Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
video call


__ADS_3

Roby terganggu dengan siulan arsena, ia yang awalnya mendengarkan rencana pencarian yang aditya utarakan, malah berpaling melihat ke arah arsena.


" hei roby, fokus donk! " tegur aditya


" Maaf! Abisnya aku baru kali ini melihat anak kecil begitu senang mengerjakan pr, lihat putramu itu adi, dia sampai bersiul begitu" ucap roby, gerak matanya menunjuk ke arah arsena


Aditya jadi ikut memperhatikan arsena, anak itu memang nampak sangat senang mengerjakan tugas seperti tengah bermain game, jika maya masih di sana mungkin ia akan berkata bahwa arsena memang selalu senang saat mempelajari hal baru, sayangnya maya harus pergi karena urusan pekerjaan, jadi tidak ada yang bisa menjelaskanya.


Aditya dan roby yang curiga, mencoba mengintip untuk memastikan bahwa arsena memang tidak sedang bermain game, dan yang terlihat dari jauh sepertinya arsena memang tidak sedang bermain game.


Arsena yang sadar pergerakanya menjadi pusat perhatian langung mengalihkan layar laptopnya, ia yang semula tengah mempelajari bukti-bukti jejahatan david beralih membuka sebuah situs sejarah dari web.


Arsena bersiul sangat kencang untuk mengundang perhatian lebih, kedua pria dewasa itu terpancing, mereka bangkit dari duduknya dan melihat apa yang tengah arsena baca, mereka khawatir arsena membaca sesuatu yang belum pantas untuk dipelajari.


Dan begitu mereka mendekat, layar laprop itu beralih memunculkan sebuah panggilan vidio call, arsena berpura-pura memasang wajah tegang saat menerima panggilan yang sebenarnya sudah ia nantikan itu.


" Lepaskan aku.... Kumohon.... Sena.... tolong.... " suara iren sampai membuat aditya tersentak.


Tubuh aditya mendadak lemas saat melihat layar laptop putranya, layar itu memperlihatkan iren yang terbaring di atas tempat tidur dalam kondisi yang tidak baik, tangan dan kaki iren terikat kain sutra ke setiap sudut tempat tidur, dan sebuah perban yang juga terlihat melilit di kepalanya.


" Iren! " lirih aditya

__ADS_1


" sayang apa yang terjadi? Dimana kau sekarang? " tanya aditya tidak sabaran


" Sena.... Tolong amih nak... Amih sangat takut..." jawab iren dengan berurai air mata


" iya sayang, sabar sebentar ya! Aku dan yang lain masih berusaha mencari keberadaan mu" sahut aditya, ia menyentuh layar laptop itu.


Tangis iren tiba-tiba terhenti, matanya membulat sempurna, iya lalu bertanya " Sena! Siapa pria kurang ajar dan jelek itu? Berani sekali dia memanggil amih sayang? "


Aditya mendengus kesal karna iren tidak mengenali dirinya, sementara roby dan arsena malah terkekeh karena menganggap itu lucu.


" pria kurang ajar yang amih bilang jelek itu suami amih sendiri" ucap arsena, anak itu berusaha menahan tawanya agar tidak pecah.


" Masa si? Perasaan papi kamu ganteng dehh! Dan sejak kapan pami mu brewokan gitu?" ucap iren, ia masih melayangkan tatapan jijik pada suaminya sendiri


Meski belum mengucapkan selama tinggal pada penyakit psikisnya, tapi ia mulai membaik seiring berjalanya waktu, aditya masih kritis pada kebersihan lingkungan, namun untuk kebersihan dirinya sendiri sudah berkurang, pria itu sudah tidak lagi mengantungi tisu basah dan hand sanitizer, walau ia masih memakainya.


Aditya tidak senang melihat ekspresi wajah iren yang sepertinya tidak percaya dengan ucapannya, ia lalu berkata "hei iren! Kau mau jadi istri durhaka hah! Aku ini suamimu, papinya sena" tegas aditya dengan tatapan yang mengancam.


" Iren! aku kaya gini karna sibuk mengurus hotel dan mencari dirimu, kondisiku jadi tak terawat karena kau tidak ada di sisiku sayang" ucap aditya menjelaskan, nada suaranya terdengar sedikit merengek


" matikan" ucap iren pelan sambil memberikan kode pada seseorang, dan panggilan vidio itu langsung berakhir saat itu juga.

__ADS_1


Hanya arsena yang tahu, dan hanya arsena yang bersikap santai, aditya dan roby sibuk menelpon seorang ahli it untuk melacak lokasi dari panggilan itu.


Sudah satu jam mereka menunggu dan para ahli itu belum ada yang bisa melacak lokasi jaringan lawan, hal itu terjadi karna aresna sudah membajak semua komputer di markas musuh, karena itu jaringannya jadi acak-acakan seperti benang kusut.


Setelah mendapat kode dari para ahli yang menyerah, aditya dan roby melihat ke arah arsena secara bersamaan, mereka menatap anak itu dengan penuh harap.


" kenapa menatapku? " tanya arsena seraya menatap kedua pria dewasa itu secara bergantian, sebenarnya arsena tahu apa yang para orang dewasa itu inginkan, ia berpura-pura lugu agar bisa membalas papinya.


" tidak bisakah kau membantu menemukan amih mu sena" ucap aditya


" Iya sena! Kau kan juga ahli di bidang ini" roby menyahuti


" Memangnya anak kecil ini bisa apa papi" jawab sena dengan gaya polosnya.


Aditya mendengus kesal, roby juga.


.


.


.

__ADS_1


.


Ucapan aditya yang meremehkan putranya itu malah di kembalikan pada dirinya sendiri, hihihi.... 🤭


__ADS_2