Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Seperti HANTU


__ADS_3

Aditya dan iren sama-sama mengantar sena ke sekolahnya, di halaman sekolah, mereka bertemu dengan para orang tua murid yang lainnya.


“ hi! Aku baru ini melihatmu”


“ putraku baru bergabung di sekolah ini beberapa hari lalu”


Beberapa dari mereka mengajak iren bicara untuk sekedar berkenalan dan bertukar nomor.


Aditya mengabaikan para wanita yang tengah asik mengobrol, matanya menangkap sesosok pria yang tidak asing saat ia tengah memperhatikan keadaan sekitar.


David tengah berjalan di koridor dengan seorang wanita muda, sepertinya wanita itu dokter karna ia terlihat mengenakan jas putih kedokteran, keduanya menghampiri tempat aditya berdiri.


“ kebetulan yang menyenangkan iren”


David menyapa iren yang berdiri di belakang aditya. Aditya yang merasa sengaja diabaikan pun memalingkan wajah, selain sentuhan wanita, kini pria itu juga terlihat menyebalkan dimatanya.


Iren yang sudah menyelesaikan perbincangannya, berbalik badan dan melihat david, ia sedikit terkejut, karna sesungguhnya iren tidak mendengar dengan jelas saat david menyapa.


“ oh hi david! Apa kabar? “


Iren seperti menjawab sapaan david, jangan lupakan senyum ramahnya, meski mengetahui segalanya tentang david, iren berusaha untuk tidak menghakimi dan tetap bersikap ramah.


Namun, hal itu membuat david berani memperlihatkan senyum mengejek pada aditya, tentu saja aditya semakin tidak senang dengan hal itu.

__ADS_1


“ kenapa wanita secantik dirimu ada di sini?” tanya david seraya mencolek lengan iren, sedikit menggodanya


“ Aku mengantar putraku, kau sendiri? “ jawab iren di iringi tanya


“ aku mampir untuk bertemu teman lama” jawab david sambil memperlihatkan senyum yang menggoda.


Pria yang bernama david itu benar-benar tampan, terlebih saat ia tengah tersenyum, melihat lesung pipinya yang begitu manis dan menggemaskan membuat iren bertanya-tanya dalam hati “ pria yang begitu tampan sepertinya, bagaimana bisa dia melakukan hal yang begitu keji”


Oh tuhan... Tolong bantu iren untuk menjaga imannya agar tidak goyah.


“ ren kenalkan dia salah satu psikiater terhebat di negara ini, namanya bianca lizzie” David memperkenalkan wanita yang berdiri di sampingnya.


“ panggil saja bian” seru bianca, ia tersenyum seraya mengulurkan tangan


Bianca melepas tangan iren dan kemudian mengajak aditya berjabat tangan, tapi aditya malah mundur satu langkah seraya menyembunyikan tangan di belakang tubuhnya, ia bahkan terang-terangan mengabaikan bianka dengan mengalihkan pandangan matanya, menatap sembarang ke arah langit biru.


“ tolong maafkan dia bian” ucap iren seraya menyentuh otot lengan aditya dengan sedikit meremasnya


“ tuan aditya, jangan hanya panggil nama, itu tidak sopan” ucap aditya yang mengerti protes iren terhadap sikapnya


“ jangan di masukan ke hati bian, aditya memang begitu, dia suka bicara sedikit kasar dan menghindari bersentuhan dengan wanita cantik sepertimu, dia selalu menjaga perasaanku agar tidak cemburu” ucap iren


Aditya menatap iren dengan penuh tanya, hatinya bahkan berguman ‘ bagaimana bisa iren berbohong dengan begitu lancar, kebohongan yang terlalu percaya diri itu,,,, boleh juga!'

__ADS_1


Sayang sekali, waktu mengobrol dengan bianca sangat singkat, karna bianca dipanggil masuk oleh kepala sekolah, setelah bianca pergi, david kembali berusaha untuk mendekatkan diri dengan iren.


“ ren, apa kamu mau menemaniku makan? Aku begitu sibuk sampai melupakan sarapanku” ucap david, pria itu masih saja tersenyum menebar pesonanya.


“ sayang sekali kami harus pergi tuan david, dan lagi kami sudah sarapan tadi” aditya yang menjawab, ia bahkan maju dan berdiri di depan david, seolah menghalangi david agar tidak menatap iren.


“ ayo iren! “ aditya berbalik dan menarik iren pergi, iren tidak bersua, ia hanya melambaikan tangan seolah mengucapkan selamat tinggal pada david


“ kenapa pria itu selalu muncul dimana-mana seperti hantu” ucap aditya, mereka kini sudah berdiri di dekat mobil, bersiap untuk pergi


“ jangan bicara begitu tuan, oh ya! Kita mau pergi ke mana?” aditya menatap iren dengan penuh tanya


“ bukankah nenek melarang kita untuk pulang sebelum larut” ucap iren mengingatkan


“ benar juga” sahut aditya seraya mengangguk


“ baiknya kita kemana? “ aditya malah balik bertanya


“ terserah! ” sahut iren kesal, iren paling benci jika pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan lagi, ia langsung masuk ke dalam mobil, sementara aditya masih berdiri di luar sambil berpikir


“ sampai kapan anda akan berdiri di sana tuan? ”


Mendengar iren yang sudah duduk manis berseru, aditya pun ikut masuk ke dalam mobil, sambil menyalakan mobil aditya kembali bertanya

__ADS_1


“ jadi kita mau ke mana?”


__ADS_2