
Satu bulan bukanlah waktu yang bisa di bilang sebentar, jika dalam kurun waktu 720 jam itu kau hanya tidur 15 jam, atau kurang lebih 30 menit/hari, banyak melakukan pekerjaan, bahkan sampai tidak makan dengan benar, apakah tubuhmu akan tetap baik-baik saja?
Tentu tidak!
Seperti halnya aditya, ia mengorbankan waktu tidurnya untuk mencari sang istri, tetap bekerja untuk memenuhi tanggung jawabnya pada posisinya sebagai ceo, pikirannya yang kalut membuatnya melupakan yang namanya makanan, tak jarang ia menahan rasa laparnya hanya karna 'tanggung'.
Setelah semua itu, tentu saja ia tidak bisa terus merasa baik-baik saja, tubuhnya sudah melampaui semua batas kekuatan yang ada, meski ia terus menahan kepalanya yang terasa berat, pria itu akhirnya amburk sesaat setelah membawa istrinya pulang ke rumah.
Dokter stevan sampai membius aditya untuk memaksanya istrirahat, karna setelah sadar pria itu memaksa untuk tetap menjaga iren,
Meski tubuhnya berbaring, meski matanya terpejam, pikiran aditya mengenang lagi hal yang membuatnya jatuh cinta pada iren, meski iren sudah merasuk di kepalanya, ambisi untuk memiliki iren bergejolak, tapi ia tidak berbuat apa-apa karna tidak tahu harus mulai dari mana.
__ADS_1
Banyak mimpi tentang iren yang membuatnya antusias, ia ingin mengejar cintanya, namun kenangan tentang lika-liku kehidupan rumah tangga yang ia lihat seolah menjeratnya, memaksanya untuk tetap diam.
Dulu aditya takut semakin jatuh cinta, takut membuat iren kecewa, takut perjalanan rumah tangganya nanti tak seindah yang ia kira, semua rasa takut itu membuatnya tak bisa bebas mengekspresikan rasa cintanya.
Aditya memang memutuskan untuk berusaha memadamkan rasa takut yang membuatnya lebih memilih melepaskan, ia berusaha untuk mengakui perasaannya, meski hal itu memang tak selalu indah seperti yang aditya kira, aditya berusaha yang terbaik dalam hubungannya, tapi tetap saja ada sedikit rasa penyesalan dalam hatinya.
Andai ia diberi kesempatan untuk bisa kembali ke masa lalu, andai waktu benar-benar bisa kembali tidak hanya dalam ingatan iren saja, andai ia bisa mengendalikan waktu, semua kata ‘andai' yang berkaitan dengan waktu terus berputar di kepalanya.
Aditya kembali membuka matanya, ia memijat kepalanya yang masih terasa pening, hingga aditya bangkit dari tempat tidurnya karna mengingat iren.
“Hi Neni, kau disini? apa yang terjadi?”
__ADS_1
Iren kembali terbangun dan kembali menanyakan hal yang sama, neni tersenyum lalu berkata “ kau sedang sakit iren, aku di sini untuk menjagamu”
Aditya menyelonong masuk begitu saja, ia bahkan naik ke atas tempat tidur tanpa meminta izin dari wanita yang tengah berbaring di sana, ia membaringkan dirinya dengan mengabaikan iren yang sampai melongo melihatnya.
“ kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya aditya dengan santainya
“ aku sakit karna dirimu, jadi kau yang harus bertanggung jawab” ucap aditya menjawab pertanyaan dari tatapan yang diberikan sang istri.
Tangan iren reflek bergerak mengusap pucuk kepala aditya, lalu mengecup keningnya dengan lembut.
Aditya menarik tangan iren sampai memaksa wanita itu berbaring di sampingnya, aditya menutup mata iren dengan telapak tangannya, kenyamanan yang iren rasakan saat itu membuatnya benar-benar terlelap.
__ADS_1
Setelah sepuluh menit berlalu dan iren tidak kembali bangun, aditya pun meminta neni untuk pergi beristirahat, dan dirinya pun ikut menyusul istrinya ke alam mimpi.
Tanpa iren dan aditya ketahui, di ambang pintu kamar itu ada dua wajah yang tersenyum seraya memperhatikan mereka.