
Tak butuh waktu lama, satu persatu polisi mulai masuk untuk mencoba mengendalikan keadaan, entah bagaimana mulanya, keributan itu bahkan sampai di telinga aditya.
Aditya melihat iren yang terduduk di panggung terkoyak oleh kerumunan, ia melepas jas -nya lalu berjalan menghampiri iren.
" menyingkir lah... aku agen CBI...." seru david mengheningkan suasana
Agen CBI memang istimewa di negara itu, selain memiliki hak untuk mengambil alih kasus secara spontan, mereka juga memiliki kewenangan untuk menangkap setiap orang yang dianggap mengganggu proses penyelidikan.
Aditya melihat david muncul dari belakang panggung lalu mengambil kamera mini yang berada di box itu. Kehadirannya membantu memudahkan pihak kepolisian untuk membawa jenazah lady mira dari sana.
David mendekati iren, merangkulnya, membantunya bangkit sebelum aditya sampai ke atas panggung, david mendudukkan iren di kursi penonton, tepat di sebelah roby membaringkan asisten lady mira uang jatuh pingsan.
Iren melihat david menggenggam erat kamera kecil milik lady mira. david menyadari tatapan itu, ia kemudian langsung memasukan kamera itu ke saku celananya.
Iren kemudian berseru " kamera itu tidak bisa merekam vidio" seraya terus menatap saku celana david
__ADS_1
David menatap iren dengan penuh tanya, berbeda dengan tatapan aditya yang sendu.
" disana" iren menunjuk ke arah printer yang sudah mati karna kertasnya habis, david melihat arah tunjuk iren, tapi aditya tidak memalingkan tatapannya.
" semua yang tersorot kamera langsung muncul di layar dan tercetak di kertas dalam bentuk animasi" ucap iren menjelaskan
Seorang petugas polisi langsung mengamankan kertas-kertas itu, hingga tiba-tiba sebuah bisikan terdengar di telinga iren.
" lihatlah, tanda cakaran pelaku pembunuhan itu sama dengan tanda di wajah petugas CBI itu" entah suara milik siapa
Iren melihat kertas-kertas yang tengah diserahkan pada david, ia juga melirik wajah david, ada tanda cakaran yang sama di bawah telinganya, hal itu menanamkan kecurigaan di hati.
" Iren adalah salah satu saksi mata yang melihat jelas kejadian itu, jadi dia akan ikut denganku, berada di bawah perlindunganku, itu lebih aman baginya" ucap david pada aditya
Melihat iren hanya diam, aditya pun tidak mencegah david untuk membawa iren pergi, terlebih saat di loby, aditya sempat menangkap binar cinta di mata iren saat bersama david, membuatnya semakin tak bisa berkutik.
__ADS_1
Bagi aditya, ketenangan iren dan keamanannya lah yang terpenting, jika iren saja tidak menolaknya, ia juga tidak bisa seenak hati menghentikan david.
David membawa iren ke kamarnya, mendudukkan iren di tepi ranjang, kemudian berlutut di hadapan iren.
" iren kau percaya padaku kan! Aku tidak akan membunuh orang yang tidak bersalah, terlebih aku tidak pernah mengenalnya" ucap david seraya memegangi tangan iren.
" luka itu, bagaimana kau mendapatkannya?" tanya iren penasaran
" oh... luka cakar ini" david menyentuh luka itu
" Ada seorang wanita yang selalu mengejar-ngejar diriku, aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu aku disini, dan bagaimana dia bisa masuk ke kamarku, luka ini aku dapatkan darinya, karna aku menolak untuk memenuhi hasratnya" ucap david dengan nada sendu
Ucapan david terdengar meyakinkan, namun entah kenapa keraguan di hati kecil iren tidak menghilang, terlebih lagi jika mengingat ucapan penjual kopi pinggir jalan, saat iren tengah membayar kopi, penjual kopi itu berbisik pada iren.
" Berhati-hatilah nona, pria yang akan pergi bersamamu bukan hanya agen CBI biasa, dia tidak sebaik yang terlihat, jika kau menginginkan informasi tentangnya, datanglah lagi ke tempat ini nanti malam"
__ADS_1