
Iren terbangun di tengah malam, langkah kakinya yang masih belum seratus persen sadar itu membawanya menuju danau, ia berdiri di bawah pohon maple yang ia tanam sendiri, menatap langit malam dari permukaan air danau yang tenang.
Angin yang berhembus begitu kencang membuatnya kedinginan, ia berbalik dan merasakan tatapan mata tajam dari seseorang, iren mendongak melihat ke arah kamar aditya, dan benar saja, pria tampan itu tengah menatapnya dari atas sana.
Iren tersenyum dan melambaikan tangan tanpa sadar, ia bahkan mendengus saat melihat aditya masuk dan menghilang dari pandanganya.
" kenapa dia pergi? Aku kan rindu" ucap iren seraya merajuk, menghentakan kakinya ke tanah.
Iren kembali ke kamarnya dengan langkah malas, langkahnya terhenti tepat di depan jendela sebuah kamar, mata iren terbelalak saat melihat dirinya tidak dalam penyamaran, gaun tidur berwarna putih, rambut tergerai yang acak-acakan, penampilannya itu terlihat seperti hantu.
Mata iren bertambah lebar saat melihat pemilik kamar itu menatapnya, suara teriakan dari dalam kamar itu begitu kencang, dan iren langsung merunduk, ia kembali ke kamarnya sambil merangkak cepat.
" astaga iren... Kenapa kau ceroboh begini? Dan kenapa juga harus fitria yang melihat ku" keluh iren dengan nafas yang memburu, wanita itu sudah masuk ke dalam kamarnya, ia memasang topeng penyamarannya dan kembali tidur, meninggalkan kekacauan yang terjadi di luar sana.
Beberapa penjaga langsung berlari hingga berkumpul di depan kamar fitria, mempertanyakan apa yang terjadi, mereka mengetuk pintu kamar fitria yang masih tertutup rapat karena tidak ada yang bisa menjawab tanya itu.
" pak eka, saya mendengar suara fitria berteriak, kami sudah mengetuk pintu kamarnya tapi tidak ada sahutan dari dalam"
__ADS_1
Pak eka pun bergegas pergi ke kamar fitria setelah mendengar laporan itu, ia membuka pintu kamar dengan menggunakan otoritasnya sebagai kepala pelayan yang memegang kunci cadangan.
" ada apa? apa yang terjadi? "
Satu persatu pelayan datang menghampiri dengan kalimat tanya yang sama, sepertinya mereka terbangun karena teriakan fitria.
Begitu pintu dibuka, fitria tengah meringkuk sambil memeluk lutut, pelayan malang itu terlihat ketakutan sambil terus bergumam" maafkan aku, aku mengaku bersalah, tolong jangan ganggu aku" berulang kali.
Fitria bahkan berteriak ketakutan saat beberapa rekanya menyentuh tubuhnya, namun pada akhirnya tubuh yang tengah gemetar itu berhasil di rengkuh masuk ke dalam pelukan jima,
" aku sudah melakukan kesalahan besar jima, dan dia datang untuk balas dendam, dia akan membunuhku jima" ucap fitria dengan suara yang bergetar ketakutan.
Mendengar pernyataan itu, para petugas keamanan pun kompak melakukan patroli di waktu yang sama, mereka mencari orang yang fitria maksud.
" iren! "
Di bawah pohon maple aditya berteriak dengan nafas yang terengah-engah, ia memperhatikan sekitar sampai matanya menangkap beberapa sosok para penjaga yang tengah melakukan patroli.
__ADS_1
" tuan adi sedang apa malam-malam di sini? " tanya egi pada teman yang berjalan bersamanya,
" entahlah " jawab heri, keduanya berjalan mendekati tuannya
" apa yang sedang tuan cari? Biar kami bantu" ucap heri saat mereka sudah berada di dekat aditya
" aku sedang mencari iren, tadi aku melihatnya berdiri di sini" jawab aditya yang membuat kedua petugas keamanan itu mematung di tempatnya.
Aditya meninggalkan petugas keamanan itu, ia menyusuri danau buatan seraya menyerukan satu nama " iren!"
" kenapa bulu kudukku merinding" ucap heri seraya mengelus tengkuknya
" kau mau membantu tuan mencari...
Egi tidak sanggup melanjutkan ucapannya, keduanya lalu saling melempar pandangan untuk sesaat, sampai kemudian keduanya mengambil langkah cepat menuju pos keamanan, melupakan tugas patroli yang tengah mereka lakukan.
Kabar bahwa tuan aditya melihat arwah sang istri di bawah pohon maple pun tersebar dengan begitu cepat, malam ini tidak ada satu pekerja pun yang tidur sendiri, mereka tidur berkelompok karena takut di datangi hantunya iren, kecuali nia tentunya.
__ADS_1