
Aditya sudah berhadapan dengan dea, wanita itu terlihat senang melihat aditya datang menemuinya, walau pandangan mata aditya menatapnya dengan begitu tajam, wanita itu tetap menunjukan senyum termanisnya.
Sangat disayangkan, walau duduk bersama dan berhadapan, keinginan untuk menyentuh pujaan hatinya tidak bisa dea lakukan, keduanya terhalang oleh dinding kaca yang sangat tebal, dan mereka pun hanya bisa bicara melalui sambungan telepon di ruangan itu.
"Bagaimana kabarmu adi? " tanya dea memulai percakapan
" Buruk, sebenarnya apa yang kau inginkan dea? Kau masih saja belum puas walau iren sudah tiada" ucap aditya dengan senyum gerir
" Apa maksudmu adi? Aku tidak mengerti"
" Kau tidak usah bersandiwara, dimana kau menyembunyikan jenzah iren? "
" jenazah iren apa adi? Aku sungguh tidak mengerti"
" Ada orang yang menggali kuburan dan mengambil jenazah iren, dan aku yakin, pasti kau yang menyuruh orang-orang itu"
__ADS_1
" tidak adi, kau salah, aku bersumpah, aku sama sekali tidak melakukan itu, percayalah...."
" setelah apa yang kau lakukan, kau pikir aku akan bisa percaya padamu"
" Sungguh adi, sejujurnya sejak awal aku tidak berniat mencelakai iren, aku terhasut oleh ucapan naya dan...
" apa pun alasanya, kenyataan bahwa kau telah membunuh istriku tidak akan berubah dea"
" Adi! "
Sementara dea, wanita itu mulai menangis, hatinya sangat terluka setelah mendengar tuduhan dari pria yang dicintainya, cukup lama dea menangis di ruangan itu, sampai seorang polwan membawanya kembali ke sel tahanan.
Roby mengatakan bahwa ia menemukan fakta mengejutkan dari tim penyidik anggota kepolisian, fakta yang membuktikan bahwa dea mungkin saja hanya di peralat oleh naya, sayangnya! Pihak kepolisian tidak bisa menangkap naya karna tidak adanya bukti nyata yang mengarah padanya, laporan percakapan itu saja tidak akan cukup.
Indikasi itu semakin di perjelas takala aditya membaca percakapan telepon antara naya dan dea, rasa tak percaya, kesal, marah, serta benci seolah menyelubungi tubuhnya.
__ADS_1
Aditya sama sekali tidak bisa percaya begitu saja pada lembaran-lembaran kertas itu, apalagi fakta bahwa naya terobsesi padanya, kenyataan itu sungguh tak bisa aditya percaya.
Aditya mengingat saat naya dekat denganya, aditya pernah iseng bertanya tentang perasaan naya, saat itu naya mengatakan bahwa aditya bukanlah tipe pria idamanya, karena ucapan itu pula lah aditya sama sekali tidak menaruh curiga pada setiap tindakannya, ia juga menurunkan kewaspadaan karna berpikir yang naya inginkan hanyalah hubungan pertemanan.
Aditya juga mengingat beberapa kejadian yang sempat membuatnya berfikir bahwa naya menyukainya, naya selalu melakukan sesuatu seperti itu, tapi setelah itu naya memberikan alasan yang sangat logis sehingga kecurigaan itu lenyap begitu saja.
" Harusnya aku tahu! "
" begitu banyak tindakannya yang menunjukan ketertarikan, harusnya kita tidak percaya pada ucapannya adi, apa rencanamu? Kita tidak bisa diam dan membiarkannya saja"
" kau benar rob, dia menginginkan aku kan, maka balik lah, aku akan berikan apa yang dia mau, dan aku akan membalas setiap kelihatannya dengan caraku, lihat saja nanti"
Aditya dan roby pergi dari sana, tujuan keduanya kali ini adalah apartemen naya, jalanan yang aditya lalui begitu padat, mungkin karna bertepatan dengan jam pulang kerja.
Aditya mencoba membuka pintu apartemen naya dengan sandi tanggal ulang tahunya, dan mengejutkan, pintu apartemen itu benar-benar terbuka.
__ADS_1