
" Aku memutuskan untuk berdamai dengan kenyataan dik, bekerjalah dengan rajin" ucap aditya kemudian berlalu,
Naya mengikuti aditya dari belakang, sesekali ia melihat ke arah iren yang masih terduduk di sana, ia semakin penasaran akan sosok iren, terlebih karna aditya dan maya menutup rapat informasi mengenai keluarga.
Ada juga yang bertekad untuk terlihat baik di mata iren, dea menatap iren dengan tatapan yang sulit iren baca, iren sampai berpikir jangan-jangan dea menaruh hati padanya, pikirannya semakin kuat ketika dea tiba-tiba menggenggam lembut tangan iren, seperti seorang kekasih yang hendak menyatakan cinta.
" tak apa jika miss tidak ingin menjadi sponsor bagi ike, kita pasti akan menemukan banyak cara untuk mengembangkan butik, seperti kata pepatah banyak jalan menuju roma" ucap dea lembut
Iren yang mendengarnya sampai merinding, ia menarik tanganya dengan cepat lalu berkata " dea, jika kau ingin membantu, sebaiknya jangan merepotkan diri dengan pikiran mengembangkan butik, karna aku tidak berniat untuk membuat usahaku lebih besar dari saat ini, biarkan butik tetap seperti ini, ok! "
Dea akhirnya mengerti setiap tindakan iren yang dianggapnya aneh, ia mengangguk lalu mengajak iren kembali.
Di sisi lain, ada yang tengah mengeluhkan arsena pada maya.
__ADS_1
" nyonya! cucu nyonya ini sebaiknya langsung di masukan ke perguruan tinggi saja" ucap kepala sekolah
" yang benar saja, cucu saya ini baru berusia 6 tahun" sahut maya tak habis pikir
" kepala sekolah benar nyonya, otak arsena tidak bisa menerima pelajaran dari kami, jadi percuma saja cucu nyonya masuk sekolah dasar" ucap guru arsena
" apa kau sedang menghina cucuku? " maya mulai kesal
" itu bukan hinaan tapi pujian jadi tolong jangan marah" ucap kepala sekolah
" sebenarnya apa yang terjadi? " tanya maya tak mengerti
Guru arsena menjelaskan bahwa selama mengikuti kelas arsena hanya bengong saja, arsena seolah enggan untuk belajar, tapi saat diberikan pertanyaan arsena selalu menjawab dengan benar, karna kesal guru itu sampai memberi pertanyaan bertingkat, dari pelajaran kelas satu beranjak naik sampai materi untuk anak sekolah menengah atas, dan arsena menjawabnya dengan mudah.
__ADS_1
Guru itu membawa arsena dan mengeluhkannya pada kepala sekolah, tentu saja kepala sekolah tidak mempercayai hal itu, ia memberikan setumpuk soal ujian yang tengah ia persiapkan untuk anak sekolah menengah atas, dan nilai arsena hampir mendekati sempurna, terlebih dalam pelajaran komputer.
Kepala sekolah bahkan menunjukan semuanya pada maya, hal itu membuat maya syok, ia berdiri dari duduknya kemudian menatap arsena dari dinding kaca ruangan kepala sekolah, arsena nampak tengah asik berkutat dengan laptopnya.
" Apa kalian tidak bisa mengabaikan kecerdasan anak itu" ucap maya seraya menyentuh bayangan arsena dari kaca
"biarkan dia hidup normal seperti anak-anak lain, dia masih berusia 6thn" ucap maya seraya berbalik, menatap guru dan kepala sekolah itu
Kepala sekolah terlihat tengah mempertimbangkan ucapan maya, menerima arsena sebagai murid sekolah itu adalah sebuah keberuntungan, kelak sekolah itu mungkin akan menjadi sejarah dimana salah satu orang cerdas belajar, meski sebenarnya itu hanya sebuah jejak, tapi membiarkan arsena bertumbuh dan mempelajari hal lain dari lingkungan sekolah sama sekali tidak mendatangkan kerugian besar.
" etika anak itu masih kurang, sena sangat nakal dan jahil" ucap maya dengan wajah memelas
" baiklah, kami akan mengabaikan kecerdasan arsena, dan memperlakukannya setara dengan anak yang lainnya" ucap kepala sekolah, pada akhirnya ia tetap mempertahankan arsena sebagai murid.
__ADS_1