Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Entahlah...


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaan, dea mengajak iren untuk makan malam bersama, dan iren pun menyetujuinya, mereka makan di restoran kecil pinggir jalan, iren lah yang memilih tempatnya.


" tempat ini masih tidak berubah" ucap iren seraya mengamati sekitarnya


" aku tidak tahu kalau miss suka dengan tempat seperti ini" ucap dea


Iren menikmati makan malamnya bersama dea, meski iren tidak tahu apa yang membuat dea berubah, sampai siang tadi nada bicaranya masih terdengar sedikit keras, tapi entah kenapa kini terdengar lebih lembut, tidak hanya itu, dea bahkan membayar semua tagihan makan malam mereka.


Iren keluar dari warung tenda lebih dulu, tanpa sengaja seseorang menabrak dirinya, dan ketika ia hendak terjatuh, seorang pria menarik lengan iren lalu menangkap tubuh iren dalam pelukannya.


Iren terpesona pada pria itu, rahang yang kokoh, otot yang menonjol dari balik kemeja putih, bola mata kecoklatan, serta warna kulit asia yang khas, tepat seperti pria yang iren mimpikan selama ini.


Pria itu tersenyum dengan begitu manis, lesung pipinya yang menggemaskan membuat hati iren menjerit, apa iren sedang jatuh cinta? Entahlah...


Pria itu melepaskan iren secara perlahan, namun ia tak melepaskan pandangannya dari iren, mungkin pria itu juga terpesona.


" David, kau disini? " ucap dea menyapa pria itu


" ah iya dea, kebetulan aku sedang ada pekerjaan di sekitar sini, kau sendiri sedang apa? " ucap david tanpa melepaskan pandangannya dari iren


" Aku baru selesai makan dengan miss iren" jawab dea

__ADS_1


" mereka terlihat dekat? Apa dia pacar dea? " tanya iren dalam hati ketika ia melihat dea mencubit pinggang david, padahal dea melakukan itu hanya untuk membuat david tersadar dari lamunannya,


" Ah... Maaf atas sikap tidak sopan saya nona" ucap david lembut


" tak apa" sahut iren seraya menggeleng


" lagi pula anda melakukan itu untuk menolong saya, seharusnya saya yang berterima kasih" lanjut iren


" itu tidak diperlukan, sebuah kehormatan bisa menangkap seorang bidadari yang hampir terjatuh" ucap david sambil tersenyum, ia kembali menatap iren, saat melihat perubahan wajah iren ia pun meralat ucapannya


" ah... maksud saya, saya senang bisa membantu" ucap david seraya mengelus tengkuknya untuk menutupi kegugupannya.


Wajah iren memerah, angin yang berhembus kencang menerbangkan syal yang iren kenakan, semilir angin yang menerjang wajah serta rambut iren membuatnya terlihat sangat cantik di mata david.


" terimakasih untuk semuanya, ini sudah larut, aku permisi" ucap iren kemudian berlalu.


Iren berjalan menuju mobilnya, sang sopir dengan sigap membukakan pintu untuk iren, namun ketika sopir itu hendak menutup pintu david datang dan menahannya.


David sedikit menunduk untuk melihat ke dalam mobil, ia menyodorkan ponselnya seraya berkata " jika nona berkenan"


Iren mengangguk sambil tersenyum, ia meraih ponsel david, memasukan nomor ponsel serta namanya di sana, lalu mengembalikannya.

__ADS_1


" terima kasih" ucap david seraya mengambil ponselnya,


David menutup pintu mobil itu lalu berkata " Berhati-hatilah saat mengemudi" pada sopir iren, iren mendengarnya dan ia terkesan.


Di tempat yang tidak jauh, aditya tengah memperhatikan keadaan sekitar, mencari pemilik syal yang hinggap di wajahnya.


" tuan ban mobilnya sudah saya ganti" ucap roby


" baiklah ayo!" sahut aditya, ia kembali ke dalam mobil seraya membawa syal itu.


" itu milik siapa? " tanya roby ketika melihat aditya tengah meletakan syal dari kaca spion.


" entahlah, tadi jatuh dari langit" jawab aditya


" mungkinkah itu milik bidadari? " tanya roby sedikit bercanda


" ya! jika bidadari itu ada ini pasti miliknya" jawab aditya seraya tersenyum kecil


" nawang wulan" seru keduanya lalu tertawan


" tunggulah nawang wulan, tuan jaka tarub harus pergi meeting dulu dengan klien" ucap roby dengan nada mendramatisir

__ADS_1


" berhenti bercanda dan perhatikan jalan, awas saja jika kau sampai melindas paku lagi" tegur aditya dengan tegas


" itukan bukan salahku" keluh roby pelan seraya menghela nafas kasar.


__ADS_2