
Aditya meninggalkan ritual mandi sesaat setelah ia membasahi tubuhnya, ia tidak bisa membiarkan iren terus marah padanya, terlebih ia bisa melihat wajah masam iren dari pintu kamar mandi yang setengahnya adalah kaca, cemburu memang baik, tapi marahnya tidak boleh dibiarkan terlalu lama.
Aditya keluar dari kamar mandi setelah melilitkan handuk di pinggang, ia langsung memeluk iren dengan erat, dan semakin erat saat iren mencoba memberontak.
" maafkan aku iren, aku tahu kebiasaan ku membuatmu cemburu, suamimu ini memang jahat, aku senang saat melihatmu cemburu, tapi aku tidak suka melihatmu marah padaku" ucap aditya sendu
" apa aku harus senang adi? Coba kau bayangkan! Bagaimana jika aku yang membuka baju di hadapan pria lain, apa kau....
Aditya meletakan telunjuknya di bibir iren seraya menggeleng, lalu berkata " tubuhmu itu ekslusif hanya untuk suamimu seorang sayangku, jangan pernah berpikir apalagi sampai melakukanya, hanya aku yang berhak untuk melihat dan menjamah tubuhmu"
" apa peraturan itu tidak bisa belaku juga untukmu? " tanya iren seraya melepaskan satu tangan aditya yang masih setia melingkar di pinggangnya.
" peraturan itu juga berlaku untukku, aku berjanji sayangku, kedepannya aku tidak akan membuka baju di depan wanita lain tanpa seijin mu" ucap aditya, tatapan matanya menampakan kejujuran, meruntuhkan semua amarah yang ada di hati iren.
" janji ya! "
__ADS_1
" janji sayangku"
Iren tersenyum lalu mendorong aditya ke arah pintu kamar mandi seraya berkata " sudah sana, selesaikan ritual mandi mu"
" aku sudah tidak mood untuk mandi sekarang, iren!" aditya berjalan kembali mendekat, ia menarik pinggang iren dalam pelukanya kemudian berkata " aku lebih ingin menciumu, ayo kita ciuman! "
" aditya! Apa kau tahu? Melihatmu seperti ini membuatku bertanya-tanya mana dirimu yang sesungguhnya, sejak kita memutuskan untuk melangkah maju, kau malah terasa asing bagiku" ucap iren seraya meletakkan tangannya di dada bidang aditya.
" yang kau lihat dulu itu aku, kini aku pun masih orang yang sama, tidak pernah berubah iren, orang bilang aku mencintaimu, aku yang bodoh soal masalah cinta ini sekarang mempercayainya, kau harus menerimaku, karna aku tidak akan membiarkanmu mundur dari hubungan ini" ucap aditya penuh ketulusan.
" manis" ucap aditya saat iren merapihkan bekas lipstiknya di bibir aditya
" Apa kau jadi lupa bernafas karna berciuman sayangku? atur nafasmu dengan baik, dan.... ayo kita lakukan lagi"
" sudah cukup adi, kau harus bersiap kan! "
__ADS_1
" sebentar saja iren!"
Iren mengecup bibir aditya lalu berkata " sudah, sebentar saja kan! "
" curang! " gerutu aditya seraya melepas pelukanya, melihat iren tersenyum membuat aditya juga ikut tersenyum
Iren berbalik membelakangi saat melihat adiditya hendak melepas handuknya, hal itu membuat aditya gemas " ren aku milikmu, kau tidak mau lihat? " godanya
" aditya! " aditya tersenyum mendengar namanya dipanggil dengan malu-malu
Iren membantu aditya mengenakan kemejanya, dan dalam prosesnya itu aditya kembali memiliki kesempatan untuk menggoda sang istri, tepat saat iren tengah memasukan kemeja ke dalam celana bagian depannya, ia berseru " jangan sampai menyentuh ular yang sedang tidur, karna jika sudah bangun ia harus diberi makan"
Tangan iren reflek berhenti setelah mendengar ucapan aditya, naasnya iren melihat tangan itu berada tepat di perut bagian bawah pusar aditya, jika lebih kebawah sedikit saja mungkin ia akan menyentuh kepala ular itu.
" ahhh.... " aditya mendesah nikmat saat iren mengarik tanganya, karna hal itu pula iren melayangkan beberapa pukulan di lengan aditya sambil berteriak memanggil namanya " aditya....! ahhh..."
__ADS_1