
“ wah... Hebat sekali kau, apa kini membawa pulang wanita lain sudah menjadi hobi bagimu?”
Aditya langsung mendapat omelan dari sang mama begitu ia tiba di rumah, maya langsung pergi meninggalkan ruang tamu karna kesal dengan tingkah aditya yang sulit ia mengerti, ia berjalan menuju kamarnya.
Aditya hendak mengejar sang mama untuk memberinya penjelasan, namun langkahnya terhenti saat arsena menarik tangannya.
Arsena memberi kode pada aditya untuk menunduk, dan aditya menurutinya, karena mulut kecilnya tidak sampai pada telinga sang papa, arsena menarik dasi aditya lalu berbisik “ apa dia mainan hidup yang papa maksud di telpon tadi? ” tepat di telinga aditya
Aditya mengangguk sambil tersenyum, masih dengan posisi yang sama anak itu kembali berbisik “ Apa aku bisa bermain dengannya? ”
Kali ini aditya tidak hanya mengangguk, tapi juga berbisik “kau bisa bermain dengannya sampai puas dan melakukan apapun yang kau mau sena”
“ apa itu artinya aku juga boleh bersikap tidak sopan padanya papi” bisik arsena lagi
“ ya! Tapi untuk yang satu itu, kau harus ingat satu hal ini, jangan coreng nama papi di hadapan orang lain” bisik aditya
Arsena melepaskan dasi aditya dan membiarkan papinya kembali berdiri, anak itu tersenyum begitu manis seraya berjalan mendekati naya.
“ tante naya! Ayo main denganku” ucap arsena
Naya menatap curiga pada anak itu, tapi yang lebih membuatnya penasaran adalah topik pembicaraan aditya dan putranya saat sedang berbisik-bisik dihadapannya.
“ tidak usah menatap curiga begitu, aku hanya bertanya pada papi kenapa tante membawa koper? Dan papi bilang tante akan jadi teman bermain sena, apa yang papi katakan itu salah tante?“ ucap arsena, pikiran jahilnya terlihat dari senyum yang ia tunjukan.
Naya merasa gusar karna isi hatinya bisa di baca oleh anak kecil dihadapanya itu, namun ia hanya bisa berkata “ tidak sena! Papimu benar, tante akan jadi teman main sena”
“ kalau begitu ayo main denganku” ucap arsena sambil menarik tangan naya
“ sena! Tante beresin barang tante dulu ya! “ ucap naya seraya menahan arsena, naya berdalih karna sebenarnya ia enggan bermain dengan arsena.
Arsena melipat tangan di dada sambil memasang wajah marah, aditya tahu betul putranya itu hanya pura-pura, tapi ia tetap membantunya “ pergilah bermain dengannya naya, barangmu biar pelayan yang mengurus”
__ADS_1
Arsena bersorak dan langsung menari naya ke halaman, ia bahkan tidak membiarkan naya untuk menolak dan memberi alasan lain.
“aku pikir putramu itu bersikap seperti big bos hanya pada para pelayan saja, ternyata padamu juga, tidak ku sangka dia bisa menarik dasimu tanpa rasa takut” ucap roby yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan.
“ ya... Begitulah putraku, aku juga tidak mengerti kelakuannya itu mirip dengan siapa? “ ucap aditya sambil tersenyum
“ ya pasti mirip kau dan istrimu lah, memangnya anak itu mau mirip siapa lagi? Dia kan anak kalian” ucap roby
“ kau benar juga” sahut aditya
“ ini sudah sore, aku pulang ya!” pamit roby
“ ayo! Biar ku antar kau sampai ke depan” ucap aditya seraya merangkul roby
“ tumben! “
“ aku kan tidak bau dibilang orang yang memperlakukan sahabatnya seperti mangga”
“ habis manis sepah dibuang? “
“ dari mana kau dapat istilah itu”
“ memangnya itu penting”
Sepasang sahabat itu berbincang ringan sambil berjalan, keduanya kini sudah berada di depan mobil roby, aditya membukakan pintu mobil untuk sahabatnya itu.
“ jangan lupa dengan permintaanku ya!” ucap aditya seraya menutup pintu mobil
“ Jangan khawatir, aku akan menghubungimu setelah mendapatkan apa yang kau mau” ucap roby yang sudah duduk manis di dalam mobilnya.
Kedua sahabat itu kemudian saling melambaikan tangan saat sang sopir mulai menjalankan mobilnya, pemandangan itu terlihat indah oleh seorang wanita yang memperhatikan dari balik pilar.
__ADS_1
Aditya kembali masuk, ia menemui sang mama untuk memberinya penjelasan.
“ terus saja kau bawa pulang semua pelakor adi, pertama dea dan sekarang naya, besok-besok siapa lagi? ” ucap maya saat menyadari aditya memasuki kamarnya
“ ma... Dengarkan dulu penjelasan adi, adi tidak membawanya tanpa alasan”
“ saat kau membawa pulang dea, kau juga mengatakan itu, saat itu kau bilang wanita itu akan menyerah jika dea melihat kemesraanmu dengan iren, tapi lihat yang terjadi, dia benar-benar membuat iren pergi” ucap maya, air matanya menetes tanpa bisa ia tahan.
Aditya memeluk sang mama lalu berkata “ maaf karna adi selalu membuat masalah untuk mama, walau adi tidak bisa berjanji untuk tidak melakukannya lagi, tapi adi janji akan menyelesaikannya dengan cepat ma”
Maya mendorong putranya untuk menjauh, lalu bertanya “ kenapa kau membawa wanita itu pulang adi? “ seraya menyeka air matanya
“ adi hanya mau memberikan apa yang dia inginkan mah”
“ maksudmu? Tunggu! Kau tidak berniat untuk menikahinya kan adi”
“ itu tidak akan terjadi ma, adi janji”
“ mama tidak mau punya menantu seperti dia, awas saja jika kau ingkar, mama akan membawa arsena dan nia pergi”
“ kenapa bawa-bawa nia mah? “ maya baru sadar sudah keceplosan bicara setelah mendengar pertanyaan aditya
Maya memalingkan wajah, menatap jauh keluar jendela lalu berkata “ memangnya kalau mama pergi dari rumah ini, mama tidak boleh baya pelayan” hanya alasan itu yang terpikirkan
“ ada begitu banyak pelayan di rumah ini, kenapa harus nia yang mama bawa”
Maya geram karna putranya tidak mudah untuk dikelabui, maya kembali berbalik, ia merapuhkan dasi aditya yang berantakan sambil memutar otak, lalu berkata “ karna sena sangat menyukainya adi, sena bilang nia itu tulus, kau tahu kan! Dalam masalah ketulusan, anak kecil seperti sena lebih bisa merasakannya “
Akhirnya aditya bisa mempercayai mamanya, aditya pamit untuk pergi beristirahat, sementara maya menjatuhkan diri duduk di atas tempat tidur sambil mengeluh pada dirinya sendiri
“ Astaga.... hampir saja ketahuan, untung keceplosannya memanggil nia, coba kalau aku sampai menyebut nama iren, rencana iren bisa hancur lebur karna aku”
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar, maya jadi panik, khawatir orang yang tengah ada di depan pintu mendengar ucapannya.