
Sesuai rencana aditya menemui dea di tahanannya, wanita itu kini tidak lagi semangat seperti dulu, ia juga sedikit lebih kurus.
" apa kabar dea" sapa aditya
" baik! "
Jawaban dea sangat singkat, ia juga hanya tersenyum samar, selama di tahan wanita itu banyak merenung.
" kau adalah wanita yang baik dan berbakat dea, aku sangat menyayangkan keadaanmu saat ini"
" aditya! Tolong jangan memuji hanya untuk menghiburku, aku tidak ingin melayang lagi"
" Aku sungguh-sungguh mengatakan hal itu dea"
" Sampai kapan kau akan terus membuatku salah faham? "
" aku tidak berniat melakukan itu dea, pujian ku padamu adalah penilaian nyata dariku, aku hanya tidak bisa membalas perasaan cintamu, seperti kau yang tidak bisa menyerah"
" kenapa kau datang aditya? "
Akhirnya tanya itu terlontar juga, dea merasa sesak saat melihat pria yang amat ia cintai itu menjadi alasan dirinya tak berdaya.
__ADS_1
" pulanglah..." seru aditya sambil tersentum
" Pulanglah ke indonesia, aku akan menjamin kebebasanmu asal kau tidak muncul dihadapanku lagi"
Dea mulai menitihkan air mata, ia menatap aditya lalu mengajukan sebuah tanya " kenapa? "
" tempat ini tidak cocok untukmu"
" bukan itu aditya, maksudku adalah, kenapa kau masih tidak bisa membuka hati walau iren sudah tiada? "
" Alasanku sama seperti kau yang tidak mau menyerah walau aku sudah dimiliki wanita lain"
Dea memejamkan matanya, dengan berat hati ia menyetujui tawaran aditya, ia bersedia dipulangkan ke indonesia.
' Jika kehidupan tak membiarkan iren berada di sisinya, maka biarlah ia mengenang itu sebagai sesuatu yang manis, bukan rasa sedih dan penyesalan karna tak mampu menjaganya'
Itulah yang ada dalam kepala aditya, dan hal itu tidak akan terwujud selama ia tidak menyingkirkan dea untuk selamanya, aditya berusaha untuk tidak menumpahkan darah dalam pertarungan yang menjadikan cinta sebagai alasannya.
Setelah membuat dea setuju, aditya pergi ke kantor untuk bekerja, dan siangnya ia menjemput arsena di sekolahnya, anak itu tampak gembira melihat papanya, ia sampai berlari dan melopat ke dalam pelukan aditya.
" bagaimana harimu sobat? "
__ADS_1
" baik papi, tidak ada kelas hari ini, aku masuk juga hanya untuk mendaftarkan diri untuk ujian kenaikan kelas, dan aku bermain dengan yang lain, semuanya menyenangkan" jawab arsena dengan senyum yang mengembang.
Arsena yang manis
Arsena yang lucu
Arsena yang manja
Tapi sayangnya semua itu tidak berlaku bagi naya.
" tante nay! "
Panggilan itu memekik begitu kencang sampai terdengar menggema ke beberapa ruang di sekitarnya.
Begitu sampai di rumah arsena langsung mencari naya, mencari gara-gara dengan kedok menemaninya bermain, ia menyusahkan naya di setiap kesempatan yang ada.
Naya yang hendak mendudukan diri mendengus mendengar panggilan anak itu, ia kapok bermain dengan arsena, tapi tidak bisa menolaknya, terlebih aditya selalu memintanya dengan senyuman termanis yang tidak pernah ia tunjukan, dan demi apapun, naya akan bersedia asal aditya tersenyum seperti itu padanya lagi dan lagi.
Mama maya menghampiri aditya setelah pria itu melepas putranya untuk menghampiri naya, maya sungguh tidak menyukai pemandangan itu.
" Apa kau tidak berniat untuk mengusirnya setelah apa yang dia lakukan adi? " tanya mama maya
__ADS_1
" please ma, tolong jangan ikut campur dengan urusan adi, adi tahu apa yang adi lakukan" jawab aditya yang langsung pergi untuk kembali ke kantornya.
" tapi yang kau lakukan itu menyakiti iren adi" lirih mama maya, sebagai seorang wanita yang pernah di khianati, ia bisa mengerti kekhawatiran iren saat melihat suaminya bersikap ramah pada wanita lain.