Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
" Apa kau mau menikah denganku? " pertanyaan yang ambigu


__ADS_3

Aku pernah mendengar benyak cerita tentang seorang pria yang menyelinap masuk ke dalam kamar seorang gadis, tapi aku belum pernah mendengar ada seorang suami yang menyelinap masuk ke dalam kamar istri dan anaknya sendiri, seperti yang tengah aditya lakukan saat ini, konyol memang! tapi pria itu merasa tidak punya pilihan.


Aditya membangunkan iren, wanita itu hampir saja berteriak karna kaget jika aditya tidak membekap mulutnya dengan cepat, aditya memintanya untuk diam dan mengikutinya, iren hanya bisa mengangguk patuh dan membiarkan aditya menarik tangannya.


Aditya membawa iren masuk ke perpustakaan, keduanya duduk berdampingan di salah satu sudut ruangan, seperti sepasang kekasih yang tengah pacaran diam-diam, mereka terus memperhatikan sekitar karna takut ada yang melihat.


" kenapa anda membawa saya kemari tuan muda? Bagaimana jika ada yang melihat kita berduaan seperti ini" ujar iren cemas, nada suaranya sangat pelan, namun masih bisa terdengar


" iren, apa kau mau menikah denganku? " ucap aditya, nada suara aditya juga sama pelannya,


" itu sebuah pertanyaan atau..." iren sengaja menggantungkan ucapannya karna tidak mengerti maksud dari aditya, pria itu jelas enggan menikah dengannya tadi, tapi kenapa sekarang malah menanyakan hal itu.


" dasar bodoh! tentu saja itu sebuah pertanyaan, memangnya kau pikir apa? " jawab aditya sedikit kesal,


" bodoh? justru aku akan terlihat bodoh jika menjawab pertanyaan itu? kita ini sudah menikah, apa hal itu harus dipertanyakan?" iren mulai tersulut emosi, nada bicaranya terdengar kesal,


"Kenapa kau jadi marah? Iren dengar! aku tidak bisa menikah denganmu" ucap aditya

__ADS_1


" oh... astaga.....Aku tahu itu tuan muda, tapi memangnya tuan muda bisa tidak menikah denganku? Entah tuan suka atau tidak, faktanya kita ini memang sudah jadi pasangan suami istri" jawab iren tegas.


Aditya semakin kesal karna iren tak kunjung mengerti maksud dirinya, ia mengepalkan tangan lalu memukul dahinya sendiri, memutar otak untuk mencari pertanyaan yang bisa membuat iren mengerti.


" oke! kau memang benar, kita memang sudah jadi suami isti, tapi apa kau bersedia menyandang status sebagai istriku? "


Iren menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia semakin bingung dengan maksud dari pertanyaan tuan mudanya itu, kini giliran iren yang memutar otaknya untuk mencerna pertanyaan aditya, sampai iren merasakan maksud lain dari pertanyaan itu, tapi ia harus memastikannya terlebih dahulu.


" apa tuan muda menginginkan perpisahan?" tanya iren dengan tatapan penuh selidik


" memangnya kau mau menikah denganku?"


Iren memilih untuk diam karna merasa dirinya masih waras. Di tengah keheningan, suara decitan pintu mulai terdengar, langkah kaki pun terdengar seolah menggema di udara, menandakan ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu.


Pasangan suami istri itu pun jadi panik, keduanya saling melirik seolah bertanya siapa yang datang, keduanya merasa mereka harus bersembunyi agar tidak ketahuan.


Entah iren sadar atau tidak, tapi aditya sangat sadar dengan apa yang terjadi, aditya memang memeluk iren seraya reflek, tapi ia memandang wajah iren dengan kesadaran penuh, ia merasa takjub dengan keadaan dirinya yang sama sekali tidak merasakan gejala alerginya pada wanita.

__ADS_1


Di sisi lain ada ibu maya yang secara tidak sengaja melihat dua pasang kaki yang terlentang di lantai, dari sela-sela buku ia mencoba mencari tahu siapa pemilik kaki itu, maya terkekeh ketika melihat wajah khawatir iren dan aditya yang memeluk iren sambil tersenyum.


Ibu maya mengerti segalanya, ia cepat-cepat keluar dari ruangan itu dan membiarkan mereka berduaan.


" Nenek! ada apa? kenapa nenek tersenyum seperti itu? " tanya arsena yang tengah menuruni tangga


" sayang! cucu nenek yang tampan, nenek melihat papi dan amihmu sedang diam-diam bermesraan di dalam perpustakaan" ujar maya dengan wajah sumringah,


" aku tidak mengerti kenapa mereka malkukan itu, konyol! mereka sudah menikah tapi bertingkah seperti remaja yang dilarang berpacaran oleh orang tuanya" tutur arsena,


Arsena tidak bicara sambil diam saja, kakinya berjalan dan tanganya pun bergerak, ia mengambil kunci di laci bupet lalu mengunci perpustakaan dari luar.


Ibu maya sampai menganga menyaksikan kejahilan cucunya itu, ia merebut kunci itu lalu memasukanya ke dalam saku bajunya.


" semoga aku bisa dapat satu cucu lagi" ujar maya


" semoga saja adiku nanti perempuan" ujar arsena

__ADS_1


Keduanya melakukan tos sambil tersenyum puas.


__ADS_2