Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Seperti kembali ke masa lalu


__ADS_3

Aditya jadi merasa seperti kembali ke masa lalu karna ingatan iren yang bermasalah, di tengah kesedihan yang melanda hatinya, ia merasa senang setiap kali melihat Iran tertawa saat bercanda dengan mamanya.


“Aditya kemarilah”


Aditya mendekat kearah dua wanita yang sangat dicintainya itu, ia memenuhi panggilan sang mama, lalu bertanya pada sang istri “Bagaimana keadaanmu?”


“aku sudah merasa lebih baik, tapi kenapa wajahmu terlihat murung begitu?” tanya iren


Aditya menggelengkan kepalanya, senyuman di bibirnya terlihat getir, iren sampai merasa sedih dan tak kuasa menahan air matanya, meski ingatannya kacau hatinya tetap tahu siapa pemiliknya.


“ hei iren! Kenapa kau malah menangis? “ tanya aditya seraya mengusap air mata di pipi iren


“ aku juga tidak tahu, aku hanya merasa sedih melihat wajahmu seperti itu” jawab iren seraya mengusap matanya yang basah


Aditya membalikkan badan karna tak kuasa menahan air matanya, maya menarik aditya ke dalam pelukannya, lalu mengajak iren masuk ke pelukannya juga, dua insan yang tengah dipeluk itu saling curi pandang satu sama lain.


“ iren mau pulang aja nyonya” ucap iren setelah melepaskan pelukannya


“ tidak boleh! Kau masih harus dirawat” seru aditya dengan tegas

__ADS_1


“ tapi aku tidak suka rumah sakit, lagipula lukaku tidak terlalu parah, dokternya aja yang lebai, kepalaku hanya lecet saja sampai di perban setebal ini” keluh iren, ingatannya tengah berada di masa saat kepalanya sedikit lecet akibat jatuh dari tangga yang tidak terlalu tinggi.


“ ya udah iya! Tapi hanya jika dokter mengizinkanmu pulang, ok! “ ucap maya, iren bersorak dengan senangnya.


“ mah! Iren masih sakit dan perlu perawatan” protes aditya, wajah iren mendadak berubah masam mendengar protes itu.


“ tidak apa-apa, kita bisa merawat iren di rumah” ucap maya yang membuat senyum iren kembali mengembang


Maya meminta iren untuk istirahat, kemudian ia mengajak aditya untuk keluar, bukan hanya agar iren bisa beristirahat dengan lebih baik, tapi wanita yang sudah jadi nenek itu juga ingin bicara dengan putranya.


Maya membawa aditya untuk duduk di kantin rumah sakit, ia memesan sarapan untuk mereka, namun aditya enggan untuk menyentuhnya.


“ Nanti saja, aku sedang tidak berselera” Aditya kembali meletakan sendok itu


“ Ayolah aditya, jika kau sakit siapa yang akan menjaga iren?” bujuk maya


“ Akan jauh lebih baik jika aku saja yang sakit mah”


Maya bangkit dari duduknya, ia kembali memeluk sang putra, memintanya menumpahkan tangis kesedihannya.

__ADS_1


“ Ikhlaskan semua yang terjadi nak, bersabarlah walau berat, percayalah.... Iren pasti akan sembuh” ucap maya seraya meneteskan air matanya,


“ aku takut mah, bagaimana jika iren pergi saat melihat kita sebagai orang asing” ucap aditya sendu, walau tidak sampai termehek-mehek, tapi air matanya terus menetes.


Maya melepaskan pelukanya, ia menangkup wajah sang putra lalu berkata “ iren tidak akan pernah melihat kita sebagai orang asing, percayalah pada mamamu ini”


“ bagaimana jika nanti dia juga melupakan mamah, mamah juga tahu kan bahwa ingatan iren kacau” ucap aditya seraya menggenggam pergelangan tangan sang mama


“ Aditya, sebelumnya mamah tidak pernah mengatakannya padamu, sebenarnya mamah ada di setiap tahun dalam ingatan iren”


“ maksud mamah”


“ mamah sudah mengenal iren sejak dia masih dalam kandungan, saat dia tidak mengenalimu, dia pasti akan tetap mengenali mama sebagai nyonya maya, teman dari ibunya, dan mamah tidak akan membiarkan iren pergi jauh dari kita” tutur maya, mendengar hal itu aditya pun kembali menghambur ke dalam pelukan maya.


Aditya merasa sedikit lega karena ia tahu setidaknya irene tidak akan melupakan mamanya, dan mamanya tidak akan membiarkan irene pergi dari sisinya.


Namun kecemasan aditya belum sepenuhnya hilang, masih ada arsena, ia yang belum tahu tentang apa yang terjadi pada ibunya, dan aditya sedikit bingung tentang bagaimana dirinya akan menjelaskan kepada putra semata wayangnya itu.


Maya kembali duduk di tempatnya setelah pelukan mereka terlepas, melihat wajah putranya ia pun kembali bersua “ Kau fokus saja menjaga iren, yang lainya biar mamah yang urus, setelah sarapan, mamah akan pulang untuk menyingkirkan semua kalender agar iren tidak bingung saat melihat tanggal dan tahun, mama juga akan memberi penjelasan pada para pelayan agar mereka tidak melakukan kesalahan, dan jangan cemaskan arsena, biar nanti mama juga yang menjelaskan padanya ya!”

__ADS_1


Ibu itu tahu apa yang masih membuat raut wajah putranya terlihat cemas, aditya tersenyum, lalu menghela nafas berat seolah melepas semua beban yang ada, ia juga tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih pada mamanya itu.


__ADS_2