
Aditya dan roby menghentikan kemesraan mereka karna takut pada tatapan tajam mama maya, mereka bergabung di meja makan untuk sarapan bersama, lalu pergi meninggalkan rumah bersama juga, walau tidak lagi menjabat sebagai asisten aditya, roby masih selalu ada di samping aditya, menemaninya sebagai seorang sahabat.
Tak lama kemudian, naya pun pamit untuk pergi bekerja seperti biasa, senyum mengembang yang selalu ia tunjukan itu terasa sangat mengerikan, akal bulusnya seolah terlihat dengan jelas.
Di rumah besar itu kini hanya ada mama maya dan arsena, anak itu tengah libur karna kakak tingkatnya sedang ujian.
Arsena yang tengah bermain bola bersama nia di tengah rumah menghentikan aktivitas mereka saat seorang pelayan terlihat terburu-buru pergi, dengan sengaja arsena melempar bola di tangannya mengikuti arah pelayan itu pergi, anak itu pun kemudian berlari keluar rumah, berpura-pura mengejar bolanya.
Arsena mengambil bolanya kembali, dilihatnya pelayan itu tengah berbicara pada seseorang, arsena tidak bisa melihat wajahnya karna orang itu tidak membuka helm yang dikenakannya.
“ ada yang bisa di bantu tuan muda? “ ucap seorang petugas keamanan menghampiri
“ lihat, kakak itu meninggalkanku bermain sendiri demi pacarnya” keluh sena dengan wajah yang terlihat kesal, namun menggemaskan.
Petugas keamanan itu melihat arah tunjuk arsena, lalu berkata “ pria itu bukan kekasih kakak itu tuan muda, dia itu cuma kurir yang mengantar berkas” kemudian tersenyum
“ apa paman tidak berbohong? “ tanya arsena seraya menatap petugas keamanan itu
“ tentu tuan muda, lihat saja seragamnya, dan tadi saya yang menginterogasinya juga, katanya dia membawa berkas penting dan akan memberikan langsung pada orangnya, saya tidak mencegahnya karna itu adalah pekerjaannya, tapi saya juga tidak bisa membiarkannya masuk demi keamanan “ terang petugas keamanan itu.
“ baiklah! Aku masuk ya paman”
Arsena pun pamit pada petugas itu ketika melihat nia sudah berdiri di ambang pintu, petugas itu pun melempar senyum saat arsena berlari menjauhinya.
Arsena menarik tangan nia seraya berkata “ temani aku bermain kakak nia” dengan senyum cerianya.
Setelah menarik nia masuk arsena pergi ke kamarnya, anak itu mengerti bahwa dia tidak boleh terlibat dalam urusan orang dewasa, biarlah mereka yang menangani pelayan mencurigakan itu.
Setelah kejadian melempar sandal sebelum sarapan, mama maya kini dihadapkan pada ketegangan baru, yang iren duga kini ada di hadapannya, sebuah berkas mencurigakan sudah ada di hadapannya, bersama dengan pelayan yang tadi membawakan berkas itu.
“ nyonya!” seruan itu membuat mama maya mendongak
“lekaslah tanda tangan, orang yang mengirim berkas tadi menunggu, katanya ini penting loh, dan katanya pak lukas yang meminta tanda tangan itu” terangnya
__ADS_1
Entah sudah berapa kali pelayan itu mengatakan hal yang sama, dan setiap kali maya hendak membaca dokumen, pelayan di depanya ini selalu mengajaknya bicara, seolah tengah mengalihkan perhatiannya.
Dan lagi, jika untuk urusan penting lukas selalu mendatanginya langsung, atau jika pun ia membutuhkan tanda tangan darinya, lukas biasa menghubunginya dulu, berkas akan di kirim oleh supir pribadi, dan bukan oleh kurir jasa pengiriman, itulah yang membuatnya curiga.
Tindakan terburu-buru naya memberikan keuntungan pada iren, wanita itu langsung mendatangi pak eka, keduanya pun masuk ke ruang kerja maya tanpa mengetuk pintu.
Pak eka mengunci pintu ruangan itu, maya tersenyum sambil melipat tangan di dada, pelayan yang diketahui bernama indah itu mulai memperlihatkan kepanikannya.
“ apa yang kau inginkan indah? Uang, kau paling suka uang kan! Berapa banyak uang yang dia berikan sampai kau tega berkhianat “ ucap pak eka, pria itu berdiri di belakang indah bersama dengan iren.
“ aku tidak mengerti apa maksud bapak? “ ucap indah dengan keringat yang sudah memenuhi keningnya
“ Sepertinya aku bersikap terlalu baik padanya, kau punya dua pilihan indah, beritahu apa yang wanita itu rencanakan, atau kukembalikan kau ke indonesia tanpa uang sepeser pun” ucap maya yang kemudian bangkit dari duduknya.
Indah kesulitan menelan ludahnya sendiri, dia tidak sebodoh itu hingga tidak mengerti situasinya saat itu, pelayan itu menjatuhkan tubuhnya di hadapan maya, memeluk kakinya seraya meminta pengampunan dari majikannya itu, mengharapkan belas kasih yang selalu maya tunjukan selama ini.
“ ampuni saya nyonya, saya khilaf, saya membutuhkan uang untuk pernikahan adik saya, karna itu saya menuruti perintah nyonya muda” ucap indah disertai air mata
“ kau hanya punya waktu lima menit untuk menentukan pilihan” seru pak eka
“ saya akan mengatakanya nyonya, tapi tolong jangan pecat saya” nyonya maya hanya tersenyum mendengar ucapan itu
“ kau sudah berkhianat, jadi harus ada bukti nyata indah, aku tahu kau bukan orang bodoh” ucap pak eka
“ ada, aku menyimpan buktinya, aku merekam percakapan kami” ucap indah yakin, ia menyeka air matanya dan mengeluarkan pulpen dari sakunya, indah lalu menekan tombol pada bolpoin itu, suara percakapan pun mulai terdengar.
Indah: apa nona bisa mengatakan maksud nona menemui saya?
Naya: kau terlalu terburu-buru indah, tapi karna aku juga tidak punya banyak waktu, aku akan langsung bicara ke intinya.
Naya: aku tahu kau suka uang, aku akan memberimu uang yang banyak jika kau mau membantuku
Indah: bantuan seperti apa itu nona
__ADS_1
Naya: Aku ingin kau mengawasi iren dan laporkan semuanya padaku.
Indah: itu sangat sulit nona,
Naya: dan aku yakin kau bisa melakukannya
“ saat itu nona naya memperlihatkan uang segepok, saya yang gelap mata langsung mengambil uang itu dan mengawasi iren” ucap indah saat rekaman itu berakhir, pelayan itu pun kemudian memutar rekaman lain
Naya: dengarkan aku indah, hari ini akan ada seseorang yang mengantarkan berkas, kau harus mengambil berkas itu, dan pastikan si maya menandatanganinya, dan kau harus berusaha agar nenek sihir itu tidak membaca seluruh berkas itu
Indah: apa imbalannya untuk saya
Naya: aku akan menjadi nyonya rumah di mansion ini, dan aku akan membiarkan dirimu menerima gajih tanpa harus bekerja
Indah: itu saja!
Naya: jangan terlalu serakah indah, kau bukan satu-satunya kaki tanganku di rumah ini, jika kau tidak mau mengikuti perintahku, mereka akan membereskanmu dengan cepat, dan ingat untuk tutup mulut
“ rekaman ini di buat tadi pagi saat saya bangun, nona naya sudah duduk di kamar saya, saya meminta ijin untuk ke kamar kecil sebentar agar bisa merekam percakapan kami nyonya, jujur saya tidak tahu siapa yang nona naya maksud sebagai kaki tangan lain itu” terangnya.
Nia merampas bolpoin itu, air matanya menetes tanpa bisa ia tahan, bagaimana pun sebelumnya ia bekerja bersama indah, ada saat dimana mereka pernah melewati hari penuh canda tawa, bahkan bolpoin yang indah gunakan untuk merekam itu adalah salah satu hadiah ulang tahun yang iren berikan.
‘ Dari sekian banyak pelayan, kenapa harus kau yang berkhianat indah' keluh iren dalam hati, ia sangat kecewa
Mama maya memeluk nia yang tiba-tiba menangis, pemandangan itu terlihat aneh di mata indah, ia bertanya-tanya kenapa nia menangis, padahal mereka baru kenal beberapa hari lalu, dan baru mulai mengakrabkan diri.
“ pak eka bawa dia keluar dan urus ke pulangannya” ucap maya saat tangis nia semakin kencang.
Indah sangat terkejut mendengar keputusan nyonya maya, ternyata walau sudah mengatakan segalanya, ia tetap tidak mendapat pengampunan, air mata penyesalannya mulai menetes saat ia dibawa keluar dari ruangan kerja majikannya itu.
“ kenapa kau sekarang menangis indah? kau sendiri yang memilih jalan ini, sebelum berkhianat harusnya kau tahu, kau tidak akan pernah menduduki tempat yang sama lagi, padahal kau bisa meminta uang pada nyonya jika kau memang membutuhkannya, nyonya tidak pernah segan untuk membantu, nyonya juga tidak akan meminta mu mengganti uang itu”
“ penyesalan memang selalu datang di belakang pak eka, serahkan dia padaku, biar aku yang mengurusnya, aku sudah mendapatkan ijinnya juga”
__ADS_1