
Sudah tiga hari sejak kematian iren, dan dea masih belum pergi dari kediaman itu, ia tinggal di sana sambil terus berusaha mendekati aditya, maya dan arsena.
Bersamaan dengan datangnya seorang pelayan baru bernama nia, mobil milik naya pun memasuki pelataran rumah aditya.
Naya turun dari mobilnya, ia tersenyum sangat lebar saat memandang rumah mewah itu, namun sebelum masuk rumah iya meneteskan cairan di mata cantiknya, naya mengambil nafas panjang dan mulai terisak, ia lalu melenggangkan kaki jenjangnya masuk ke dalam rumah.
“ di mana tuan aditya? “ tanya naya pada pelayan, ia sengaja tidak menyeka air yang membasahi pipinya itu.
Pelayan itu meminta naya untuk menunggu di ruang tamu, lalu ia sendiri naik menuju kamar tuannya, begitu pintu di ketuk, pintu di sebelah kamar itu terbuka.
“ ada apa? Bukankah aku sudah memperingatkan kalian sebelumnya untuk tidak mengganggu aditya, dia masih berduka atas kematian istrinya” ucap dea sambil melipat tangan di dada dan bersandar pada tiang pintu.
Dea tidak tahu, ketiga pintu kamar pemilik rumah itu selalu di buka jika pak eka dan para pelayan mengetuknya.
Pelayan itu tersenyum seolah meledek dea, ia kembali mengetuk pintu kamar itu, dan tak lama aditya pun membukanya.
“ maaf mengganggu tuan, di bawah ada tamu” ucap pelayan sopan
__ADS_1
“ Kau masih di sini? " tanya aditya pada dea yang sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari wanita itu
"Siapa yang datang ning?” tanya aditya pada pelayan itu
“ nona naya tuan” jawabnya sopan
Aditya langsung mengunci pintu kamarnya dari luar, lalu mengikuti pelayan yang bernama nining itu untuk menemui naya.
Dea menggeram kesal, dalam hatinya ia berkata “ si alan, ngapain si cewek biawak itu datang, bukannya dia udah balik ke indo? Aku tidak bisa hanya diam saja seperti ini, dia bisa saja menggagalkan rencanaku“
Aditya melihat naya duduk sambil terisak, ia terlihat seperti mencoba menahan kesedihannya, melihat belum adanya cangkir di atas meja pria tampan itu pun berseru “ buatkan minuman untuk tamu”
“ pak eka dia siapa? “ tanya aditya ketika pak eka menghampiri untuk memberi salam
“ Dia keponakan jauh saya tuan, namanya nia, saya membawanya karna ingin meminta ijin untuk memperkerjakannya di sini” ucap pak eka menjelaskan
“ aku ijinkan, dia bisa bekerja sekarang atau besok juga boleh” ucap aditya
__ADS_1
“ tapi nia bisu tuan” ucap pak eka
“ tidak masalah” jawab aditya cepat
“ nia juga tidak bisa menulis” ucap pak eka
“ lalu bagaimana dia berkomunikasi dengan orang? “ tanya aditya
“ nia berkomunikasi melalui kertas warna yang menggantung di lehernya itu tuan” jawab pak eka
“ kalau begitu tidak masalah, kau ingin mulai kerja kapan nia? “ ucap aditya lagi
Wanita itu menunjukkan kertas berwarna cream sambil tersengum, pak eka langsung berseru “ kertas cream artinya dia akan mengikuti keputusan tuan”
“ jadi terserah aku ya! Kalau begitu mulai sekarang saja, tugas pertamamu bereskan kamar tidurku” ucap aditya seraya memberikan kunci kamarnya pada nia.
Nia menatap pak eka sambil menarik ujung baju pria tua itu, pak eka pun pamit dan mengajak nia naik ke lantai dua, menuju kamar aditya.
__ADS_1
Aditya masih tidak mengalihkan fokusnya dari nia, sampai ia melihat bayangannya sendiri yang terpantul dari guci keramik, senyumnya menghilang bersama perubahan raut wajahnya yang menjadi dingin, rasa bersalah terhadap sang istri pun terasa menghujam hatinya.
“ sadarlah aditya, kenapa kau tersenyum pada wanita lain, apa tidak cukup kau menyakiti istrimu dengan tidak menangisi kematiannya, kenapa aku jadi aneh begini si! “ batin aditya bersua.