
Aditya terbangun saat merasakan darahnya tertarik karna cairan infusan nya habis, ia pun bangkit dari tidurnya dan beralih ke kamar sebelah untuk mengambil cairan infus yang baru.
Dokter stevan memberinya 3 kantung cairan infus, aditya sudah menghabiskan 2 kantung dalam waktu kurang dari setengah hari, dan yang ia ambil adalah kantung terakhirnya.
Aditya sebenarnya enggan memasang kantung infus baru karna ia sudah merasa lebih baik, namun mengingat ucapan dokter stevan yang mengatakan " habiskan 3 kantung cairan infus ini jika kau tidak ingin jatuh pingsan lagi , dan terpaksa di bawa ke rumah sakit” membuatnya tak punya pilihan selain menurut, karna ia harus menjaga iren, serta masih ada putranya juga yang harus ia perhatikan.
Aditya kembali ke kamar iren setelah selesai mengganti kantung infusnya, ia kembali naik ke ranjang yang sama, namun saat aditya hendak kembali tidur ia mendengar suara handel pintu yang di buka, kepala sang putra terlihat masuk mengintip dari pintu yang hanya terbuka sedikit itu.
“ masuklah nak” seru aditya
“ apa yang sedang papi lakukan? Kenapa papi tidak tidur?“ tanya arsena seraya masuk ke dalam kamar
“ papi sudah tidur nak, papi baru saja bangun untuk mengganti kantung infus, ada apa? “ tanya aditya, ia membawa putranya ke dalam pangkuannya.
“ aku ingin mengajak papi makan malam bersama, nenek juga sudah menunggu di bawah” ucap arsena yang mendapat anggukan dari aditya
Iren terbangun karna mendengar percakapan ke duanya, ia terkejut melihat aditya dan arsena berada di atas ranjang yang sama dengannya.
Arsena dan aditya pun jadi saling pandang, keduanya tak tahu harus bagaimana karna iren hanya menatap keduanya dengan tatapan tajam penuh selidik.
Sampai sebuah tanya terucap dari mulut iren “ kalian berdua sangat mirip, apa kalian ayah dan anak, atau kalian bersaudara? ”
“ dia papi ku “ jawab arsena seraya memeluk aditya dengan manja
“ sepertinya aku mengenalmu” ucap iren seraya mendekatkan wajahnya untuk melihat arsena lebih dekat, anak itu hanya diam dan memperhatikan apa yang akan ibunya lakukan.
“ ah ya! Aku ingat sekarang” ucap iren seraya mulai menjauhkan tubuhnya
__ADS_1
“ kau tuan muda aditya kan! “ seru iren seraya menunjuk ke arah arsena, ia bahkan mencubit gemas pipi arsena seraya berkata “ kau sangat imut, lucu dan menggemaskan”
“ berapa umurmu? “ tanya arsena seraya tersenyum lalu beralih duduk di pangkuan iren, pikiran jahil anak yang belum dewasa itu kembali muncul, dan membuat aditya menggelengkan kepala
“ aku 15 tahun” jawab iren
“ bagaimana kau mengenalku? “ tanya arsena
“ ah... Itu... Nyonya maya sering memperlihatkan foto putranya saat berkunjung ke rumahku” jawab iren
Arsena mengangguk lalu menatap iren dengan lekat, anak itu menciumi wajah iren lalu berkata “ aku mencium mu karna kau sangat cantik, maukah kau menikah denganku sayang” lalu membelai lembut pipi iren
“ menikah? Dasar anak nakal, kau berani menggoda ibumu sendiri hah! ” ucap iren yang kemudian menjewer telinga arsena
Iren berpikir kenapa anak di pangkuannya mencium dirinya, namun pikirannya membawa iren pada ingatan lain, iren seperti beralih ke masa di mana dirinya membesarkan sang putra.
Aditya tertawa bahkan sampai terbahak-bahak melihat anak dan istrinya yang terlihat konyol, namun tawanya terhenti saat iren juga menjewer telinganya hingga membuat pria itu mengaduh
“ ahhh.... Kenapa kau menjewer ku iren? “ tanya aditya seraya berusaha melepaskan jeweran tangan iren
“Kenapa tuan muda ada di sini? Tuan muda sengaja kan datang ke indonesia untuk.... Mmm...
Belum sempat iren melanjutkan kata-katanya, ia sudah diserang oleh aditya, pria itu mencium bibir iren setelah tangannya refleks membuat arsena menoleh ke arah lain, mencegah agar arsena tidak melihat apa yang tidak seharusnya.
Arsena bangkit dari pangkuan iren, anak itu meninggalkan kamar orang tuanya tanpa menoleh ke belakang, ia sudah di ajari dengan baik oleh iren, pengertiannya akan situasi sangat baik, ia bahkan memahami kapan dirinya harus pergi dan tidak ikut urusan orang dewasa.
Aditya mencium iren dengan sangat rakus setelah putranya pergi, tangannya bahkan semakin erat menahan kepala iren agar tidak menjauh, pria itu menyalurkan semua rindu yang ia tahan selama sebulan.
__ADS_1
Iren yang semula menolak tiba-tiba membalas ciuman itu, ia kembali mencium aditya sesaat setelah aditya melepaskannya, tanganya bahkan bergerak aktif membuka kancing kemeja aditya, bahkan sampai membuka kancing celana juga.
Keadaan seolah berpihak pada aditya, pikiran iren membawanya ke masa saat ia kembali dinikahi oleh suaminya, hingga keduanya bisa melakukan hubungan suami istri dengan lancar.
Iren menatap aditya dengan dalam setelah keduanya menyelesaikan percintaan mereka, sebenarnya aditya tidak berniat untuk melakukan hubungan badan, tapi pria itu senang karna iren membuatnya melakukan itu.
Namun ada satu masalah, setelah diam selama 10 menit, iren malah menangis tersedu-sedu, pikirannya kembali membawanya ke masa yang lain.
.
.
.
.
Nah loh aditya.....
"Lagian si! udah tau istrinya lagi sakit, pikiranya pindah2 kaya cenel tv, eh malah begituan... " kata hati bagian kiri
" Jangan salahkan aditya, dia mah laki, di pancing dikit langsung ngekor, apalagi yang mancing istri tercinta " kata hati bagian kanan
Kalau kata readers gimana?
Jawab di komen ya!
Kalau mau itu juga, kalau engga ya 👍 nya aja dech! 😁
__ADS_1