
Setelah membiarkan iren tidur, aditya mengajaknya kembali bersama, di lobi resort, lagi-lagi david bersikap seolah iren adalah miliknya.
"maaf karna aku tidak bisa mengantarmu kembali iren" ucap david saat mereka tidak sengaja berpapasan
" tak apa david, suamiku ada bersamaku, aku akan kembali lebih dulu" sahut iren, ia tetap menyunggingkan senyum meski hatinya merasa sedikit tidak nyaman
" tuan aditya, tolong antar dan jaga iren dengan baik" ucap david
" cih... ucapan itu sangat tidak pantas bagi anda tuan david" roby menunjukan rasa tidak sukanya dengan jelas.
Aditya mengangkat tangan memberi kode pada roby untuk tidak berkata dan bertindak berlebihan, ia tersenyum pada david kemudian berlalu pergi seraya merengkuh pinggang iren, namun dalam hati aditya selalu bertanya-tanya,
'apakah david bersikap seperti itu karna iren? Ataukah ia memang termasuk golongan orang-orang yang tidak tahu malu? '
Di dalam mobil, aditya sibuk dengan laptopnya, sementara iren sibuk menatap jalan yang dilaluinya, hingga mobil itu melewati tempat iren memarkirkan mobil, tapi mobil itu sudah tidak terlihat.
" mobil nyonya sudah tidak ada di sana tuan muda?" ucap iren seraya menoleh, menatap dan memegang lengan aditya.
__ADS_1
" tenanglah nyonya muda, aku yang menyuruh roby untuk membawa mobil itu kembali" sahut aditya,
" syukurlah, aku pikir mobilnya hilang " ucap iren, ia melepaskan tangan aditya dan menatap ke depan
" dia begitu karna kau? atau dia memang seperti itu? " tanya aditya seraya menutup laptopnya
Rasa penasaran itu ternyata tak mampu aditya bendung, pertanyaan itu terlontar begitu saja, masalahnya iren tidak menanggapi pertanyaan itu dengan serius.
" memangnya ada apa dengan dia? " iren malah balik bertanya
" tidak! Jangan berpikiran macam-macam ya! " sanggah iren cepat, ia bahkan tidak membiarkan aditya menyelesaikan ucapannya
" Aku juga tidak tahu kenapa dia bersikap begitu, mungkin dia memang orang yang seperti itu" ucap iren, ia kembali menatap ke luar jendela
Setelah pembicaraan singkat itu, suasana di dalam mobil menjadi hening kembali, bahkan samai mereka tiba di butik, hanya kata " sampai jumpa" saja yang keluar dari mulut mereka.
Keduanya kembli pada kesibukan mereka masing-masing, jika iren sibuk dengan urusan butik, aditya juga tengah sibuk merevisi file-file resort yang baru saja ia ambil alih itu.
__ADS_1
" Ren cepat bereskan barangmu, sudah hampir jam 3" ucap lukas
" baru mau jam 3 kenapa harus terburu-buru opa? " tanya iren
" kau lupa kalau ini hari jum'at" sahut lukas
Iren menepuk dahinya sendiri, bisa-bisanya ia melupakan kebiasaan nyonya maya, tapi syukurlah ada lukas yang mengingatkan.
Iren bergegas merapihkan pekerjaannya, ia ikut pergi bersama lukas ke pemakaman, di sana senua orang sudah berkumpul untuk melakukan ziarah kubur, arsena pun sudah berdiri di samping papinya dengan membawa bunga.
Sore itu, maya merasa senang karna bisa memperkenalkan arsena pada mendiang suaminya, seperti biasa, ia bicara pada batu nisan suaminya sambil tersenyum dan menumpahkan air mata, bagi sebagian orang mungkin hal ini terlihat konyol, tapi maya tidak pernah peduli, karna hal itu mampu membuat hatinya merasa lega.
" Salam kakek" ucap arsena dengan manisnya
Aditya dan iren menatap arsena yang mengikuti kebiasaan maya. Ziarah itu berlangsung hikmat meski anggota keluarga tertua yang biasanya memimpin do'a berhalangan hadir, nenek aditya yang merupakan mertua maya tidak bisa hadir karna lututnya sakit, seiring dengan usianya yang semakin tua, kondisi kesehatanya pun terus menurun.
Mungkin aditya adalah cucu yang kurang ahlak, karna itu ia merasa senang dengan ketidak hadiran neneknya...
__ADS_1