Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Kesal


__ADS_3

" Aditya aku ingin bicara" seru naya, ia menghentikan langkah kaki aditya yang hendak menaiki anak tangga


" kita bicara di taman samping saja nay" ucap aditya.


Arsena berlari menuruni anak tangga, ia menghadang langkah kaki aditya seraya merentangkan tangan, namun aditya malah menggendong arsena, membawanya ke taman di samping rumah.


" mba tolong bawakan teh ke samping" pinta aditya pada salah satu pelayan.


Aditya dan naya duduk berhadapan di meja bundar taman, sementara arsena duduk di dalam pangkuan sang papa.


" Aditya soal berita yang tersebar di koran pagi ini...


Ucapan naya terpotong saat aditya mengucapkan terimakasih pada pelayan yang menyajikan teh untuk mereka, aditya meneguk teh sebelum membuka suaranya.


" Aku minta maaf nay, aku tidak tahu bagaimana mereka bisa membuat berita tidak benar seperti itu, kau pasti tidak nyaman ya! " ucap aditya

__ADS_1


" ah.. iya! "


Naya terdengar kecewa mendengar ucapan aditya, karna kata-kata 'berita tidak benar' itu berarti penolakan.


" Aku memang menemui kedua orang tua mu, tapi tidak untuk melamar, apa kau kecewa? " aditya mencoba membaca ekspresi wajah naya saat mengatakan itu.


" Tidak adit, apa maksudmu kecewa? ayolah!" elaknya


Aditya tersenyum puas setelah melihat wajah itu, cara naya mengelak untuk mengakui perasaanya itu masih sama seperti dulu.


"Karna kau sama sekali tidak memiliki ketertarikan padaku, aku jadi nyaman dekat-dekat denganmu, kau adalah satu-satunya teman wanitaku, kau tahu itu! "


" baguslah, aku harap kita bisa terus berteman seperti ini ya nay!" ucap aditya setelah menghabiskan tehnya


" aku masuk dulu nay! gerah nich abis olahraga" ucap aditya seraya bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Aditya pun berjalan dan menghilang di ambang pintu, ia tidak pergi ke atas, pria itu masih memperhatikan wajah naya dari balik jendela, wanita itu terlihat menggeram kesal, ia bahkan memukul meja dengan tangan yang mengepal.


" bang*sat! Kenapa aku harus terjebak dalam pertemanan konyol ini? Kenapa aditya tidak bisa mengerti, tidak ada pertemanan diantara pria dan wanita, tapi jika aku menyatakan perasaanku, sudah pasti aditya akan menjaga jarak dariku, seperti saat dea mengutarakan perasaanya, ahhh..... " Keluh naya frustasi, dan keluhan itu bisa terdengar oleh aditya dan arsena yang masih memperhatikannya.


" Jangan tiru sikap buruknya! Kau dengar itu nak! " aditya menasehati putranya yang masih ada dalam menggendongnya.


" Papi tahu apa yang hendak kau tanyakan sayang, dan papi rasa kau sudah mendapat jawaban dari pertanyaan itu" arsena mengangguk


Aditya membawa arsena ke dalam kamarnya, ia mendudukkan arsena di atas tempat tidur, lalu menggenggam erat kedua tangan kecil itu sambil berlutut.


" sena dengarkan papi ya! Papi tidak membawa naya untuk menjalin hubungan dengannya, papi juga tidak berniat untuk memberinya status, apapun yang papi lakukan, itu semua semata-mata demi ketenangan kita kedepannya, papi harap sena bisa berpikir bijaksana, jikapun papi nanti menikah lagi, maka percayalah, semua papi lakukan demi kebaikan" tutur aditya, nada suaranya lembut dan juga sangat tenang, tapi tidak bisa menenangkan hati anak kecil dihadapanya itu.


" Apa papi berniat untuk menikah lagi? " tanya arsena dengan tatapan menyelidik


Aditya membuang muka sambil tersipu malu, namun ia kembali menatap putranya, membelai rambut arsena dengan lembut seraya berkata " meski dia memiliki kekurangan, dia akan jadi ibu yang baik untukmu sena, karna dia baik hati sama seperti amihmu"

__ADS_1


Arsena tidak suka mendengar ucapan papinya, namun aditya mengartikan ekspresi itu sebagai bentuk kecemaaan putranya, ia pun bangkit berdiri dengan helaan nafas yang terdengar berat.


" sudah... Jangan terus memikirkan apa yang belum terjadi sena, lekaslah bersiap, papi ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat" ucap aditya seraya mengacak kasar ramut arsena.


__ADS_2