Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Masih ingin memilikimu


__ADS_3

Pagi menyapa, semilir angin menggoyangkan ranting-ranting pohon hingga menimbulkan suara yang merdu, berpadu dengan kicau burung yang saling bersahutan menyambut pagi yang cerah.


Iren mengerjapkan mata, pemandangan apa yang jauh lebih indah dari melihat seorang pria tampan yang tidur bersamanya, wajah aditya terlihat sangat damai saat tertidur.


Iren mencoba menggoda suaminya dengan meniup wajah aditya, namun aditya tidak terbangun.


Iren mencoba mencubit hidung aditya, namun saat aditya membuka mata iren malah menjerit, lalu mulai menangis.


“ iren tenang lah” ucap aditya seraya memegang erat lengan iren.


“ Bagaimana bisa tuan meminta aku untuk tenang?” ucap iren di sertai dengan rengekan tangis tanpa air mata


“ aku minta maaf iren”


“ semudah itu tuan minta maaf, setelah aku kehilangan segalanya, apa tuan muda pikir aku bisa memaafkan tuan begitu saja”


“aku khilaf iren” iren meraung semakin keras


“ tuan khilaf, lalu aku bagaimana? Kenapa tuan melakukan ini padaku? Apa salahku tuan muda, coba katakan? “ ucap iren sambil menangis


“ Aku akan bertanggung jawab, aku janji, aku akan menikahimu, sudah ya jangan menangis lagi” ucap aditya meyakinkan


“ tidak mau, aku benci tuan muda”


Aditya tidak suka mendengar kata itu, ia menarik tangan iren yang hendak bangkit dari atas tempat tidur, membuat iren kembali terbaring di bawah kungkungannya.


“ Kau boleh menyakitiku, menamparku, memukulku, memaki, apa pun boleh, tapi jangan benci aku iren” ucap aditya dengan suara tegas seakan enggan untuk di bantah


Iren menatap dalam mata aditya, lalu bertanya “ kau begitu mencintaiku adi? Jika aku melakukan hal jahat, apakah cinta itu tidak akan menghilang”


“ tidak akan” ucap aditya yang juga menatap dalam mata iren


“ aditya”

__ADS_1


“ ya iren”


“ adi”


“ iya sayang”


“ aku berbohong dan kau pun percaya begitu saja”


“ iya, kau berbohong dan aku pun percaya begitu saja?“ ucap aditya yang masih menatap dalam mata sang istri


“ heeh... “ ucap iren mengangguk


“ kau berbohong? “


Dari suaranya aditya terdengar mulai sadar bahwa dirinya sedang di jahili, iren hanya tersenyum semanis mungkin.


“ kau berbohong? “ suara aditya meninggi karna kesal.


“ ahhhh... Hahahaha “


Gelak tawa iren menggema ke seluruh sudut kamar, bahkan terdengar sampai keluar.


Dea yang hendak mengetuk pintu itu pun mendengar tawa iren, ia marah, ia cemburu, ia merasa iri, ia lalu berangan seandainya dirinyalah yang ada di dalam kamar itu dan bukan iren.


Dering ponsel dea membuat wanita itu menjauh dari kamar aditya, ia menghela nafas kasar saat menerima panggilan dari rivalnya.


Dea: ada apa?


Naya: suaramu terdengar sangat tidak bersahabat dea


Dea: tidak usah basa basi, cepat katakan kenapa kau menelepon ku?


Naya: aku menelepon untuk berpamitan padamu

__ADS_1


Dea: berpamitan?


Naya: seperti kau yang menyerah atas cinta aditya, aku juga akan menyerah, sudah ku putuskan, aku akan kembali ke indonesia hari ini juga


Dea: untuk apa kau pamit padaku, aku rasa kita tidak seakrab itu


Naya: aku tahu, tapi aku ingin berdamai denganmu, anggap saja kita berhenti menjadi rival karena kita sama-sama tahu


Dea: tahu apa maksudmu?


Naya: tahu bahwa kita harus menyerah, tahu bahwa aditya tidak akan berpaling kecuali jika iren tiada, david sudah di penjara, sekarang tidak ada lagi orang yang akan menyingkirkan iren dari kehidupan aditya


Dea: kau akan pulang sekarang?


Naya: Jika kau bertanya karna ingin mengantarku, aku akan beri tahu, pesawatku akan terbang sepuluh menit lagi.


Dea: kau terlalu percaya diri naya


Naya: baiklah,,,, Aku akan menutup telpon, jika suatu hari kita bertemu kembali, aku harap kita tidak mencintai orang yang sama lagi.


Dea kembali ke kamar aditya setelah sambungan telepon itu terputus, dengan perasaan gamang ia melihat pintu kamar aditya mulai terbuka.


Iren keluar dari kamar dengan tubuh yang hanya dililit sehelai selimut, serta tanda kepemilikan di beberapa bagian tubuh iren yang bisa terlihat dengan jelas.


“ andai aku yang berada di posisi itu, maka tidak akan ada lagi yang kuinginkan, aku cukup bersamamu saja, jadi yang ke dua pun tidak masalah” ucap dea sendu


Dea terus bergumam pelan seraya masuk ke dalam kamar aditya, ia berdiri di samping tempat tidur yang masih berantakan, dea mengusapnya seprai itu lembut.


“ aku masih ingin memilikimu aditya, aku tidak bisa merelakanmu begitu saja, cintaku jauh lebih besar dari cintanya, tapi kenapa kau malah memilih dia” gumam dea seraya menghirup aroma keringat yang tertinggal di sana.


Gemercik air yang terdengar dari kamar mandi membuatnya berpaling muka, dea pun berjalan mendekati pintu kamar mandi, ia menempelkan wajahnya pada pintu, seolah tengah memeluk pintu yang ia anggap sebagai aditya.


Setelah diam beberapa lama di depan kamar mandi, dea mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, ia tersenyum saat melihat iren yang kembali masuk, kali ini wanita itu memakai kimono mandinya.

__ADS_1


__ADS_2