
Sejak apa yang terjadi di sekolah, aditya dan iren sepakat untuk merenungkan hubungan mereka, sudah 3 hari aditya dan iren tidak bertemu, iren memang tinggal di apartemen aditya, namun aditya tidak pernah pulang ke sana.
Di apartemen aditya, iren tengah berdiri di depan pintu kamar, ia mengingat tragedi kelam yang terjadi di masa lalu.
'disaat aku bermimpi memiliki keluarga bahagia, tuan muda merenggut mahkota ku, merusak kepercayaan diriku, disaat aku mencari kekuatan untuk tegar, aku harus menelan pil pahit dari hubungan manis keluargaku yang hancur, aku hidup untuk putraku, aku menerima pernikahan ini pun demi putraku, tapi untuk membangun hubungan suami istri, aku tidak punya keberanian, aku terlalu takut hubungan itu akan berakhir begitu saja, jika suatu saat ada orang ketiga, tidak... aku bahkan tidak sanggup untuk membayangkannya, dari pada terluka setelah semakin jatuh hati pada suamiku, bukankah hubungan hambar yang penuh dengan kedamaian seperti ini lebih baik!'
Iren bersandar pada pintu, ia mendongak seraya memanjatkan sebuah do'a " Aku menyerah tuhan, selama apapun aku berpikir, aku tetap merasa bahwa aku berada di jalan yang benar, kau yang maha tau, jika menurutmu aku salah, maka berilah hamba-mu ini sedikit petunjuk"
Suara pintu yang terbuka mengalihkan pandangan iren, ia menatap ibu maya dengan pandangan kecewa, iren tidak menyambut ibu mertuanya itu, ia langsung duduk disofa yang berada di ruang tamu.
Maya mendatangi iren setelah menahan diri selama beberapa hari, ia tidak segan untuk masuk dan langsung duduk di samping iren, keduanya kini duduk bersama.
Maya mencoba menggenggam tangan iren, tapi iren menepisnya lalu bertanya “ kenapa ibu laku in semua ini pada iren? iren punya salah apa sama ibu?” matanya memerah menahan rasa kecewa dihatinya.
“ maafkan ibu ren”
Maya meminta maaf pada iren seraya menungkupkan kedua tangannya, iren menggenggam tangan itu seraya menggeleng, meminta ibu maya agar tidak memohon padanya, karna itu membuat iren merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Maya mengakui kesalahannya yang sudah bersikap egois, menghancurkan hidup iren demi putranya, maya juga berkata bahwa dirinya melakukan itu karna ia merasa senang setiap kali melihat iren bercengkerama dengan putranya, terlebih karna aditya bisa berinteraksi dengan iren dengan melupakan hand sanitizer setra tisu basahnya, intinya maya bisa melihat putranya bersikap normal hanya saat bersama iren.
Maya memberi tahu iren bahwa sejak lama iren adalah wanita satu-satunya yang bisa membuat aditya seperti itu, wanita satu-satunya yang bisa menyentuh dan disentuh oleh aditya selain dirinya dan nenek, hal itu membuatnya berpikir dan merasa bahwa iren telah ditakdirkan untuk aditya.
“karna terhanyut dengan mimpi itu, ibu yang bodoh ini sampai lupa untuk memikirkan perasaan iren” ucap maya menyesali perbuatannya
“ iren satu-satunya wanita yang tidak membuat tuan merasa jijik, apa ibu yakin dengan itu? “ tanya iren yang diangguki oleh maya
Maya menunjukkan beberapa foto di ponselnya, foto saat iren tidak sengaja menyentuh tangan aditya, dan ada juga foto yang sebaliknya, saat aditya yang tidak sengaja memegang tangan iren, beserta sebuah vidio tentang sikap aditya pada wanita lain.
“ ibu juga menunjukkan foto ini pada dokternya aditya, dan dokter itu bilang bahwa keajaiban ini hanya bisa terjadi karna cinta, iren! Putraku sudah mencintaimu sejak lama ” ucap maya dengan serius
“ ibu tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu, sebenarnya ibu datang untuk memberi sesuatu, ibu memberi tahu semua ini pada iren agar iren bisa mempertimbangkan keinginan arsena” ucap maya sendu
Setelah mengatakan itu maya mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tasnya, ia menaruh dokumen itu di meja, lalu pamit pada iren.
“ibu dan arsena sudah menyerah ren, kami tidak akan lagi memaksamu, kini keputusan ada di tanganmu, ibu percaya, iren bisa mengambil keputusan dengan bijak, ibu pulang ren!” pamitnya kemudian
__ADS_1
Iren hanya diam seraya menatap berkas di depanya, tangan iren sedikit gemetar ketika ia mulai melihat isi dokumen itu, yang ternyata adalah dokumen percerayan.
Iren berusaha untuk tetap membuka lembar demi lembar kertas dari dokumen itu, membacanya perlahan sampai lebaran bagian akhir.
Di lembaran terakhir itu sudah tertera tanda tangan maya selaku saksi dan juga tandatangan arsena di bagian persetujuan anak, hanya tempat istri dan suami yang belum ditandatangani, melihat hal itu hati iren merasa tercabik.
“ apa ini, kenapa hatiku begitu sakit, bahkan lebih sakit sampai rasanya sesak” keluhannya
Iren memejamkan kedua matanya lalu teringat pada sosok sang ibu, setiap kali iren dihadapkan pada pilihan devi selalu berkata " saat kau dihadapkan pada pilihan yang sulit maka dengarkan kata hatimu, karna hatimu tidak akan membohongi dirimu sendiri, dan ingatlah untuk memikirkan dirimu juga, tidak masalah menjadi sedikit egois dan serakah pada kebahagian sendiri iren"
Iren membuka kembali kedua matanya, ia mulai tersenyum dengan penuh percaya diri, iren bangkit dari duduknya, ia meraih berkas perceraiannya lalu berkata " sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan"
.
.
.
__ADS_1
.
Oow... Jangan bilang iren mau ngajak cerai,,,, tidak..... 😖