Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Gosip


__ADS_3

Di pantry terlihat beberapa karyawan wanita yang tengah berkumpul, mereka yang tengah asik mengobrol menghentikan pembicaraan untuk menyapa iren yang baru saja masuk, saat itu iren hendak membuat teh untuk aditya.


" selamat pagi bu asisten " sapa mereka dengan hangat


" pagi juga! Apa ada hal seru sampai membuat kalian terlihat begitu senang? " tanya iren, ia mencoba berbaur dengan pegawai yang ada di ruangan itu.


" kami sedang membahas gosip yang beredar di kantor bu" seru pegawai dengan name tag ane


" gosip? " tanya iren bingung


" kami tahu bergosip adalah hal yang tabu di OCH, tapi sebagai wanita ibu pasti mengerti kan! hidup ini hampa tanpa adanya gosip" seru seorang karyawan dengan name tag aam


Mereka tiba-tiba mendekati iren secara bersamaan, ada yang membantu mengambilkan satu bungkus teh hijau, dan ada pula yang mengambilkan sendok kecil untuk mengaduk teh yang hendak iren seduh.


" ada apa si? " tanya iren dengan penuh kecurigaan.


" bu asisten, ibu pasti kenal sama istrinya pak adit kan! Apa dia sangat cantik? " tanya aam dengan penuh semangat, iren hanya mengangguk sambil tersenyum manis.


" oh ya! Saya dengar pak adit kemaren wik-wik sama istrinya di ruang ganti? apa itu benar bu? saya dengar ibu ada di sana juga" ucap wanita dengan name tag imas.


Ucapan imas sontak membuat iren menghentikan aktivitasnya, ia melepaskan sendok yang tengah ia gunakan untuk mengaduk teh, menaruhnya di meja dengan kasar, lalu berbalik menyandarkan dirinya pada meja pantry.


Iren menatap keempat wanita yang mengelilinginya secara bergantian, ia bisa melihat tatapan mereka yang penuh harap, seolah tengah menanti iren membenarkan gosip yang beredar itu.


" tidak ada kejadian seperti itu" bantah iren tegas seraya melipat tangan di dada.


Imas mengambilkan piring kecil, iren kembali berbalik setelah menerima piring itu, dan ane memberikan sekotak kukis untuk disajikan seraya berkata " tapi bu lilis dari bagian perencanaan bilang bahwa ibu iren juga ada di sana"

__ADS_1


" terus ibu lilis bilang apa lagi? " tanya iren penasaran


"dia bilang kemarin saat ia hendak menyerahkan dokumen, dia mendengar suara pak adit mendesah nikmat dari ruang ganti, dia yang hendak duduk pun bergegas meninggalkan ruangan karena takut dimarahi pak adit, tapi kemudian bu lilis melihat ibu keluar dari toilet pribadi pak adit, jika ibu sedang menggunakan toilet di ruangan itu, bukankah itu artinya ibu mendengar segalanya" tutur nita


Iren terkejut mendengar pernyataan nita, ia tak menduga bahwa mereka sama sekali tidak berpikir bahwa iren lah istri ceo yang tengah mereka bicarakan.


Iren lebih terkejut lagi saat melihat kepala aditya yang tiba-tiba muncul di ambang pintu, dari tatapannya aditya terlihat sangat kesal.


" nyonya irenia lake! Apa aku memperkerjakan dirimu untuk bersantai ria? Ikut aku ke ruangan, cepat! " ucap aditya dengan nada kesal


" maaf ya bu, karena kami mengajak ibu bergosip, ibu jadi dimarahi pak adit" ucap ane seraya memegang tangan iren, dan yang lainya pun ikut memegang lengan iren seolah merasakan perasaan bersalah yang sama.


Iren melepaskan tangan mereka lalu mengambil teh dan kudapan yang sudah disiapkan bersama, sebelum berlalu ia berkata" jangan terlalu khawatir, aku tidak marah pada kalian"


" kami lebih takut bu asisten dipecat tahu! " seru imas setelah iren keluar dari ruangan itu


" iya! setelah sekian lama tertekan kita merasa lega karena pak roby cuti, jika bu iren dipecat bisa gawat, kebebasan bergosip seperti ini akan hilang lagi" seru ane menimpali


Melihat naya yang tengah duduk dengan santai, mereka pun menatap naya secara bersamaan, lalu mendekati naya untuk meminta bantuan darinya.


" baiklah, aku akan membantu jika situasinya memburuk, tapi kita amati saja dari sini dulu" ucap naya seraya berdiri di depan kaca jendela


Dari jendela itu, mereka melihat aditya yang tengah duduk di sofa terus menatap iren dengan kesal, dan iren yang tengah meletakan nampan di atas meja sambil tersenyum manis.


Aditya menarik iren dengan kencang sampai membuat iren terhuyung, iren terlihat berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman aditya.


" kasihan bu iren, kenapa pak adit harus sekasar itu? Bu naya lakukan sesuatu" seru imas cemas

__ADS_1


Naya menghela nafas kasar lalu berniat untuk menerobos masuk, namun tiba-tiba pintu ruangan itu terkunci, gorden jendela pun tertutup dengan sempurna, para wanita yang berada di luar pun dilanda kecemasan.


Sementara itu, di dalam ruangan ceo, iren tengah meringis kesakitan karena aditya mencengkeram tangannya dengan kuat.


" sakit adi, tolong lepaskan" pinta iren untuk kesekian kalinya


" kalau sakit berhenti meronta, toh mereka juga sudah tidak melihat kita" ucap aditya dengan santai.


" Sebenarnya apa kesalahanku adi? " tanya iren tak mengerti


" kau tidak tahu? Ucapan mu tadi pagi membuat roby salah faham padaku, karena itu dia meninju perutku dengan sangat kencang, dan untuk itu istri nakal ini harus di hukum" ucap aditya seraya menyeringai


" kenapa kau menyalahkan aku? Bukankah kau memang tengah mempermainkan roby, aku mendengar apa yang kau katakan padanya dari dalam kamar mandi" ucap iren dengan serius


" wah wah wah... hukumannya harus ditambah karena istriku tersayang berani membantah"


Aditya kemudian menarik iren jatuh ke pangkuannya, iren membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak dan membuat orang yang berada di luar salah faham.


Senyum aditya bertambah lebar melihat tindakan sang istri, ia membaringkan tubuh iren di sofa, lalu menarik tangan iren kemudian mengecup bibir indah sang istri dengan lembut, iren mengalungkan tangannya di leher aditya saat membalas ciuman sang suami.


" iren... Aku mau...


.


.


.

__ADS_1


.


Mau apa? Mau apa? Aditya mau apa? Tulisannya kenapa mendadak gaib sampai tidak terlihat hah...


__ADS_2