Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
chapter Bonus


__ADS_3

Arsena mendadak jadi pendiam selama masa kehamilan iren, bukan karena tidak suka dengan kenyataan bahwa dirinya akan memiliki seorang adik, melainkan karena ia melihat betapa beratnya masa kehamilan yang dialami sang ibu.


Kehamilan kedua iren jauh lebih merepotkan dari saat ia mengandung arsena, iren selalu merasa mual hingga tidak bisa makan dengan benar, padahal saat iren mengandung arsena, ia hanya akan merasa mual di pagi hari kemudian akan hilang setelah tubuhnya terpapar sinar matahari.


Iren bahkan sampai harus beberapa kali di infus karena tubuhnya tidak ternutrisi dengan baik, tubuh yang lemah membuat iren tidak bisa melakukan banyak hal, dan hal itu terus berlanjut sampai usia kandungan iren mencapai enam bulan.


Baru saja bernafas lega, musibah lain datang seolah tidak membiarkan keluarga itu tenang, suatu hari iren mendadak kesulitan bernafas, dan setelah hari itu, iren tidak lagi di perbolehkan turun dari tempat tidur karena kondisinya dan anak dalam kandungannya cukup menghawatirkan.


Waktu kelahiran yang dokter prediksikan telah lewat, kehamilan iren sudah lebih dari sembilan bulan, namun ia tak kunjung merasakan adanya tanda-tanda akan melahirkan, karena hal itu kini iren kembali di rujuk ke rumah sakit.


Iren melakukan serangkaian pemeriksaan, tawaran untuk melakukan operasi caesar pun diajukan dokter setelah obat induksi persalinan untuk merangsang kontraksi rahim tak bisa membantu.


" bagaimana pak? " tanya dokter


Aditya yang tengah duduk di ruangan dokter itu tampak ragu, terlebih dokter telah menjelaskan bahwa kondisi tubuh iren yang tidak siap, membuka kemungkinan adanya resiko besar yang akan dihadapinya, kemungkinan terburuk yang mungkin dihadapinya itu adalah harus memilih antara menyelamatkan iren atau anak kedua mereka.


" bisakah anda memberikan saya waktu dokter, anggota keluarga saya juga berhak mengetahuinya" ucap aditya yang kemudian pergi dengan langkah pelan dan tubuh yang lesu.


Arsena yang baru di kabari setelah pulang sekolah menjadi cemas akan kondisi sang ibu dan adiknya, anak itu langsung berlari setelah tiba di rumah sakit, dengan diikuti oleh roby langkah keduanya berangsur pelan setelah hampir tiba di depan ruang rawat iren.


Arsena membuka pintu ruangan di hadapannya dengan sangat hati-hati, amihnya terlihat tengah duduk bersandar di atas tempat tidur, bersama dengan nenek maya yang duduk di sisi ranjang menemaninya.


" wah putra amih rupanya sudah pulang sekolah yah! Sini masuk sayang!" seru iren dengan senyum yang mengembang.


Dengan langkah perlahan arsena mendekati ranjang amihnya, ia memeluk tubuh iren dengan telinga yang ia tempelkan pada perut iren, anak itu juga merindukan ibunya, karena selama masa kehamilan jangankan mengurus arsean, iren bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri.


" Kenapa kau begitu nakal di dalam sana adik?" tanya sena dengan suara yang sendu,


Iren dan maya menitihkan air mata saat mendengar tanya anak itu.


"Lekaslah keluar, aku sudah tidak tahan untuk memberimu sedikit hukuman atas ulah mu itu" ancam arsena dengan suara yang bergetar menahan tangis


Arsena bergegas bangkit saat merasakan pergerakan dari perut sang ibu, padahal saat itu tangan iren sudah terulur untuk membelai rambut lebatnya.

__ADS_1


Iren memegangi perutnya yang terasa bergejolak, ia mulai meringis kesakitan, ringisan itu perlahan menjadi teriakan saat rasa sakitnya bertambah.


Maya langsung menekan tombol untuk memanggil dokter, roby berlari keluar untuk mengabari aditya, sementara arsena justru membeku di tempat, pikirannya bertanya-tanya 'apa yang terjadi pada amih? Kenapa amih tampak sangat kesakitan? Apakah ini adalah salah ku?'


Dokter setengah berlari menuju ruangan iren bersama dengan suster, aditya dan roby pun kembali keruangan.


Dokter memeriksa iren dan mengetahui bahwa iren mengalami kontraksi, ia memberi perintah pada para suster untuk menyiapkan ruang persalinan.


Arsena masih terdiam di tempat saat semua orang tampak sibuk, ia baru mulai bergerak saat melihat iren dibawa keluar dari ruan rawat itu, dengan langkah perlahan arsena mengikuti kemana amihnya akan di bawa pergi.


Langkah kecil arsena terhenti tepat di depan ruang persalinan, roby dan maya duduk dengan cemas, sementara aditya ikut masuk ke dalam sana.


Air mata arsena mulai jatuh, kakinya yang terasa membuat anak itu jatuh terduduk.


Maya amat terkejut melihat arsena, karna khawatir pada iren ia sempat melupakan anak itu, maya bergegas menghampiri arsena yang terduduk di lantai dengan air mata yang sudah membasahi pipi, maya memeluk erat tubuh kecil cucunya itu.


"Tenang sayang! Semuanya akan baik-baik saja sena" ucap maya seraya mengelus pundak cucunya itu.


Keheningan itu membuat si genius arsena gusar, anak itu turun dari pangkuan sang nenek, ia bergegas menghampiri pintu ruangan dihadapanya, arsena hendak membuka pintu itu namun seseorang telah lebih dulu membukanya.


Aditya terlihat menghela nafas lega, ia membawa sang putra dalam gendongannya lalu berkata " selamat sena! Kau sekarang telah resmi menyandang status sebagai kakak dari seorang gadis cantik"


" anak keduamu perempuan adi? " tanya roby dengan wajah senang.


"Bagaimana kondisi iren? " tanya maya


" iren baik-baik saja, ia bahkan memintaku keluar karna khawatir pada sena" jawabnya


Dokter di dalam ruangan itu nampak sedikit heran dengan kondisi yang dihadapi pasiennya, iren yang tiba-tiba kontraksi, pembukaan serta proses melahirkan yang begitu cepat , bisa dibilang ini proses melahirkan tercepat yang pernah ditanganinya, karna bayi dalam kandungan iren seperti menerobos keluar sesaat setelah ia memegang kepalanya.


Dokter itu melihat kedua telapak tanganya setelah menyelesaikan tugasnya, ia seolah masih merasakan dorongan kuat dari kepala putri iren yang baru saja lahir itu, ia tertawa karna merasa konyol dengan keadaan.


Semua orang tampak senang dan bahagia, setelah satu jam berlalu iren dan semua anggota keluarganya sudah berkumpul kembali di ruang rawat.

__ADS_1


Arsena tidak melepaskan pelukannya dari iren, anak itu bahkan ituk duduk di atas ranjang pasien yang lebar.


" Lepaskan amihmu sena, mau sampai kapan kau memeluknya" tegur aditya


" biarkan saja adi" bela iren, ia terus membelai rambut sang putra dengan lembut.


" berhenti mencium istriku sena! " tegur aditya lagi saat melihat putranya mencium pipi iren untuk kesekian kalinya


" aku mencium ibuku sendiri, papi tidak usah cemburu begitu, aku saja tidak cemburu papi terus menggendong adikku sejak tadi" semua terkekeh mendengar jawaban arsena


" Apa kalian sudah memikirkan nama untuk putri kalian? "tanya maria yang juga berada di sana seraya menggendong putranya yang baru berusia delapan bulan.


" aditya yang akan memberikan nama" sahut iren


" kenapa papi amih? " tanya sena heran, ia sedikit mendongakkan kepala menatap wajah amihnya


" papi yang minta, memangnya kenapa hah? kau keberatan sena? Amihmu sudah memberimu nama, jadi adikmu papi yang akan memberikan namanya, biar adil" aditya yang menjawabnya


" jadi siapa namanya adi? " tanya roby yang juga penasaran


" Cepat beri tahu kami adi, mama juga penasaran" ucap maya saat melihat aditya hanya tersenyum


"Reski aditya lake" jawab aditya,


" nama yang indah" maria memuji nama itu


Arsena melirik menatap amihnya, ia mencium pipi iren lagi lalu berkata " terimakasih karna amih sudah memberiku nama yang indah, nama yang papi berikan pada adikku sangat aneh, kasihan adik" dengan suara yang pelan


" papi dengar ucapan mu sena" ucap aditya sedikit kesal.


Arsena terkekeh dalam dekapan amihnya, arsena sengaja mengatakan hal itu untu menjahili papinya, membuatnya sedikit kesal dan itu berhasil.


Keisengan arsena sudah kembali lagi.

__ADS_1


__ADS_2