Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Dasi warna merah


__ADS_3

Di candra hotel tepatnya di dalam ruangan ceo, aditya tengah membaca sebuah file yang di berikan roby, selama tiga hari ini, aditya meminta roby untuk memberikan informasi mengenai pria yang tengah mendekat dan tertarik pada iren.


“ Sepertinya tuan harus bertindak, mereka bukanlah orang yang tepat untuk nyonya iren, terlebih lagi pria yang namanya david itu” ucap roby


“ bukankah kau sendiri yang bilang jangan bermain api jika tidak ada cinta” ucap aditya seraya menutup berkas itu.


“ aku memang mengatakan hal itu, tapi sekarang aku berubah pikiran, dari pada nyonya iren terjerumus ke lubang buaya, bukankah akan lebih baik jika nyonya bersama tuan ” ucap roby meyakinkan, aditya nampak berpikir dengan serius


“ jika tuan mau, aku juga bisa membantu tuan untuk membuat nyonya jatuh cinta pada tuan” ucap roby lagi, ia memberi penawaran sambil tersenyum jahil


“ kalaupun aku harus membuat iren jatuh cinta, aku tidak akan meminta saran dari mu, karna aku tahu semua rencanamu pasti berakhir di atas ranjang” Sahut aditya, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya.


“ ya sudah kalau tidak mau” ucap roby dengan santainya.


Sesuai permintaan aditya, roby selalu memperlihatkan foto iren bersama pria yang berbeda, ia juga memberikan data pribadi tentang pria-pria itu, dengan dalih mencarikan kekasih untuk iren, roby berusaha mengubah cara pandang aditya terhadap sebuah hubungan.


Roby mengedit foto iren bersama pria lain itu agar terlihat mesra hingga memantik kecemburuan, memanipulasi data dengan melebih-lebihkan keburukan mereka, untuk membangkitkan rasa percaya diri aditya untuk menjalin hubungan.


Di sisi lain, kedua wanita membuka pintu secara bersamaan di tempat yang berbeda.


Iren masuk ke dalam hotel. Sementara naya masuk ke ruangan ceo, ia masuk untuk mengingatkan jadwal rapat bulanan yang akan berlangsung kurang dari satu jam.


Aditya bangkit dari duduknya seraya membuka kaos yang sudah melekat di tubuhnya sejak pagi, ia melempar kaos itu pada naya lalu berjalan menuju kamar mandi.


‘ kapan kau akan mengubah kebiasaan membuka baju sembarangan adi, naya juga, bukanya menundukkan kepala, ia malah menikmati tubuh aditya dengan tidak tahu malu' batin roby seraya mengikuti aditya sampai ke depan pintu.


Aditya mengeluarkan tanganya, memberikan celana jogger pants yang baru saja ia lepaskan pada roby, dan roby melemparkannya pada naya dengan kasar, lalu berkata “ pergilah! Jangan lupa cek ruang rapatnya lagi”

__ADS_1


Roby menyiapkan baju untuk aditya di ruangan ganti, tepat di sebelah kamar mandi, roby melempar celana saat melihat aditya keluar dari pintu kamar mandi yang langsung terhubung ke ruang ganti.


“ kenapa kau kesal begitu?” tanya aditya seraya menarik celana yang mendarat dikepalanya.


“ sekretarismu itu, caranya menatapmu sudah seperti serigala liar yang hendak menerkam mangsa tau ga? ” ucap roby kesal, ia bicara santai karna sedang mengambil peran sebagai sahabat aditya


“ benarkah! “ seru aditya tak percaya


Roby tidak menyahuti ucapan aditya, ia tengah sibuk memilihkan dasi yang cocok.


“ karna kau akan rapat dengan para general manajer dari beberapa hotel cabang dan juga manajer keuangan, aku rasa warna merah akan lebih cocok” ucap roby, ia benar-benar memberikan dasi warna merah menyala pada aditya.


Di depan cermin aditya melihat pantulan gambar dirinya yang baru saja mengenakan jas baru, namun bukanya memikirkan data statistik keuangan, aditya justru memikirkan banyaknya pria yang tengah mendekati iren.


Menurut kaca mata seorang aditya, tidak ada satu pun dari mereka yang baik dan cocok untuk bersama iren.


Mendengar hal itu, mata roby jadi berbinar, merasakan umpan yang ia lempar sudah mengenai sasaran, hanya tinggal menambah sedikit taburan garam.


“ kau benar tuan, tuan lebih tampan dari mereka, lebih cerdas, lebih pintar, mereka itu tidak ada apa-apa nya, kasihan kan nona iren jika harus bersama dengan salah satu dari mereka” bisik roby mengagungkan


“Sangat sangat tidak cocok” ucap aditya


Roby membantu aditya memasang dasi seraya berkata “ jangan sampai iren jatuh ke tangan mereka tuan, apalagi si david, jika itu terjadi dia pasti akan sangat tersiksa” entah sudah berapa kali roby mengatakan hal itu.


Ponsel aditya berbunyi menandakan ada pesan yang masuk, roby merasa terganggu dengan bunyi pesan masuk itu, wajahnya bahkan terlihat kesal saat mengambil ponsel aditya, namun setelah roby melihat siapa yang mengirim chat, ia tersenyum melihat nama iren tertera di layar ponsel itu.


Roby memberikan ponsel itu pada aditya seraya berkata “ ada pesan masuk dari nyonya iren”

__ADS_1


^^^Iren🫀❤^^^


^^^aku ingin bicara sesuatu^^^


^^^Apa kita bisa bertemu sekarang?^^^


Aditya.


aku ada rapat


Beri aku alasan kalau itu memang penting


^^^Iren🫀❤^^^


^^^Tidak! Aku bisa menunggu^^^


Cukup lama aditya menunggu balasan dari iren, namun setelah mendapat balasan sari iren aditya sama sekali tidak membalas lagi pesan darinya itu, namun ia penasaran dengan apa yang hendak iren bicarakan.


.


.


.


.


Iren mau bilang apa?

__ADS_1


__ADS_2