
Walaupun malam sudah berlalu, walau hari sudah berganti, walau tengah duduk di samping roby, pikiran aditya masih tidak juga teralihkan dari nia.
“ rob, ada yang bilang padaku kalau nia itu mirip dengan iren, menurutmu bagaimana? “ tanya aditya, ia sedikit berbohong pada sahabatnya itu.
Roby tidak bisa langsung menjawab, karena dirinya belum punya kesempatan untuk bertatap wajah dengan nia, roby hanya selalu melihat pelayan baru itu dari jauh, dan sebatas tahu bahwa namanya nia, lalu bagaimana roby bisa menjawab tanya itu?
Rasa penasaran membuat roby mengalihkan pandangan ke ruang makan yang ada di dekat ruang keluarga, tidak adanya sekat di ruangan itu membuat roby leluasa menjatuhkan pandangannya pada nia.
Roby memperhatikan nia yang kala itu terlihat tengah menata hidangan di atas meja, bersama dengannya terlihat juga maya, arsena dan naya yang sudah siap untuk sarapan.
Roby memperhatikan nia dengan sesama, namun naya lah yang merasakan tatapan matanya itu, wanita itu lalu menoleh menatap roby dan ia pun melempar senyum.
“ kenapa dia senyum padaku? Aku kan tidak sedang memperhatikan dirinya” ucap roby mempertanyakan sikap naya,
“ Sepertinya naya mengira kau menatapnya rob” bisikan kata-kata itu sukses membuat roby merinding.
“ Nia dan iren itu berbeda kan!“ ucap aditya, pria itu kembali bicara dengan normal
“ ya adi! Aku tidak tahu orang bodoh mana yang mengatakan padamu bahwa nia mirip dengan iren, keduanya kan jelas berbeda” sahut roby,
Kata-kata roby seolah menusuk kepalanya, karna sebenarnya tidak ada seorang pun yang mengatakan itu padanya, dia sendirilah yang sempat berpikir begitu.
“Coba kau lihat dan perhatikan nia adi! Walau tubuh iren sedikit gemuk, tapi pinggangnya masih berlekuk seperti gitar spanyol, sementara pelayan itu pinggangnya lurus seperti pohon pisang, dan coba kau lihat perut buncitnya itu, udah kayak orang yang lagi hamil tiga bulan kan adi! Dan lagi, menurutku nia lebih tinggi dua senti dari iren”
__ADS_1
“Jadi menurutmu itu pendek? “tanya aditya
“Tidak adi! Bukan itu maksudku, tinggi iren itu ideal, hanya saja nia lebih tinggi sedikit dari iren, dan lihat wajahnya itu, wajah nia lebih hitam, dan seingatku iren punya tahi lalat kecil si bawah mata kirinya, dan itulah ciri khas yang membuatnya terlihat manis”
“ kenapa kau bicara seakan kau lebih mengenal iren dari pada aku roby? ” tanya aditya curiga
“ Tolong jangan tersinggung adi, aku tahu semua itu karna aku pernah memperhatikan iren”
“ oh.... Jadi kau diam-diam memperhatikan istriku ya!”
“ kenapa ucapanmu itu terdengar sinis adi? Kau tidak sedang berpikir macam-macam tentangku kan?”
“ berpikir macam-macam? Memangnya aku harus berpikir apa jika sahabatku ternyata selalu memperhatikan istriku?”
“ iya! Aku dengar kau bilang pernah, tapi kan aku tidak tahu kalau kau selalu memperhatikan istriku”
“ cukup adi! Singkirkan rasa cemburumu itu”
“memangnya siapa yang cemburu?”
“ jika kau tidak cemburu, kau tidak akan bicara sinis begitu padaku, jika kau tidak menyingkirkan rasa cemburumu yang tidak penting itu, lebih baik aku pergi”
Perdebatan kedua sahabat itu mulai mengundang perhatian saat suara roby meninggi, kini semua orang melihat roby bangkit dari duduknya, dan aditya yang tampak memeluk pinggang roby untuk mencegahnya pergi.
__ADS_1
“ adi, roby, ada masalah apa? “ tanya maya sedikit berteriak agar kedua lelaki yang diajak bicara bisa mendengarnya.
“ ini ma, masa roby bilang aku cemburu padanya! “ sahut aditya sedikit berteriak
“ ya memang benar kan! Buktinya kau bicara sinis padaku” sahut roby yang juga sedikit berteriak karna kesal
“ kapan aku bicara sinis padamu? Kau saja yang sensi” ucap aditya,
“ cih... Jika iren masih hidup dia juga pasti akan mengatakan kalau kau itu cemburu gak jelas adi, cepat lepaskan aku, dan biarkan aku pergi” roby meronta namun aditya enggan melepaskan pelukannya.
“ aku tidak akan melepaskanmu, kita masih belum selesai, jangan pergi di tengah pertengkaran, itu tidak baik bagi hubungan kita sayang” bujuk aditya
“ jangan bawa-bawa hubungan kita jika kau tidak bisa mempercayaiku adi, aku tahu isi kepalamu itu, jika aku berkata baik atau buruk tentang iren, kau pasti akan tetap marah padaku, jadi katakan saja apa maumu? “
Belum sempat aditya menjawab pertanyaan itu, sandal mama maya sudah melayang mengenai kepala kedua pria itu, sampai mereka pun kompak mengaduh kesakitan sambil mengusap kepala mereka masing-masing.
‘ yes! Tepat sasaran'
Maya bersorak membanggakan kesuksesan itu di dalam hati, ia sebenarnya sudah biasa melihat aditya dan roby menjalin persahabatan seperti para wanita, namun ia tidak bisa tinggal dia ketika melihat cucunya melotot tak percaya melihat kelakuan papi dan pamanya itu.
Maya berdiri dari duduknya, ia melayangkan tatapan tajam ke arah aditya dan roby, seolah memperingatkan mereka bahwa ada arsena ada disana dan melihat segalanya,
“ ingat tentang hukum alam dunia ini adi, roby” ucap maya seraya berkacak pinggang.
__ADS_1
Aditya dan roby pun mengubah posisi, menyejajarkan diri mereka untuk menghadap ke arah mama maya, dengan kompak keduanya menundukkan kepala sambil meminta maaf dengan tulus.