
Mention jadi ramai setelah kepulangan iren, beberapa pekerja yang ditugaskan untuk menjaga iren sedikit kewalahan menanganinya, sudah beberapa jam berlalu dan entah sudah berapa banyak pelayan yang meminta di gantikan untuk menemani iren, padahal iren hanya terus menanyakan hal yang sama, iren tidak melakukan kekerasan ataupun menyuruh melakukan hal yang merepotkan.
Maya merasa cemas karna banyak pelayan di rumahnya yang tidak bisa sabar dalam menghadapi iren, terlebih kondisi iren saat ini tidak memungkinkan untuk di tinggal sendirian.
Maya pun menghubungi nenek laksmi untuk menceritakan keadaan iren dan meminta solusi padanya, karna itu nenek laksmi mengirim neni untuk menjaga iren.
Neni adalah teman sma iren, hubungan mereka terbilang sangat dekat pada masa itu, namun setelah lulus keduanya tidak pernah lagi bertemu lagi, neni pergi ke luar negeri untuk bekerja, sementara iren melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah.
Neni dan iren kembali bertemu saat maya membawa serta iren ke rumah keluarga besar candra, selain mengenal iren, neni adalah tipikal oreng yang penyabar, karna itu ia diberi tanggung jawab untuk menjaga iren.
“ neni...!” seru iren sambil tersenyum.
“ bagaimana kabarmu iren? “ tanya neni sambil menyunggingkan senyumannya
“ apa maksudmu menanyakan kabar? Tentu saja aku baik, oh ya! Besok sma kita akan tanding basket kan! Ayo kita nonton bersama” Neni mengangguk sambil tersenyum
“ kita ada di mana nen? “ tanya iren seraya melihat sekeliling
“ kita di rumah nyonya maya” jawab neni
“ kau juga mengenal nyonya maya? “ tanya iren yang hanya di jawab oleh anggukan kepala
“ apa yang terjadi? Kenapa aku ada di rumah nyonya maya? “ tanya iren bingung
“ kita tertimpa musibah iren, kau mengalami kecelakaan dan nyonya maya membantu pengobatanmu” jawab neni
__ADS_1
“ kepalaku terluka ya! “ ucap iren seraya meraba kepalanya yang di perban, neni hanya mengangguk.
“ beristirahatlah iren agar kau bisa lekas sembuh” ucap neni sambil membantu iren berbaring, lalu menyelimutinya.
Baru lima menit iren memejamkan mata, wanita itu sudah kembali membuka matanya.
“ neni.... Kau kemana saja?” iren yang tengah berbaring tiba-tiba bangun dan memeluk neni, dan neni pun membalas pelukan itu.
Iren melepaskan pelukannya laku kembali mengajukan pertanyaan “ kau ke mana saja selama ini? Aku berusaha menghubungimu tapi tidak bisa, aku juga datang ke rumah mu tapi bibi bilang kau jadi tki, apa itu benar? ”
Neni hanya mengangguk sambil mengulum senyumnya.
“ oh ya kita bicara nanti saja” ucap iren sambil menyibakan selimutnya, ia bangkit dari tempat tidur sambil berkata “ hari ini aku ada sidang skripsi, do’akan agar semua berjalan lancar ya! ”
Iren turun dari ranjang namun langkahnya terhenti saat lengannya tertahan kabel infus-an, sebuah pertanyaan kembali terlontar dari mulutnya “ eh... Kenapa aku di infus seperti ini”
“ kau sedang sakit iren, aku tadi sudah mengabari dosenmu, kau bisa melakukan sidang di lain waktu” ucap neni seraya merangkul iren, membawanya kembali ke atas tempat tidur
“ ya sudah” ucap iren dengan helaan nafas berat
“ kita di mana nen? “ pertanyaan itu kembali terucap saat iren kembali memperhatikan sekeliling kamarnya
“ di rumah nyonya maya, kau kan tidak betah jika di rawat di rumah sakit, jadi ibu membawamu kesini karna di sini ada peralatan medis seperti di rumah sakit” tutur neni seraya kembali menyelimuti iren
“ Apa aku boleh tidur nen? Entah kenapa aku merasa lelah” ucap iren yang hanya dijawab anggukan dan senyumnya yang manis
__ADS_1
Setiap kali iren memejamkan mata atau terdiam sejenak, iren seperti orang yang berpindah dari satu masa ke masa lain, terkadang ke masa sekolah, terkadang ke masa kuliah, terkadang ke masa kerja, terkadang ke masa kehamilannya dan terkadang ke masa ia membesarkan putranya seorang diri, atau ke masa kini.
Pertanyaan seperti kita di mana? Dan Apa yang terjadi? Berulang kali iren tanyakan, tidak seperti pelayan lain yang merasa kesal dan jengkel karna harus menjelaskan hal yang sama berulang kali, neni menghadapi semua itu dengan tenang dan senyumannya yang tidak pernah hilang dari wajahnya.
Mungkin karna neni adalah orang indonesia yang selalu berprinsip pada semboyan 'untung di dalam buntung' sehingga kondisi iren yang seperti itu sesekali membuatnya tertawa.
Ya! orang indonesia bukankah memang selalu begitu, walau terperosok dalam masalah, pasti akan ada kata untung yang terucap, untung cuma ini lah! Untung cuma itulah! Si untung tetap ada di dalam buntung, entah itu masalah, kemalangan, ataupun musibah, orang indonesia kan memang terkenal pandai bersyukur.
.
.
.
.
...
Kesabaran neni patut di acungi 👍 ya readers, author juga butuh jempol kalian loh,,hehehe🤭...
...Tapi kemana perginya aditya dan yang lainya? ...
...Temukan jawaban di episode selanjutnya ya!...
...see you next time.....
__ADS_1
...