Anak Genius Dewa Kebersihan

Anak Genius Dewa Kebersihan
headline


__ADS_3

Di saat pagi menyapa, para pekerja di rumah besar mulai sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing, begitupun dengan iren yang tengah menyamar sebagai nia, ia pergi ke gerbang utama untuk mengambil surat kabar pagi ini.


" Pewaris keluarga candra menyambangi kediaman duta besar indonesia untuk mengajukan lamaran"


Mata nia membulat saat membaca headline koran itu, cairan bening mulai menggenang, namun ia seka sebelum berhasil jatuh membasahi pipi, yang bisa wanita itu lakukan hanyalah menegarkan diri sendiri.


' bagaimanapun aditya tidak salah jika berpikir untuk meminang naya, karna baginya aku telah tiada, tapi kenapa mama waktu itu bilang bahwa aditya berjanji tidak akan menikahi naya, apakah itu hanya agar aku tidak bersedih, jika aditya menikahi naya, lalu apa artinya semua ini'


Tangis itu tak bisa ia tahan, nia tumpahkan seluruh air matanya di tempat tersembunyi, dengan pemikiran tidak akan ada yang melihatnya seperti itu, tapi itu tidak benar, sepasang mata tengah mengamatinya dari jauh.


Aditya memegang pundak nia, namun wanita itu menepisnya dengan kasar.

__ADS_1


" Hei ada apa denganmu nia? Kenapa kau menangis seperti ini? Siapa yang sudah menyakitimu?"


Pertanyaan itu terucap dengan satu tarikan nafas, rasa cemasnya bahkan bisa terlihat dengan jelas di matanya.


'Kenapa adi? Kenapa kau memutuskan untuk menikahi naya? Padahal kau sudah tahu bahwa dia sudah mendorong dea untuk melenyapkan aku' Hanya batin iren yang mengeluh, suaranya ia tahan dengan merekatkan bibirnya, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara isakkan dari tangis yang ia tahan itu.


Nia melempar koran dalam genggaman tanganya, melihat aditya tersenyum membaca headline itu membuat hatinya semakin yakin pada pikiran buruk yang menerobos masuk di kepalanya.


" tunggu nia! " seru aditya serata mencengkram pergelangan tangan nia.


" Katakan saja aku sudah gila, aku mencintai wanita lain setelah berjanji untuk menjadikan istriku sebagai wanita satu-satunya dalam hidupku, tapi aku tidak bisa lari dari kenyataan, mataku selalu tertarik untuk melihatnya, pikiranku selalu ingin tahu apa yang tengah ia pikirkan? Mungkin karna darah penghianat itu mengalir di tubuhku, atau mungkin juga karna aku memang tidak bisa setia, tapi apa salah jika aku jatuh cinta....

__ADS_1


Ucapan aditya terputus karna nia mendorong kuat tubuh aditya, nia lari secepat yang ia bisa agar bisa pergi dari sana, menjauh dari pria itu.


Nia masuk ke dalam kamarnya, ia lepaskan suara isak tangis yang berusaha ia tahan sekuat tenaga, nia menarik kasar rambut palsunya, menghapus make up penyamarannya dengan air mata yang terus mengalir.


"Aku menyamar untuk mengumpulkan bukti agar bisa memenjarakan wanita itu, agar dia tidak lagi mengganggu hubungan kita adi, tapi apa yang harus aku lakukan jika aditya memang menginginkannya? " lirih iren di sela-sela tangisnya.


Sementara itu di kamar lain, naya tengah melompat-lompat kegirangan setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya, bebebrapa temanya mengirimkan foto surat kabar dan menanyakan kebenaran itu.


Setelah berusaha menenangkan diri, naya keluar dari kamar dan mencari keberadaan aditya, ia tersenyum sangat lebar saat melihat aditya berdiri dengan memegang koran hari ini.


" Sudah aku duga, perasaanya sama denganku, buktinya dia cemburu" ucap aditya sambil tersenyum senang.

__ADS_1


Naya mendengar sebagian ucapan itu setelah berdiri di belakang aditya, rasa penasaran membuatnya bertanya " siapa yang cemburu adit?"


Aditya berbalik menghadap naya, ia memberi isyarat pada wanita itu untuk diam, dan memeberitahunya bahwa ia tengah menelpon dengan menunjuk earphones di telinganya, aditya melangkah masuk ke dalam rumah, mengabaikan naya yang berdiri dan mengajaknya bicara.


__ADS_2