
Aditya mengajak arsena berjalan di taman sambil menceritakan prihal rencananya, ia ingin mengobati penyakit OCD nya pada wanita.
Aditya menyatakan bahwa dirinya tidak akan mampu menjadi papi yang sempurna, tapi ia ingin menjadi papi yang mendekati kata itu, salah satu usahanya adalah menjadi pribadi yang normal.
" Sena suka papi apa adanya, jadi papi tidak perlu memaksakan diri" sahut arsena
Aditya tersenyum mendengar perkataan putranya itu, ia tahu bahwa kecerdasan anaknya membuat pemikiran arsena lebih dewasa dari anak seumurannya, karena itulah aditya mengajak arsena untuk ikut di tahap pertama pengobatannya.
Ayah dan anak itu mendudukkan diri di bangku taman, tepat di depan air mancur agar mereka bisa berbincang lebih santai.
" Apa sena boleh tahu kenapa papi memilih tante beby? Jangan bilang karna tante beby cantik ya! "
" Menangnya kenapa? Bukankah tante beby memang cantik sena! "
" Pujian papi terdengar seperti ledekan tahu! "
" Hahaha.... Begitukah! Emmm... Papi memilih tante beby karna papi merasa akan lebih bisa terbuka jika dengannya, terlebih tante beby juga mengenal papi dan amih mu, jadi mendatanginya tidak akan terasa seperti datang ke klinik untuk berobat" ucap aditya.
__ADS_1
" Arsen! "
Seruan dari teman sekolah arsena yang tidak sengaja mereka temui itu, membuat arsena meninggalkan papinya duduk sendiri, tapi aditya senang melihat putranya bermain, ia merasa bersyukur karna setidaknya sisi anak kecil arsena tidak menghilang termakan pengetahuan.
Arsena main kejar-kejaran dengan temannya, stamina anak kecil itu berbeda dengan orang dewasa, mereka bermain berjam-jam tanpa mengenal kata lelah.
Aditya menyayangkan tidak adanya iren di tengah-tengah mereka, tapi mengabiskan waktu berdua dengan arsena juga lebih baik di bandingkan di rumah.
Setelah puas bermain, arsena meminta untuk makan siang bersama, di lanjutkan dengan makan es cream, baru setelah itu mereka pulang.
Arsena berteriak memanggil naya begitu memasuki rumah, anak itu berniat melanjutkan kesenangan dengan mengganggu naya.
" tante nay mu sudah pergi sena" seru maya menghampiri, mendengar itu arsena pun mendongak menatap papinya.
" naya pergi ke mana ma? " tanya aditya
" tadi orang tuanya datang ke sini, mereka membawa naya pulang secara paksa" jawab maya
__ADS_1
" akhirnya ketenangan datang juga! " ucap aditya dengan diiringi helaan nafas lega.
Senyum aditya semakin lebar saat melihat sosok nia memasuki rumah dengan tergesa-gesa, ia memberi kode pada mama maya untuk mengajaknya bicara, dan aditya melihat hal itu dengan tatapan penuh curiga.
" mama tadi minta nia untuk memeriksa barang, ayo ikut saya ke ruang kerja nia" ucap maya beralasan,
Maya menarik nia untuk memutus tatapan curiga yang aditya layangkan itu, namun hal itu justru menambah rasa curiga dalam pikiran aditya, pria itu pun mengikuti langkah kaki maya dan nia dengan perlahan.
Arsena membiarkan papinya dengan pikiran bahwa mungkin ini sudah saatnya, semua musuh telah pergi dari rumah itu, jadi aditya harus tahu bahwa iren masih hidup, dan tengah menyamar menjadi nia demi melindungi pernikahan mereka.
" ma! Aku mengikuti naya dan orang tuanya, dan mereka mengirim naya pulang ke indonesia dengan paksa, bukankah ini aneh? " ucap iren setelah keduanya sudah berada di ruang kerja maya
Aditya yang berdiri di balik pintu mendengar dan mengenali suara itu, ia membuka pintu yang menjadi penghalang dan memastikan bahwa dirinya tidak salah mengenali suara sang istri.
Maya dan nia tersentak kaget saat melihat aditya menerobos masuk, mereka saling melirik sebelum akhirnya melihat ke arah aditya yang terlihat mencari sesuatu.
" di mana iren ma? Tolong jangan sembunyikan dia dari adi, dan jangan coba-coba membohongi adi, karna adi jelas mendengar suaranya tadi" ucap aditya seraya terus kesana kemari sambil memperhatikan sekeliling.
__ADS_1