Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Drama kecil


__ADS_3

Aditya mengajak iren ke apartemennya, rasa kekhawatiran iren terhadap sang putra membuatnya kesulitan untuk berhenti menangis, namun pada akhirnya iren tertidur dalam pelukan aditya karna kelelahan.


Jika berpikir secara logika, aditya bisa saja memindahkan iren ke atas tempat tidur, namun entah kenapa ia enggan melakukan itu dan lebih memilih tidur berimpitan di atas sofa, alhasil setelah aditya bangun tangannya kesemutan karna memeluk iren sepanjang malam.


Karna tidur terlalu larut, aditya dan iren jadi bangun kesiangan, itupun karna mendengar dering ponsel aditya, jika tidak! Siapa yang tahu akan sampai kapan mereka tidur.


Tepat pukul 6:30 aditya mendapat kabar dari roby, ia pun mengajak iren untuk pergi menemui arsena di sekolahnya, mereka pergi begitu terburu-buru sampai tidak melakukan rutinitas pagi, ini pertama kalinya seorang aditya melewatkan yang namanya mandi.


Di depan salah satu kelas, arsena terlihat tengah mengobrol dengan beberapa temannya, iren merasa ada yang berbeda dengan putranya itu.


“ sena!“ seru iren lembut,


Iren mendekat lalu memeluk putranya, iren menciumi wajah arsena mulai dari pipi kiri, pipi kanan lalu kening, sementara aditya hanya mengacak pelan rambut arsena.


“ kau ke mana saja nak? “ tanya iren seraya membelai lembut pipi putranya


“ tuan muda ar, apa mereka orang tuamu? “ tanya seorang anak perempuan berambut pirang


Arsena hanya mengangguk lalu berkata “ kalian pergilah ke kelas duluan, nanti aku akan menyusul” sambil tersenyum pada teman-temannya.


Iren merasa miris melihat sikap arsena yang tidak seperti biasanya, arsena tidak berlari memeluk atau bahkan tersenyum padanya, arsena hanya menatapnya dalam diam.


“ ada apa kalian kesini? “ tanya arsena, yang semakin membuat iren terkejut,


“ kalian” iren mengulangi sebutan yang terdengar kasar baginya, aditya menepuk pelan punggung iren seolah mengerti kegundahan hatinya.


“ saat amih pulang sena pergi kemana? Dan kenapa baju sena tidak ada di lemari? “ tanya iren


“ Sena tidur di rumah nenek buyut semalam, dan masalah baju-baju itu,,, “ arsena menghentikan penjelasanya, ia menatap aditya dan iren dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


Arsena ingin tersenyum melihat papi dan maminya masih mengenakan pakayan yang sama seperti kemarin, di tambah dengan noda lipstik di ujung kerah dan leher aditya.


‘Jangan tersenyum sena, jangan tersenyum, ingat kata paman roby, jangan cepat puas dengan pencapaian kecil, selalu ingatlah tujuan yang lebih besar dari itu' itulah kata-kata yang sena ucapkan dalam hati saat menahan diri.


Arsena memalingkan wajah karna mulai merasa tidak mampu lagi untuk menekan rasa bahagianya, ia membuka mulutnya lebar-lebar, mengucapkan hurup pokal a-i-u-e-o tanpa suara untuk menghilangkan rasa kram di sekitar mulut akibat menahan senyumanya.


Arsena terisak dan menyeka bagian bawah matanya untuk mengelabui orang tuanya, menampilkan kesan seolah arsena tengah menahan tangis, disela drama kecilnya itu ia memasang earphone di telinganya dan terhubung dengan roby.


“ ada apa sayang?“ tanya aditya cemas seraya duduk di samping arsena


“ amih juga duduklah” pinta arsena seraya menarik tangan iren untuk ikut duduk disampingnya,


Arsena melirik ke arah amih dan papinya yang duduk di sebelah kanan dan kirinya, lalu berkata “ sena sudah mengambil keputusan, mulai hari ini sena akan....


Arsena menghentikan ucapannya kemudian menundukkan kepala untuk lebih mendramatisir keadaan, lalu kembali berkata “ sena akan tinggal di asrama sekolah” tanpa menatap kedua orang tuanya, karna arsena tidak bisa berbohong di hadapan mereka.


“ sena dan papi baru saja bertemu, kenapa kita harus berpisah lagi sayang? “ ucap aditya, ia juga merasa sesak saat mendengar ucapan putranya.


“Sena memang bilang ingin tinggal bersama amih dan papi sama seperti yang lain, tapi setelah tinggal bersama, sena merasa tidak senang melihat hubungan papi dan amih yang hambar” ucap arsena menjelaskan


“ jangan bicara seolah kau tahu segalanya tentang hubungan arsena, kau itu belum lama menjalani kehidupan seperti amih dan papimu ini” ucap aditya seraya bangkit dari duduknya.


“ sena memang anak kecil, tapi coba papi dan amih pikir! Sampai kapan kita akan hidup seperti ini? Apa sampai ada oreng ketiga yang akan menghancurkan hubungan kita”


“ Arsena!” pekik aditya kesal


“Jangan pernah bicara seperti itu nak” ucap aditya tegas seraya berbalik menatap sang putra.


Iren hanya terdiam, ia biasanya selalu bangga saat arsena menunjukkan sisi kedewasaannya, tapi kali ini ia bahkan tidak merasa senang, ucapan putranya itu kembali mengingatkan iren pada ucapan maya “ menerima itu bukan sekedar bersedia tinggal serumah”

__ADS_1


“ sejujurnya sena kecewa, ternya kasih sayang papi dan amih tidak cukup besar, karna baik amih ataupun papi tidak ada yang mau berusaha untuk menjadi dekat walau demi sena”


Kali ini aditya tidak bisa lagi berkata-kata, ucapan arsena menusuk tepat di relung hati aditya, iren pun merasakan hal yang sama, keduanya saling menatap dalam diam.


Seorang guru datang dan membawa sena pergi karna bel sudah berbunyi, tapi waktu seolah berhenti untuk aditya dan iren, keduanya masih saling menatap dalam diam sampai tidak sadar dengan apa yang terjadi di sekitar mereka.


“good job boy! “


“ arsena, lepas earphone nya, kita akan mulai belajar” seru ibu guru mengingatkan


“ Sudah dulu ya paman roby, sena mau masuk kelas” ucap arsena yang kemudian mencopot earphone dari telinganya.


.


.


.


.


Ada apa ini?


Apa yang terjadi?


Apa semua yang arsena katakan itu sebenarnya roby yang mengajarkan?


Roby oh roby, ini tidak benar roby! kenapa kau menarik anak kecil dalam drama percintaan orang dewasa? Kau juga membuat arsena berbohong....


Tapi... salah gak sich kalau aku bilang aku suka𓆩😋𓆪

__ADS_1


__ADS_2