
Iren bertemu naya ketika ia keluar dari lift, tangannya bahkan ditarik dengan kasar, memaksa iren ikut dengannya.
“ mau ke mana? “ tanya naya dengan tatapan yang menunjukkan ke tidak suka annya
Setelah mengetahui iren akan pergi menemui aditya, naya melemparkan pekerjaannya dengan memberikan baju aditya pada pegawai lain untuk dibawa ke binatu.
Naya mencegah iren untuk menemui aditya dengan berbagai alasan dan obrolan yang tidak jelas, cukup lama mereka berdebat, iren sampai lelah terus berdiri menghadapinya.
“ kau tidak di perbolehkan menemui pak adit, karna beliau akan ada rapat penting” itulah alasan terakhir yang paling logis menurut iren
Dari semua alasan yang naya katakan sebelumnya, iren bisa menyimpulkan bahwa naya menyukai aditya, karna itu, iren semakin tidak boleh percaya begitu saja pada naya.
Iren pun memutuskan untuk mengirim pesan pada aditya, berharap aditya bisa datang menghampirinya, atau paling tidak, aditya bisa mengirim roby agar iren bisa terlepas dari naya.
Iren
Aku ingin bicara sesuatu
Apa kita bisa bertemu sekarang?
Aditya tidak langsung membalas pesan itu, padahal ia sudah jengah karna dipaksa mendengarkan cerita yang entah tentang siapa, iren tidak tahu dan bahkan tidak mengenalnya, yang pasti ia kini terjebak bersama naya.
Ponsel iren berbunyi, akhirnya aditya membalas chat yang iren kirim, iren membaca chat balasan dari aditya dan mengabaikan naya yang masih terus saja bicara yang tidak jelas.
^^^Dewa kebersihan^^^
^^^Aku ada rapat^^^
__ADS_1
^^^Beri aku alasan kalau itu memang penting^^^
Iren merasa tidak puas setelah membaca balasan dari aditya,
Iren
Aku ada di depan lift|
Setelah berpikir sejenak iren menghapus pesan itu dengan cepat dan kembali menulis
Iren
Aku benci naya, dia mencegahku untuk me|
Iren kembali menghapus pesan itu dan memikirkan balasan lain
Iren
Iren menggelengkan kepala seraya kembali menghapus pesan itu dan kembali menulis balasan lain
Iren
Tidak! Aku bisa menunggu
Iren mengirim pesan itu, iren baru percaya pada naya saat aditya membenarkan bahwa ia akan ada rapat.
“ aku akan menunggu aditya di ruang tunggu” ucap iren menghentikan ocehan naya
__ADS_1
“ tidak bisa! Pak adit sedang sibuk dan tidak bisa diganggu” ucap naya, wanita itu tetap saja melarang iren.
Iren menggaruk kepalanya yang tidak gatal karna sudah benar-benar jengah, sampai sebuah ide mendarat cantik di kepalanya.
“ nay aku tahu kau menyukai aditya” naya tampak memutar bola matanya mendengar iren mengatakan itu
“ aku punya surat perceraian ditanganku, aku datang untuk memberikan ini pada tuan aditya, masa berlakunya hanya sampai jam 3 sore ini loh!” ucap iren seraya mengipasi dirinya dengan berkas itu.
Naya merampas berkas itu dari tangan iren dengan kasar, ia tidak percaya jika belum melihatnya sendiri, senyumnya tampak mengembang saat membaca judul dari berkas itu.
“ apa kau masih tidak memperbolehkan aku menemui aditya? ” Tanya iren dengan senyum jahilnya.
Naya menarik tangan iren, ia mengembalikan berkas itu ke tangan iren dengan kasar, lalu berkata “ pergilah! Pekerjaan baik tidak boleh ditunda” sambil tersenyum senang kemudian berlalu pergi
Iren menghela nafas lega, namun bagi iren permainan ini masih belum berakhir.
“ hi sekretaris! Kau tidak akan mengantarku ke ruangan bos mu? “ seru iren saat naya sudah berada jauh darinya
Naya berbalik lalu berkata “ kau pergi saja sendiri, aku masih harus memeriksa ruang rapat” dengan suara keras seraya berjalan mundur
“ dasar! Gitu tuh kalau orang udah diperbudak rasa cinta, mau aja di kibulin” ucap iren seraya berlalu, ia melenggang cantik menuju ruangan aditya,
Iren mendapatkan kepuasan tersendiri setelah merasa berhasil mengerjai naya hingga bisa terlepas dari wanita itu, sifat jahil itu sepertinya tertular dari sang putra, atau mungkin sebaliknya, putranya jahil karna mendapat turunan dari iren.
Iren masuk ke ruangan aditya tanpa permisi, ruangan itu tampak kosong, karna itu iren langsung mendudukkan diri di sofa panjang, sampai iren mendengar suara yang tidak asing di telinga.
“ kau tahu roby, di saat semua wanita memamerkan tubuhnya untuk menarik perhatianku, iren datang dalam hidupku dengan penampilan tertutup”
__ADS_1