekretaris ceo, bukan kepala sekretaris presdir” sahut seorang sekretaris yang ikut di anggukki oleh sekretaris lain,
Dea sampai tersenyum mendengarnya, dia senang melihat naya dipermalukan oleh rekan satu profesinya
“ kalau begitu panggilkan kepala sekretaris presdir, biarkan aku bicara dengannya” ucap naya sedikit kesal
Para sekretaris wanita yang awalnya berjajar untuk menghalangi dea pun bergeser dari pintu utama, memperlihatkan sesosok pria yang tengah bersandar di pintu.
“ max biarkan dea masuk untuk menemui pak adi” seru naya dengan nada memerintah
“ maaf naya! Aku bukan tipe kepala sekretaris yang berani mengubah jadwal atasan tanpa konsultasi dengan asisten boz, aku juga harus meminta izin dari madam liz sebelum membiarkannya masuk” seru kepala sekretaris yang bernama max itu.
Naya pun pergi dari sana sambil mendengus kesal, ia merasa tersindir dengan ucapan max, terlebih niatnya untuk menyombongkan diri di depan dea ternyata gagal total.
Madam liz membuka pintu utama karna mendengar adanya keributan, max dan dea menjelaskan apa yang terjadi, dea bahkan dengan sengaja menyebutkan nama iren agar dipertemukan dengan aditya.
__ADS_1
“ ada apa? “ tanya aditya saat melihat madam liz membawa dea masuk.
Ya! Rencana dea berhasil, madam liz membawanya masuk dan kini ia pun mendudukkan diri di ruang presdir yang sangat besar itu.
“ ini tentang iren” ucap dea
“ katakan dengan cepat, aku tidak punya waktu” ucap aditya
“ maafkan aku aditya, aku tahu apa yang terjadi dengan iren, walau semua itu karna david, naya juga ikut membantunya, tapi aku juga ikut adil dalam masalah itu, andai saja aku tidak mengenalkan irene pada david, mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi” ucap dea disertai dengan helaan nafas beratnya.
“ lalu? ” sahut aditya dengan wajah datar
“ david menyuntik iren dengan ramuan percobaan, tidak akan ada obat yang bisa menyembunyikannya, perlahan obat itu akan membuat iren melupakan segalanya, dan david akan memanfaatkan hal itu untuk membawa iren pergi darimu” ucap dea memberi tahu
“ lalu? ” sahut aditya masih dengan wajah datar
Dea menatap aditya untuk melihat reaksi pria itu, namun ekspresi wajah aditya sama sekali tidak berubah, wajahnya tetap terlihat datar, dan hanya satu kata yang keluar dari mulutnya “ lalu? ”
“ aku juga akan membantu menangkap david” ucap dea dengan yakin
“ lalu? “
Dea terdiam karna tidak tahu lagi dengan apa yang aditya inginkan, sampai madam liz berseru “ waktu anda habis nona” setelah melihat jam di tangannya.
Madam liz hanya memberinya waktu 15 menit untuk bicara dengan aditya, dan kini waktu itu telah habis, madam liz kembali mengantar dea keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Setelah melewati pintu pertama, madam liz meminta dea untuk memberikan smartphonenya, dea yang bingung pun bertanya “ untuk apa? “
“ kau akan tahu nanti” jawab madam liz
Dea meraih ponsel dari tasnya, lalu memberikannya pada madam liz.
Madam liz pun menyandingkan ponsel mereka, lalu mengetikan nomor, kemudian berkata “ itu nomer saya” seraya mengembalikan ponsel dea
Dea hanya mengangguk dan mengulum sedikit senyum, madam liz membuka pintu utama dan mempersilahkan dea keluar dengan hormat.
Di dalam ruangan presdir, aditya tengah menelepon arsena, ia memberi tahu bahwa dea menemuinya.
Aditya juga menceritakan apa yang baru saja ia dengar dari dea, dan meminta pendapat sang putra.
Aditya: bagaimana menurutmu nak?
Arsena: obat yang sena berikan tidak memberi banyak efek, jadi menurut sena biarkan saja tante dea merawat amih
Aditya: tapi papi takut kondisi amihmu akan semakin parah, bagaimana jika dea bukan mengobati tapi memperburuk
Arsena: Memang hanya tuhan dan dia yang tahu, apa dia tulus atau tidak? Tapi coba papi pikir, jika dia sampai bersedia membantu untuk menangkap david, bukankah itu menguntungkan, dan soal pengobatan amih biar sena yang urus
Aditya: baiklah, anak papi yang genius, teruslah semangat meracik obat untuk amihmu ya!
Arsena: papi juga, teruslah semangat untuk menjerat david, jangan sampai lolos pokoknya.
__ADS_1
Sambungan telepon mereka pun berakhir.