Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Surat pengunduran diri


__ADS_3

Aditya sampai di kantor dengan wajah dingin, sambutan hangat dari para karyawan sama sekali tidak ia gubris, mungkin karna kebanyakan karyawan yang menyapa adalah wanita, atau mungkin senyumannya telah hilang saat ia menekan duka dalam hatinya.


Madam liz menyerahkan beberapa dokumen penting pada aditya, setelah mulai bekerja pria tampan itu melupakan segala masalahnya, aditya memfokuskan diri pada tumpukan file dihadapanya, bahkan waktu yang berlalu pun sampai tidak terasa.


Alarm dari jam tangan aditya berbunyi, menandakan sudah waktunya untuk makan siang, mendengar bunyi alarm itu membuat aditya mengingat pada iren, karena sang istrilah yang mengatur alarm di jam tangannya.


Aditya menghentikan pekerjaannya, ia merapihkan dokumen yang sudah ia periksa, lalu mengambil sebuah bingkai foto yang terpajang di atas meja kerjanya.


Aditya memandangi foto istri dan anaknya yang tengah tersenyum bahagia, ia lalu memfokuskan tatapannya pada wajah irene yang cantik.


" maaf sena! papi mau bicara pada amihmu dulu" ucap aditya, dengan telunjuknya ia menutup wajah putranya yang tersenyum dengan menggemaskan.


" maaf karena aku tidak bisa menangisi kepergian mu sayang, aku juga tidak mengerti kenapa aku tidak bisa mengeluarkan air mata sedikitpun, tapi percayalah iren, cintaku itu nyata, walau kau telah tiada, aku akan bertahan dengan mengingat kasih sayangmu untuk selamanya, aku masih harus menjalani hidup, menjadi putra yang baik, dan aku juga masih harus memperhatikan asena, putra kita yang genius" ucap aditya, suaranya terdengar lirih walau kemudian bibir itu tersenyum.


Aditya tiba-tiba teringat sebuah kejadian di masa lampau, di mana saat itu ia dan Irene terkurung di dalam gudang, dan itu sudah pasti adalah ulah sang mama, karena pada masa itu maya tengah gencar-gencarnya berusaha mendekatkan mereka.

__ADS_1


Aditya masih ingat saat itu iran terlihat begitu ketakutan, sampai berkata " tuan jika saya mati di sini, tolong kirim jasad saya pulang ke Indonesia, saya ingin di kubur di tanah kelahiran saya, walau mungkin nanti kuburan saya akan di penuhi rumput ilalang yang tinggi karena tak ada yang mengurusnya, setidaknya saya akan bisa beristirahat dengan tenang, saya tidak mau dikubur di negara asing ini "


Karena teringat ucapan itu, aditya pun jadi merasa semakin bersalah, hatinya sampai mengeluh 's**udah tidak menangisi istri, keinginan terakhir iren pun tak kau kabulkan aditya, dasar aku'


Suara ketukan pintu terdengar sampai membuyarkan seluruh pikiran aditya, perlahan pintu ruangannya terbuka saat aditya melihat ke arah sana, wajah sang sahabat terlihat mengintip ke dalam ruangan.


" hai adi! apa aku boleh masuk? " tanya Roby


" masuklah jika madam liz mengijinkan" seru Aditya, roby melangkah masuk sambil tersenyum setelah mendengar gurauan dari sahabatnya itu,


" Candaan mu " keluh roby


" Ada apa? Kenapa aku melihat surat pengunduran dirimu di atas mejaku? " tanya aditya, pria itu mulai menunjukan sikap seriusnya


" memilih untuk mengundurkan diri bukan karena tak lagi bekerja dengan mu, jadi kau jangan ke geeran" ucap roby

__ADS_1


" lalu kenapa harus mengundurkan diri? " tanya aditya


"aku diminta untuk menggantikan ayah memimpin organisasi adi"


" dan kau setuju? " roby mengangguk


" bukankah kau enggan terlibat dalam dunia gelap? "


" iya! tapi aku membuat kesepakatan dengan ayah, aku akan mengambil alih organisasi untuk bisa membantu istriku"


" ayahmu setuju?" roby mengangguk sambil tersenyum


" syukurlah, kalau begitu aku tidak akan ragu untuk menyetujui surat pengunduran dirimu"


" jadi kau belum menandatanganinya? Lalu kenapa tadi kau menyebutku mantan karyawan hah, dasar kau ini" roby memukul pelan lengan aditya, tapi pria itu malah cengengesan.

__ADS_1


__ADS_2