
Di sebuah gedung megah di tengah hutan pinus, pria-pria berbadan besar tengah sibuk dengan pekerjaan mereka, ada yang sibuk di depan komputer, ada yang sibuk berjaga, yang hilir mudik kesana kemari pun ada, ada yang berjalan sambil membawa barang, ada yang berjalan sambil membaca file, ada pula yang berjalan sambil berbincang membucarakan pekerjaan.
Hal ini selalu terjadi setiap harinya, yang tidak biasa adalah ketua mereka yang biasanya duduk di belakang meja, kini pria itu tengah berdiri di depan sebuah kamar.
Lion menatap lurus pada pintu yang tertutup rapat di hadapanya, telinganya ia fokuskan untuk mendengar suara dari dalam kamar itu.
" lepaskan aku... Kumohon..."
kata-kata itu selalu terdengar dari dalam kamar yang tertutup itu, dan suaranya terdengar semakin lirih dari waktu ke waktu, suara tangisan yang tidak ada hentinya pun cukup membuat pria berumur 38 tahun itu frustasi, namun ia tidak pernah menunjukkannya pada siapapun.
" pak lion! " sapa denis seraya memegang bahu lion
" Jangan terus terusan berada di sini, jika tuan dev melihat, dia bisa curiga" ucap denis
Lion menghela nafas panjang lalu berkata " Aku berharap semua ini cepat berlalu, kasihan amih iren, aku tidak tega melihatnya" dengan sangat lirih
" Sudah saatnya kita akhiri kawan" seru sakay yang berjalan mendekat
Lion dan denis saling menatap, lalu berseru secara bersamaan " datanya sudah lengkap? "
" hehe... beri aku waktu 3 hari lagi ok! " jawab sakay sambil menunjukan deretan giginya.
" 3 harimu itu kenapa rasanya tidak selesai-selesai ya! Sejak seminggu yang lalu aku terus mendengar kata-kata itu" seru lion dengan nada mengejek
" tau! Apa kau tidak bisa bergegas, sudah satu bulan amih di sekap di ruangan itu, apa kau tidak punya rasa kasihan sedikit pun?" timpal denis, pria itu tampak kesal pada temanya yang bernama sakay itu
" oh ayolah.... Mengumpulkan data aktivitas organisasi selama lebih dari 15 tahun bukanlah hal yang mudah kawan" keluh sakay
" iya sudahhhh, tidak usah kesal begitu donk! Mari pergi dari sini, biar aku bantu menyelesaikannya" ucap lion seraya merangkul kedua pria yang sudah seperti saudaranya itu.
Sudah satu bulan tempat yang menjadi markas bagi organisasi black stain menjadi sibuk karna semua orang diperintahkan untuk mengumpulkan data aktivitas organisasi.
__ADS_1
Kembalinya ria ke dalam organisasi cukup membuat david panik, pria itu jadi kalang kabut sejak mendapat pengumuman bahwa rekannya yang selama ini menghilang telah kembali.
David yang awalnya berniat untuk membawa kabur iren jadi disibukan dengan tugas organisasi yang selama ini ia abaikan.
David yang mendirikan organisasi memerintahkan lion untuk menghapus semua catatan kejahatan yang selama ini ia lakukan, pria itu tampaknya takut kejahatanya terungkap ke permukaan.
Lion yang merupakan ketua dan tangan kanan david menuruti perintah david atas ijin arsena, sampai kini david masih tidak tahu bahwa ketua dari organisasi itu bukan lagi dirinya, melainkan arsena.
Untuk pertama kalinya arsena tidak menuruti perintah sang ibu, ia terjun ke dalam dunia yang kelabu, di mana kebenaran bisa dianggap salah, dan kesalahan dianggap sebagai sesuatu yang wajar, meski merasa bersalah, arsena tetap tidak menyesalinya, anak itu tetap bisa menjalani kehidupannya dengan begitu santai.
Saat ini arsena tengah makan puding sambil menonton televisi, itulah yang orang lihat, karena sebenarnya anak itu tengah memperhatikan papi, nenek dan roby yang tengah berdiskusi di ruang keluarga, pendengarannya yang tajam memungkinkan dirinya bisa mendengar perbincangan mereka yang berjarak satu meter dari posisinya.
" Apa tidak sebaiknya kita minta bantuan arsena adi, ini sudah satu bulan dan kita masih tidak tahu iren dimana" Ucap maya yang mulai putus asa dengan usaha pencariannya
Arsena memalingkan wajah saat menyadari aditya hendak menoleh menatapnya.
" Anak itu memangnya bisa apa bu? " itulah kalimat yang ia dengar dari mulut papinya, kalimat meremehkan yang cukup melukai hati.
" kenapa jadi kau yang marah roby? " papinya arsena nampak tidak terima
" huh... mulai lagi" ucap arsena, ia sudah bosan mendengarkan diskusi yang berujung pada perdebatan antara aditya dan roby, dan lagi-lagi namanya di sebut dalam perdebatan itu.
Arsena pun beranjak dari duduknya, ia berjalan hendak pergi ke kamarnya sambil memeluk toples yang berisi kacang goreng kesukaannya.
" sena! Kau mau ke mana? " tanya aditya seraya bangkit dari duduknya
" sena mau ke kamar papi, mau ngerjain tugas sekolah" jawab arsena tanpa menghentikan langkahnya.
Aditya bergegas menghampiri putranya, ia menggendong arsena dan membawanya untuk kembali duduk di tempat yang sama.
" papi ini keterlaluan, apa aku harus selalu berada di hadapan papi" keluh arsena sambil bersedekap serta memasang wajah kesal.
__ADS_1
" kerjakan pr di sini saja" ucap aditya seraya mematikan televisi.
Aditya memerintahkan seseorang untuk mengambilkan laptop milik arsena di kamarnya, arsena mendengus kesal, dan helaan nafas beratnya itu terdengar jelas oleh aditya.
" sena! Prapi mohon mengertilah, papi ini sudah pusing mencari amih, jika sampai terjadi sesuatu juga padamu...
Arsena menutup mulut aditya kemudian mencium pipi papinya itu, ia lalu berkata " iya papi ku sayang, sena akan menurut semua yang papi katakan"
Namun dalam hatinya anak itu berkata 'aku jadi tidak bisa menghubungi paman lion, padahal aku sudah rindu pada amih, semua ini gara-gara papi, tapi karna papi sangat mencintai amih jadi aku akan memaafkannya'
Tak butuh waktu lama sampai seorang pelayan datang dan meletakan laptop milik arsena di meja, melihat laptop itu membuat otak cerdas arsena memikirkan sebuah ide, rasanya arsena jadi ingin pamer pada papinya yang tadi sudah meremehkan dirinya, ia pun mengirim pesan pada lion
A2l
Rindu
^^^Lion^^^
^^^Tanggung guru^^^
A2l
Jangan lama
^^^Lion^^^
^^^5 menit^^^
A2l
Ok!
__ADS_1