
Aditya mencoba membuka pintu apartemen naya dengan sandi tanggal ulang tahunya, dan mengejutkan, pintu apartemen itu benar-benar terbuka.
Aditya memanfaatkan kesempatan itu untuk menggeledah seluruh ruangan, berharap bisa menemukan bukti atau apapun yang bisa di jadikan petunjuk.
Dan saat ia membuka kamar naya, ada begitu banyak gambar dirinya di dalam sana, dari mulai foto, poster, dan sketsa wajah terpampang memenuhi dinding, bahkan sampai seprai dan sarung bantal pun ada gambar wajah aditya nya.
" Adi! Ini benar-benar gila"
" Sebaiknya kita bergegas rob, aku jadi merinding melihat semua ini"
Walau sudah dibantu roby, aditya tetap tidak bisa menemukan bukti, ia hanya menemukan satu bingkai foto yang naya simpan di dalam laci nakas samping tempat tidurnya.
Aditya men scan foto itu, dari google aditya mengetahui bahwa ayahnya naya adalah seorang anggota dewan, dan ibunya adalah seorang sosialita yang aktif dan cukup berpengaruh.
" rob tolong cari kelemahan kedua orang tuanya untuk jaga-jaga"
Roby mengangguk, ia memotret foto yang aditya berikan, lalu mengirimnya pada anak buahnya, dan tak lama ponsel roby itu berdering, panggilan masuk dari pak jade
Roby: Hallo
pak jade: lapor pak! Naya sudah pulang, ia baru saja turun dari mobil dan tengah berjalan masuk ke gedung.
Roby: baik, terimakasih
__ADS_1
" adi naya sudah pulang" ucap roby setelah mematikan sambungan teleponnya, aditya mengangguk mengerti.
Kedua pria itu pun bergegas menyelesaikan urusan mereka, lalu keluar dari kamar naya, mereka menunggu naya masuk sambil duduk-duduk santai di ruang tamu.
" Pak adit! Pak roby! " seru naya, ia terlihat kaget melihat aditya dan roby berada di dalam apartemennya.
" bagaimana kalian bisa masuk? " tanya naya bingung
" Roby membobol pintu tanpa merusaknya " jawab aditya asal
" oh... Lalu ada urusan apa kalian menemui aku? " tanya naya lagi, wanita itu ikut duduk bersama.
" begini naya, setelah iren meninggal, aku jadi merasa kesepian, putraku arsena juga tidak ada yang mengurus" ucap aditya, pria tampan itu memasang wajah sedih seperti tengah mengiba
" Apa.... Kau bisa membantuku? " aditya bertanya dengan ragu.
" Aku butuh bantuan untuk mengurus diriku dan juga putraku, dan untuk itu kau harus pindah ke rumahku" ucap aditya.
' jika aku tinggal dan mengurus mereka, aku akan punya banyak kesempatan untuk merebut hatinya, lagi pula iren dan dea sudah aku singkirkan' batin naya bersorak
Tatapan mata aditya penuh dengan kelicikan, namun hanya roby yang bisa melihat hal itu, karna naya sudah tenggelam dalam kesenangannya sendiri, dengan penuh semangat ia pun berseru "bisa! Aku akan membantu bapak"
"kau tahu nay, pak aditmu ini merasa sangat senang mendengar persetujuanmu" senyuman aditya terlihat kesal, namun naya malah tersipu mendengar ucapan pujaan hatinya itu.
__ADS_1
" adi kau tidak berencana untuk menikahinya kan? " tanya roby
" menikahinya hanya untuk balas dendam itu konyol rob, dan aku tidak berniat melakukan itu" ucap aditya
Kedua pria itu sudah berada di besmen, menunggu naya mengepak barang-barangnya, karna aditya berencana membawanya pulang hari ini juga.
" aku akan menghubungi putraku" ucap aditya seraya meraih ponsel di jas nya, tak lama sambungan telepon pun terhubung
Arsena: Hallo papi,
[tanyakan papimu ada di mana sena] Bisikan maya yang terdengar oleh aditya
Arsena: Papi, papi di mana?
Aditya: Bilang pada nenekmu, apa pun yang ingin nenek bicarakan katakan saja nanti setelah papi pulang, karna sekarang papi hanya ingin bicara pada puta papi yang genius
Arsena: Nenek papi bilang apa pun yang ingin nenek bicarakan katakan saja nanti setelah papi pulang (ucapan arsena terdengar oleh aditya) Jadi papi mau bilang apa sama sena?
Aditya: nak! Papi akan pulang sebentar lagi, dan papi akan bawakan mainan hidup buat sena, kau boleh bermain dengannya sampai puas, sena mengerti kan!
Arsena: ya papi, sena mengerti,
Aditya: kalau begitu sampai jumpa di rumah nak
__ADS_1
Arsena: ok papi, love you
Aditya: love you more my handsome son