Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Morning kiss


__ADS_3

“ Iren... Aku mau ke depannya kau memberiku morning kiss setiap hari, terserah mau sesudah atau sebelum sarapan, tapi kurasa setelah bangun tidur lebih baik” ucap aditya seraya mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk, senyumnya mereka begitu lebar, kepuasan bahkan tersirat jelas di matanya.


Iren masih terbaring mematung di sofa, ia terlalu terkejut dengan serangan tiba-tiba yang aditya berikan, pasalnya aditya tidak hanya mencium bibir iren seperti biasanya, tapi kali ini aditya juga memberikan tanda merah di atas salah satu buah dada iren, meski begitu ia masih bisa mendengar semua yang aditya katakan.


“ kamu tidak bangun begitu apa karna mau aku melakukan lebih iren” ucap aditya seraya memperlihatkan ekspresi wajah liciknya, hal itu sontak membuat iren tersadar.


Iren bergegas mengubah posisi jadi duduk di samping aditya, ia memasangkan kembali kancing baju yang lepas, setelah selesai merapikan pakaian yang ia kenakan, iren bangkit dari duduknya.


“ mau ke mana? “ tanya aditya saat melihat iren beranjak pergi


“ kerja” ucap iren seraya berlalu


Sikap iren seperti orang yang linglung, mungkin karna pikirannya tengah mencari memori tentang bagaimana dan kapan aditya membuka kancing atas bajunya, karna iren benar-benar tidak menyadari hal itu, tahu-tahu aditya melepas tautan bibir mereka dan langsung turun ke bawah, iren masih mengingat saat ia terpaksa membekap mulutnya sendiri ketika menahan sebuah rasa yang sulit untuk di jabarkan.


Dan ketika iren memutar handle pintu, gorden ruangan itu pun kembali terbuka dengan otomatis.


“ Aku tidak menyangka ternyata aditya bisa bersikap begitu ketika marah” gumam iren sesaat setelah ia menutup pintu


“ iren kau baik-baik saja?” tanya naya, ia tidak benar-benar peduli, sikap baiknya itu ia tunjukan hanya karna saat itu ada beberapa karyawan lain di sekitarnya.

__ADS_1


Iren memeluk naya erat lalu berkata “ biarkan aku seperti ini sebentar saja”


“ kau baik-baik saja? “ tanya naya seraya melepas pelukan, kali ini naya tulus menanyakan keadaan iren


“ ya ampun bu iren, tanganmu sampai merah begini? “ ucap aam seraya mengangkat satu tangan iren yang memang memiliki tanda merah bekas cengkraman.


“ aku tidak apa-apa, terima kasih sudah mencemaskanku” seru iren dengan tak enak hati


“ kenapa pak aditya kasar padamu? Kau tahu iren, selama aku jadi sekretaris pak adit, baru ini aku melihat pak adit kasar” ucap naya


“ iya, bisanya kalau marah paling hanya ucapannya saja yang kasar” seru ane menimpali


“ sebaiknya kalian kembali, aku takut pak adit marah jika melihat kita berkumpul begini” ucap iren,


Iren mendadak brigidig ngeri saat bayangan masa lalu melintas, memikirkan bagaimana jika aditya menjadikan alasan hukuman untuk memaksanya berhubungan, walau sudah lama iren masih mengingat rasa sakit yang harus ia alami malam itu.


“ kasihan bu iren” seru imas sesaat setelah melihat iren berlalu, mereka pun membubarkan diri untuk kembali bekerja.


Di sisi lain.

__ADS_1


Ciuman itu ternyata mampu menjadi booster bagi aditya, ia bisa bekerja lebih cepat dengan pikiran yang tenag, sampai seorang pengganggu datang ke ruangannya.


“ permisi pak adit, saya membawa dokumen untuk anda tandatangani “ ucap naya seraya menebar senyum semanis madu.


Aditya mendongak menatap naya dengan helaan nafas panjang, ia mengernyit ketika melihat satu kancing atas baju naya terbuka.


Naya meletakan berkas tepat di hadapan aditya, dan saat itu juga aditya tersenyum melihat belahan dada naya.


.


.


.


.


Apakah naya sengaja menggoda?


Dan apakah aditya tergoda?

__ADS_1


__ADS_2