
Di sabtu pagi yang cerah, aditya tidak melakukan olahraga pagi seperti biasanya, ia sibuk membereskan berkas pekerjaan yang ia bawa pulang ke apartemen, semua itu demi mewujudkan tuntutan ibu dan juga putranya yang menginginkan untuk tinggal bersama, aditya dipaksa pindah ke mansion, dan ia tak kuasa menolak.
Saat keluar dari apartemen, aditya bertemu dengan dua wanita, naya yang juga hendak keluar dan dea yang baru kembali setelah olah raga pagi.
" loh... kau? "
Dea dan naya saling tunjuk satu sama lain, keduanya baru tahu bahwa mereka bertetangga, mereka sama-sama tinggal di sebelah apartemen aditya, jika naya mengisi apartemen di samping kiri apartemen aditya, maka dea tinggal di samping kanan, keduanya tinggal di satu atap selama bertahun-tahun, tapi tidak juga saling mengetahui hal itu.
Dea dan naya bahkan tidak saling mengenal ataupun bertemu sebelumnya, mungkin karna keduanya memiliki aktivitas berbeda.
" tuan aditya tumben tidak lari pagi? " tanya dea seraya mengelap keringatnya dengan handuk kecil
" ia dea, hari ini aku menginap di mansion, dan sepertinya untuk seterusnya pun akan tinggal di sana" jawab aditya ramah, keramahan itu adalah buah dari kerja keras dea dalam mendekati aditya
" tuan tidak akan tinggal di sini lagi? " kini giliran naya yang bertanya.
__ADS_1
" ia naya, rasanya berat meninggalkan apartemen ini, tapi yah mau bagaimana lagi" sahut aditya, sikap aditya pada naya pun tak jauh berbeda, karna naya juga sangat bekerja keras untuk mendekati aditya.
Aditya pamit pada dua wanita itu, naya dan dea sama-sama memperlihatkan senyum manis mereka, tapi senyuman itu berubah jadi tataan tajam setelah aditya tidak lagi berada di depan mereka, keduanya saling menyadari perasaan orang yang mereka anggap lawan.
" jika kau suka pada aditya sebaiknya lupakan saja" ucap naya tegas
" siapa kau yang berani mengurusi urusanku, seharusnya kau yang berhenti bermimpi, karna aditya hanya akan menjadi milik dea seorang" ucap dea dengan penuh percaya diri.
Disaat kedua wanita itu menyatakan deklarasi perang secara terbuka, iren justru masih tertidur pulas di dalam kamar aditya, dan di ranjang aditya pula, tapi arsena yang jahil tidak bisa membiarkannya begitu saja.
" amih bangun"
Kali ini arsena memaksa mata iren untuk terbuka, namun iren malah berbalik mengubah posisi lalu kembali tidur.
" amih ayo cepat bangun! " seru arsena lagi
__ADS_1
Arsena mencubit hidung iren agar terbangun, namun iren malah berkata
" biarkan amih tidur nak, ini kan hari libur, amih tidak punya pekerjaan di rumah ini, mereka melarang amih bekerja, dan butik juga libur, jadi biarkan amih tidur lagi oke!" kemudian tidur lagi
Arsena menggelengkan kepala melihat kelakuan amihnya yang malas-malasan, tapi arsena tidak bisa menyerah begitu saja, pikiran iseng arsena seolah tidak pernah menghilang dari otak kecilnya yang cerdas itu.
" tidurlah yang nyenyak amih, amih tidak usah bangun hari ini, karna sena akan pergi belajar menembak"
Bisikan arsena itu membuat mata iren terbuka sempurna, ia menatap putranya seraya berkata "jangan berani coba-caba"
Arsena tersenyum mendapat peringatan keras dari sang ibu, arsena memang tidak berniat melakukan hal itu karna ia tahu iren tidak menyukainya, ia hanya mengatakannya untuk memaksa iren bangun.
" tidak akan amih" sahut arsena lembut
" ayo lekas mandi amih, ada tugas untuk amih" ucap arsena seraya menarik tangan iren.
__ADS_1
Karna rasa kantuknya sudah menghilang iren terpaksa menuruti keinginan putranya, ia tidak bertanya tugas apa penting apa yang harus di lakukan, karna ia sudah tahu putranya itu pasti hanya ingin meminta ditemani pergi bermain ke taman hiburan.