
Aditya memanfaatkan waktu saat mereka ditinggal berdua, ia memeluk sang istri dari belakang lalu berkata " sayang aku mau kamu"
Iren tak pernah malu-malu saat bermesraan dengan aditya, karna ia termasuk wanita agresif dalam hubungan asmara, iren langsung berbalik lalu berkata " boleh sayang, lahap saja aku sesukamu"
Apa yang iren katakan ternyata tidak sesuai dengan apa yang terjadi, karna saat aditya mulai menautkan bibir mereka, saat itu pula iren mendorong tubuh aditya hingga menjauh.
Dengan langkah cepat iren pergi ke kamar mandi, aditya syok saat melihat iren muntah-muntah di dalam kamar mandi yang pintunya masih terbuka itu.
" ren? Kamu ko muntah saat aku cium, jangan bilang kalau kau tertular penyakit ku? " tanya aditya dengan ragu-ragu, suara aditya yang semakin pelan membuat iren tidak bisa mendengar ucapannya dengan jelas.
" entahlah adi, entah kenapa aku merasa risih saat kau menyentuhku, dan wangi parfummu itu sangat mengganggu" ucap iren seraya kembali menghampiri aditya
" jujur padaku iren, apa sekarang kau merasa jiji padaku? " tanya aditya seraya mencengkam lengan istrinya itu dengan kuat dan melayangkan tatapan tajam.
" tidak seperti itu adi" sanggah iren
" kalau bukan seperti itu lalu seperti apa? " tanya aditya emosi, ia menghempaskan tubuh iren sampai jatuh terduduk di atas ranjang.
Aditya menggaruk kepalanya kasar, ia merasa frustasi dengan setumpuk pikiran negatif yang ada dalam kepalanya itu, sampai sebuah solusi muncul di kepalanya.
" aku tidak bisa menerima ini iren" ucap aditya seraya meraih kunci mobil di atas nakas, ia lalu menarik tangan iren untuk mengikutinya.
" adi lepas! Kau mau membawaku kemana? " tanya iren seraya meronta, langkah kakinya sampai terseret karena tidak bisa mengimbangi kecepatan langkah aditya.
" ikut saja, jangan banyak tanya" ucap aditya, ia melepaskan tangan iren untuk mengunci pintu rumah.
" ayo masuk! " titah aditya seraya mendorong pelan tubuh iren untuk masuk ke dalam mobil
" ia adi! Aku akan masuk tapi jangan dorong-dorong " protes iren
Iren menuruti keinginan aditya, ia masuk ke dalam mobil, begitupun dengan suaminya itu, ia duduk di kursi kemudi dan siap melajukan mobilnya.
" kita mau ke mana adi? " tanya iren saat mobil itu sudah membelah keramayan jalan.
__ADS_1
" psikiater " jawab aditya singkat
" apa? " mata iren sampai bulat sempurna karna terkejut
" yang benar saja adi! Untuk apa kita pergi ke psikiater? " tanya iren tak mengerti
Aditya menghentikan mobil karna lampu merah, ia menatap iren lalu menjawab tanya itu.
" dengar iren! Kau harus di obati sebelum semakin parah" jawab aditya
"bisa-bisanya kau sampai tertular penyakit ku" keluh aditya
" ya ampun adi! Aku kan sudah bilang yang kau pikirkan itu tidak mungkin terjadi, karna tidak ada penyakit psikologi yang bisa menular"
" mungkin saja iren, belakangan aku selalu menidurimu setiap ada kesempatan, jadi bukan tidak mungkin kau tertular penyakit ku, buktinya juga sudah ada, kau muntah saat aku mencium mu, sama seperti aku yang muntah bila di cium wanita lain, kau tahu itu kan! " ucap aditya ngotot
" terserah apa katamu saja adi!" ucap iren seraya melipat tangan di dada karna kesal
" ayo jalan! Lampunya sudah hijau tuh" ucap iren dengan nada kesal
Iren memilih untuk diam, ia tahu berdebat dengan aditya saat ini hanya akan menghabiskan energi saja.
Iren memijat keningnya saat rasa pusing menghampiri, ia bahkan sampai memejamkan mata saat mulai merasa tak sanggup menahan rasa sakit di kepalanya.
Aditya semakin mempercepat laju mobilnya saat melihat wajah iren memucat, begitu tiba di klinik psikiater, aditya langsung menggendongnya masuk, ia bahkan menerobos masuk ke ruangan dokter tanpa memperdulikan ada yang tengah melakukan terapi.
Aditya mengusir seorang pasien yang tengah melakukan sesi terapi itu dari kursi santai, lalu membaringkan iren di sana.
" ada apa ini? " tanya dokter heran
" istri saya tertular penyakit COD saya dok, bagaimana pun caranya, tolong sembuhkan dia" ucap aditya dengan nada panik
" tenangkan diri anda dulu pak! " seru dokter cantik yang merupakan pemilik ruang itu
__ADS_1
Aditya menepis tangan dokter itu lalu berkata " jangan sentuh saya dok, saya alergi pada wanita lain" dengan suara yang lentang
" ok! oke! tenang! Tarik nafas anda dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan" aditya mengikuti ucapan dokter cantik itu
" bagus! Sekarang bapak tolong tunggu diluar ya! biarkan saya memeriksa istri anda" ucapnya.
Setelah aditya keluar dari ruangan itu, dokter cantik itu membuatkan segelas teh manis hangat dan memberikannya pada iren.
Iren meneguk teh itu perlahan, dokter memberikan pijatan ringan pada tubuh iren untuk membuatnya rileks.
" bagaimana perasaanmu? " tanya dokter itu
" sudah mendingan dok"
" sebenarnya apa yang terjadi? Kau sakit tapi suamimu malah membawamu ke psikiater? " tanya dokter tak mengerti
" Sebelumnya saya minta maaf atas keributan yang terjadi dok! Suami saya memang terkadang berlebihan...
Iren menceritakan apa yang terjadi, wajahnya bersemu merah karna malu saat harus membicarakan kemesraannya, ia juga menceritakan keadaan aditya yang alergi pada wanita.
Dokter itu tertawa karna merasa cerita iren itu lucu, sementara iren masih terus berusaha menahan rasa malu karna perilaku suaminya yang bucin akut itu.
" apa anda ingat kapan terakhir kali datang bulan? "
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat iren tersadar bahwa dirinya sudah telat datang bulan, masalah yang menyerangnya bertubi-tubi membuat iren sampai tidak menyadarinya.
" Mungkinkah? " tanya iren seraya mengusap perutnya yang datar
" mungkin saja, untuk lebih yakinnya sebaiknya anda dan suami langsung memeriksakannya" ucap dokter memberi saran
Aditya kembali menerobos masuk karna tidak bisa lagi sabar menunggu, ia bernafas lega saat melihat iren tersenyum kearahnya.
" lekaslah anda bawa istri anda ke rumah sakit, karna sepertinya ada segumpal darah daging dalam perut istri anda" ucap dokter dengan nada kesal.
__ADS_1
" apa maksud dokter? " tanya aditya panik
" istri anda mungkin saja tengah mengandung" aditya menyeringai, ia melompat sambil berteriak karna terlampau senang.