
" Apa yang sudah tuan muda lakukan? Kenapa tuan dan iren ga pake baju? " tanya iren di sela tangisannya.
Saat tengah menatap aditya, iren berpikir kenapa ia bisa begitu beruntung memiliki suami sempurna seperti aditya, namun pikirannya malah membawanya ke masa satu tahun setelah ia bekerja di rumah itu, tentu saja keadaannya saat ini membuatnya histeris.
Aditya memeluk iren seraya berkata " Maaf iren aku khilaf, aku akan tanggung jawab" lalu melepas pelukan dan menyeka air mata yang membasahi pipi iren, aditya berusaha menenangkan iren dengan kata-kata manis, membujuknya agar tidak stres.
Kedua insan itu pun kemudian bekerja sama saling membantu untuk memasangkan baju satu sama lain, lalu saling membantu untuk memasang kembali selang infus yang terlepas saat pergulatan panas tadi.
Perut iren tiba-tiba berbunyi, wanita itu berpikir kenapa perutnya bunyi? Apakah dia belum makan? Tapi pikirannya lalu membawanya ke masa yang lain, hingga iren langsung membalikan badan saat melihat aditya tengah menarik resleting celana di hadapannya.
" kenapa ren? " tanya aditya, pria itu sedikit curiga melihat sang istri yang tiba-tiba berbalik membelakangi dirinya.
" ke.. ke napa tuan melakukan itu? " tanya iren sedikit gelagapan
" melakukan apa? " tanya aditya seraya tersenyum,
Padahal pria itu tahu istrinya sudah beralih masa, keadaan iren memang memprihatinkan, tapi aditya memaksa diri untuk mulai terbiasa, dan berusaha menganggap penyakit itu sebagai sebuah candaan hidup belaka.
" tidak ada! " ucap iren
" iren tunggu! " seru aditya saat iren hendak melangkah pergi
" ada apa tuan? " tanya iren seraya berbalik, namun ia menundukan kepalanya, iren enggan menatap suami yang tengah ia anggap majikannya itu.
Aditya memegang dagu iren, memaksanya mendongak sampai tatapan mereka bertemu, namun iren melempar pandangan ke arah lain.
__ADS_1
" Kau sedang sakit dan masih harus di infus, bawa kantung infusnya jika ingin pergi" ucap aditya seraya mengangkat kantung infus iren ke udara.
Iren meraih kasar kantung infusnya lalu keluar dari kamar, langkahnya ia percepat tak kala ia menyadari aditya mengikutinya.
" sekarang tanggal berapa iren? " tanya aditya
" 3 september 20xx" jawab iren tanpa menoleh
' ia kembali lagi ke masa sehari setelah aku mendorongnya ya! ' gumam aditya dalam hati
" maaf karna aku sudah mendorongmu hingga kau jatuh dari tangga, habisnya kamu cantik, aku jadi terpesona sampai jatuh cinta pada pandangan pertama" ucap aditya yang membuat langkah iren terhenti,
Iren berpikir kenapa tuan mudanya tiba-tiba menyatakan cinta, dan seperti biasa, pikirannya membawanya ke masa yang lain, kali ini iren berada di masa termanisnya.
Aditya membalikan badan saat menyadari iren tak kunjung mengikutinya, ia tahu bahwa iren sudah beralih masa, karna itu ia sengaja memperlihatkan senyum terbaiknya lalu berkata " I love you" dengan memperlihatkan jemari yang ia bentuh hati.
Wanita yang berpikir bahwa dirinya tengah merayakan sweet seventeen itu langsung beringsut duduk di tangga yang tengah ia turuni, lalu berkata " apa aku berada di surga? "
" ia sayang, kita di surga, kau adalah bidadariku dan aku adalah malaikat tampanmu" ucap aditya,
Aditya tidak hanya menghampiri iren, tapi juga memangku tubuh sang istri setelah meminta istrinya memegang kantung infus miliknya, untungnya iren tetap anteng sampai keduanya tiba di ruang makan, sehingga aditya tidak kesulitan.
" maaf membuat kalian menunggu lama" ucap aditya seraya mendudukan iren di kursi
" aku pikir papi tidak akan turun" ucap arsena, anak itu sudah makan duluan bersama nenenya.
__ADS_1
" bagaimana keadaan kalian" tanya maya seraya menatap anak dan menantunya yang masih sama-sama di infus.
" sudah lebih baik mah, maaf ya ma! Kami jadi membuat mama hawatir" ucap aditya.
" tidak apa-apa sayang, tapi kedepannya mama hanya minta tolong pada kalian, terutama kau adi, kalau ada masalah beri tahu mama segera, jangan kaya kemarin, mama sampai tahu iren hilang dari orang lain, mama hampir jantungan karna khawatir tau! " tutur maya yang diangguki iren, aditya dan juga arsena.
Di tengah makan malam yang damai, iren tiba-tiba bangun dari duduknya dengan wajah panik, sebuah tanya terucap dengan wajah frustasi " kenapa tuan muda ada si sini si? "
Maya menggenggam tangan iren dan memintanya kembali duduk dengan gerakan isyarat, lalu berkata " habiskan dulu makananmu ya!" dengan lembut disertai belaian di pundak iren.
" tapi nyonya, bukankah semalam kita sudah sepakat! " bisik iren pada mertua yang tengah ia anggap majikan itu
" sepakat apa? " tanya maya ikut berbisik
" semalam kita sepakat, nyonya akan mengizinkan iren pulang ke indonesia jika pagi ini iren pergi ke apartemen tuan muda dan melayaninya" bisik iren
" Karna aditya sedang sakit dan kau juga sakit, gimana kalau syaratnya di ganti aja" bisik maya, wanita tua itu mendadak ingin tertawa karna pikirannya sendiri, namun ia menahannya sekuat tenaga
" di ganti gimana nyonya? " bisik iren
" Temani aditya tidur dan buatkan arsena adik perempuan" ucap maya sambil tersenyum
Karna kali ini maya tidak berbisik, ucapanya membuat aditya tersedak makanan di mulutnya sendiri, pria yang awalnya penasaran dengan apa yang tengah di bicarakan dua wanita kesayanganya itu, bisa langsung tahu apa yang terjadi setelah mendengar ucapan mamanya.
' ini tidak bisa dibiarkan, istriku sudah seperti orang yang tidak waras dan membuat semua orang tidak waras, aku harus bertindak' Batin aditya mengeluh, tapi kemudian pria itu tersenyum saat membayangkan sesosok putri cantik yang mirip dengan iren.
__ADS_1