Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
Di bawah pohon maple


__ADS_3

Siapa wanita yang aku lihat?


Apakah itu benar iren?


Ataukah hanya halusinasi ku saja karna terlalu merindukannya?


Apakah dia benar-benar iren?


Atau ada seseorang yang tengah bermain-main dengan sosoknya?


Apakah yang kulihat itu hantu?


Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benak aditya, pria tampan itu sampai lupa bahwa ia harus tidur karena besok ia masih harus bekerja.


Aditya masih terduduk di bawah pohon maple, padahal rona merah di langit sudah terlihat, pertanda bahwa matahari akan menampakan sinarnya.


Sebuah tangan yang menyentuh bahu kekar itu menyadarkan aditya dari lamunannya, ia mendongak menatap si pemilik tangan, tanpa aditya sadari, ia tersenyum saat melihat wajah nia.


" kenapa tuan ada di sini sepagi ini? " itulah tanya yang nia tulis di ponselnya dan ia tunjukan pada aditya


Aditya menarik tangan nia sampai wanita jatuh terduduk di sampingnya, nia hampir saja mengeluarkan suaranya, jika saja ia tidak bisa menekan suaranya, ia pasti sudah ketahuan berbohong.


" Apa pendapatmu? " Sebuah tanya abstrak keluar dari mulut pria itu, ia sama sekali tidak menjelaskan pendapat apa yang dia maksud itu.

__ADS_1


"pohon maplenya terlihat sangat cantik" itulah yang nia ketik setelah berpikir, aditya tersenyum saat nia menunjukan tulisan itu.


" kau tahu nia? Aku tidak pernah mengerti kenapa? Saat aku memberinya kesempatan untuk meminta apapun, bukan intan berlian yang ia minta, tapi pohon maple yang ia tanam ini" ucap aditya, nia pun menatap aditya dalam.


" iya nia, pohon ini iren yang menanamnya, dan aku yang membelikanya" ucap aditya yang merasa tahu arti dari tatapan nia itu


" Masuk tuan, nia buatin sarapan" tulis nia, ia beranjak dari duduknya setelah menunjukan tulisan itu, ia juga menggerakkan tangan dan kepala, memberi kode agar aditya bergegas.


Aditya pun mengikuti keinginan nia, ia terlihat bangkit bersama dengan terdengarnya helaan nafas kasar, hal itu cukup membuat nia tersenyum pagi ini.


Aditya duduk di meja makan, dengan ditemani secangkir teh jahe buatan nia, ia menikmati teh itu sambil menunggu anggota keluarganya untuk sarapan bersama.


" selamat pagi!"


" Maaf mengganggu waktu sarapan nyonya, fitria memaksa ingin berbicara dengan nyonya dan tuan adi" ucap pak eka seraya menundukan kepala.


" Apa tidak bisa nanti saja pak? " tanya nyonya maya saat melihat tubuh fitria gemetar


" Saya juga berpikir sama nyonya, tapi fitria bilang harus dibicarakan segera sebelum keberaniannya menghilang katanya! " jawab pak eka


Pak eka sebenarnya sungkan mengganggu, tapi pelayan yang bernama fitria itu terus saja mendesaknya untuk membantu mendapat ijin bicara pada nyonya maya dan tuan aditya.


" Maju sini fit, kamu mau bicara apa? " tanya nyonya maya

__ADS_1


Fitria menjatuhkan diri berlutut di hadapan majikanya, setelah helaan nafas panjang suaranya mulai terdengar " Fitria minta maaf nyonya, tuan, fitria sudah melakukan kesalahan, karna itu semalam arwah iren mendatangi fitria"


Aditya memukul meja hingga menimbulkan suara gebrakan yang membuat orang-orang tersentak kaget, tatapannya di penuhi amarah, ia bahkan bertanya " omong kosong apa yang kau ucapkan barusan fitria? " dengan penuh penekanan.


Fitria mulai menitihkan air mata, ia mengungkapkan bahwa dirinya kemarin tidak sengaja menguping pembicaraan stevan, roby, dan naya, dari ucapannya, pelayan itu jelas mempercayai bualan stevan dan roby.


" iya! Tapi kamu punya salah apa sama iren sampai iren mendatangimu?" tanya nyonya maya yang merasa tidak mendapat kejelasan.


" anu nyonya, sebenarnya....


Fitria menghentikan ucapannya lalu menunduk dalam untuk mengumpulkan keberanian.


" fitria tahu bahwa ayu bersekongkol dengan nona naya, fitri melihat ayu berkirim pesan dengan nona naya, fitria juga tahu bahwa ayu lah yang merekam nona dea saat nona dea berencana membunuh iren, dan....


Aditya kembali menggebrak meja dan kali ini ia bahkan bangkit dari duduknya, kilat amarah itu tidak bisa ia tahan, aditya menghina dan memaki pelayan itu karena diamnya.


Di tengah keributan yang terjadi, nia diam-dian pergi dari sana, pak eka yang melihat mengikuti nia dari belakang, mereka bergegas pergi ke danau buatan.


" tunggu nyonya! Apa yang nyonya coba lakukan? " tanya pak eka seraya menarik tangan nia menjauh dari danau.


" pak eka! Aku melempar ponsel ayu tanpa memeriksanya dulu, aku sudah melakukan kesalahan, jadi aku yang harus bertanggung jawab bukan" ucap nia dengan setengah berbisik


" tidak nyonya! Biarkan saya yang masuk ke dalam danau dan mencari ponsel itu, ingatlah bahwa nyonya tengah menyamar, riasan nyonya bisa luntur nanti, dan ini siang hari, nyonya juga tidak mungkin pura-pura jadi arwah"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu pak eka membuka jasnya, lalu melompat ke dalam danau, mencari ponsel yang bisa menjadi barang bukti, yang dengan bodohnya iren buang begitu saja.


__ADS_2