
" matikan" ucap iren pelan sambil memberikan kode pada lion, dan lion langsung mengakhiri panggilan vidio saat itu juga.
"Ada apa amih?" tanya lion seraya memasukan ponselnya ke dalam saku celana,
Lion duduk di sisi ranjang yang kosong, ia mengusap air mata iren dengan tisu yang ia raih dari atas nakas.
Iren menghela nafas berat lalu menatap lion dengan tatapan tajam, kemudian berkata " hei lion, tidak bisakah kau lepaskan ikatan ini, sampai kapan aku di ikat seperti tawanan begini" nada suaranya terdengar kesal
" aduh amih.... Berhentilah mengatakan hal yang sama terus menerus, aku ini pusing karena tidak bisa berbuat banyak" ucap lion seraya mengacak-acak kasar rambutnya yang lebat.
Iren kembali menangis, hanya dia yang tahu apakah tangisan itu murni karena ia sedih dengan keadaan dirinya, atau hanya akting untuk menguras emosi lion.
" amih iren berhentilah menangis, apa amih tidak lelah? Cobalah mengerti amih kumohon, wajah amih sudah seperti mumi karna tidak makan dengan benar, mata amih juga sudah bengkak, jika terus seperti ini, saat keluar nanti amih akan terlihat seperti nenek-nenek" bujuk lion, tapi nada suaranya terdengar kesal dan terkesan mengancam
Iren mengeram kesal, jika saja tangan dan kakinya tidak terikat, wanita itu mungkin akan memukuli lion, beruntunglah lion masih bisa berlenggang dengan aman.
Hal yang sejak lama selalu menjadi sebuah kekhawatiran kini ada di depan mata, tepat setelah lion menutup pintu, david berdiri di hadapannya, menatapnya dengan penuh curiga.
__ADS_1
" Apa yang kau lakukan disini? " tanya david, tidak seperti biasanya tatapan david begitu dingin.
" saya habis memastikan kondisi wanita yang tuan bawa, tuan dev tidak lupa kan kalau telah menitipkan dia pada saya" ucap lion, ia berusaha menutupi kegugupannya.
David tersenyum dan memeluk lion singkat, ia meminta kunci kamar itu dan menyuruh lion pergi, lion tak punya pilihan lain selain menuruti david, tapi pria itu selalu memberikan sinyal bahaya pada arsena setiap kali david masuk ke ruang rawat iren.
Iren sangat terkejut melihat kedatangan david, ia khawatir david tahu bahwa lion membantu dirinya, dengan helaan nafas berat iren langsung membuang muka ke samping, ia merasa enggan untuk menatap pria itu.
" kau masih marah padaku sayang?" ucap david seraya duduk di sisi ranjang yang kosong.
"Apa anak buah ku tidak memberimu makan? kenapa kau terlihat semakin kurus begini? " tanya david seraya mengangkat dagu iren, ia memaksa wanita itu untuk menatapnya.
" Aku tidak tahu kau mencintaiku david, dimatamu tidak ada jejak dari persaan yang kau sebut cinta tulusmu itu" ucap iren seraya menahan amarah, rasanya ia ingin meludahi pria yang berada di hadapanya itu.
" sudah lama kupendam cinta ini iren, kau tidak bisa melihatnya karena aditya membuat mu tidak peduli lagi padaku" ucap david lirih, dari nada suaranya, ia terdengar seperti orang yang kekasihnya telah direbut pria lain
" Maaf karena aku tak berdaya untuk membalas cintamu seperti yang kau inginkan david" tegas iren, tatapan matanya mengisaratkan kebenaran yang tidak bisa di bantah
__ADS_1
" tidak iren! aku tahu kau sedang berbohong, yang kau cintai itu aku, sesungguhnya kita saling cinta sayang" ucap david seraya menangkup kedua pipi iren
Iren yang tak bisa lagi menahan rasa kesalnya itu akhirnya benar-benar meludahi wajah david, hingga membuat pria itu mendengus kesal, terlihat dari caranya mengusap wajahnya dengan kasar.
" aku sudah muak mendengar kata cinta darimu david, daripada terus seperti ini lebih baik kau bunuh saja aku" teriak iren, ia seperti lehilangan kesabaranya.
Sebuah tamparan mendarat di pipi iren, david menampar iren dengan sakuat tenaga, suara dari tamparan itu bahkan sampai terdengar ke luar ruangan.
Air mata iren keluar tanpa diminta, rasa perih yang ia rasakan tidak seberapa dari pada sakit dihatinya, rasa sakit karna dipisahkan secara paksa dengan orang-orang yang ia kasihi, rasanya seluruh beban di dunia ini dia yang tengah menanggungnya.
David menyeka darah yang keluar dari sudut bibir iren, ia juga mengoleskan salep pada pipi iren yang merah karena tamparanya.
" Jangan kau obati luka ini, biarkan saja darahnya mengalir, kau tahu kau hanya membuat lukaku semakin parah david, kemarin kepalaku yang kau buat berdarah, dan sekarang wajahku, dari pada cintai kau lebih terlihat seakan tak punya hati, sungguh david, aku tak sanggup lagi" ucap iren dengan air mata yang terus mengalir dengan derasnya
David kembali memegang kepala iren untuk memaksa wanita itu menatapnya, ia mencium kening iren, beralih ke pipi kiri lalu pipi kanan, ia menyatukan kening mereka lalu berkata " maaf! Maafkan aku iren, aku tidak bermaksud melukaimu sayang, andai kau bisa lebih jujur pada dirimu sendiri, kau akan tahu bahwa cinta yang kumiliki tidak bisa kau bandingkan dengan si sampah itu, aku tidak ingin kau menyesal karena memilih dia, jadi lekas lah sembuh agar kita bisa segera menikah sayangku"
Ucapan yang terdengar lembut di telinga itu seolah meremukan hati iren, ia sudah mencoba berulang kali untuk membuat david mengerti, tapi setiap kali ia mencoba, yang ia dapatkan hanyalah luka.
__ADS_1
Iren sudah ditampar beluralng kali, dan setiap kali david menampar iren, pria itu pasti akan meminta maaf, lalu tidak lagi menampakan diri selama seminggu.