
" Aku di sini adi" sahut nia
Aditya menatap ke arah nia, ia melihat wanita itu melepas rambutnya yang ternyata palsu, rambut aslinya pun terlihat jatuh menjuntai ke bawah, nia juga menghapus make up di wajahnya.
Aditya mengambil langkah mundur saat melihat sosok nia yang berubah menjadi iren, rasa tak percaya membuatnya terdiam sesaat.
" Jadi nia adalah iren? " tanya aditya memastikan segalanya
" Iya adi ini aku! Aku masih hidup" seru iren.
Tangan iren terulur untuk menggenggam tangan aditya, tapi pria itu malah menepisnya.
Aditya mengalihkan pandanganya menatap ke arah maya, mencoba membaca ekspresi wajah mamanya itu, melihat wajahnya yang sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan, aditya pun tersenyum getir dengan pikiran bahwa dirinya telah dibodohi.
Aditya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Iren mengikuti dari belakang karna khawatir aditya akan marah karena salah paham padanya, ia menyusul aditya untuk memberinya penjelasan yang belum sempat ia ucapkan.
Aditya menatap heran saat sang istri tiba-tiba bisa masuk ke kamar yang sudah ia kunci itu, setelah iren berjalan mendekatinya, aditya melihat kunci cadangan di tangan iren, pria tampan itu pun langsung mengerti bahwa sang mama pasti membantunya.
__ADS_1
"Kenapa kau lakukan ini padaku iren?" Tanya aditya dengan nada pelan
"Kenapa kau mempermainkan perasaan ku?" tanya aditya lagi dengan penuh penekanan
"Apa kau tahu betapa tersiksanya aku beberapa waktu lalu?" tanya aditya dengan nada suara yang mulai meninggi
"Setiap malam aku tidak bisa tidur karna merutuki diriku sendiri, aku kesal pada diriku sendiri karna gagal melindungi mu, aku menyesal karena belum bisa membahagiakanmu" tutur aditya mengutarakan isi hatinya, ia mengambil nafas sebenar lalu melanjutkan ucapannya
"dan lagi, perasaan bersalah ku karna telah jatuh hati pada wanita....
Aditya terhenti sebelum ia mengucap kata 'lain' karena ia jadi tidak tahu apakah kata ' wanita lain' itu benar ada dalam hidupnya atau tidak, aditya tertarik pada nia, dan ternyata nia adalah iren, jadi apa pantas menyebutnya dengan kata itu.
" pergilah dari sini iren, aku tidak mau melihatmu" ucap aditya, padahal dalam hatinya ia ingin bersandar, berbaring di pelukan iren untuk menuntaskan rasa rindu yang sudah menumpuk setinggi gunung.
Iren menyeka air matanya yang mulai jatuh, ia menangis bukan hanya karna menyesal telah membohongi aditya, tapi juga karna ia berpikir semuanya telah benar-benar berakhir diantara mereka.
Iren menghentikan langkahnya di ambang pintu, ia enggan pergi tanpa memberikan suaminya penjelasan, dengan menatap punggung sang suami, dan dengan berusaha mengendalikan kesedihannya, iren pun berkata
__ADS_1
" Aku tidak berniat mempermainkan perasaanmu adi, maafkan aku! Aku melakukan ini demi hubungan kita, seperti kau yang berjuang menyingkirkan david, aku juga ingin berusaha untuk menyingkirkan lalat pengganggu dalam hubungan kita"
Aditya menitihkan air mata saat mendengar penjelasan itu, ia menahan diri agar tidak berbalik menatap iren walau ingin, aditya merasa malu untuk menunjukan sisi lemah dirinya.
Iren melangkahkan kaki keluar dari kamar itu, ia juga kembali mengunci kamar agar tidak ada yang mengganggu suaminya yang tengah ingin sendirian.
" Jangan bersedih adi, kan kuiklaskan kau bersamanya, semoga kau akan selalu bahagia dengan dia" ucap iren lirih kemudian berlari pergi.
" Sial...!!!!" umpat aditya
Suasana hening dan pendengaran aditya yang tajam membuat pria itu bisa mendengar ucapan iren yang berdiri di balik pintu.
Aditya pun bergegas mengejar iren yang tengah salah paham terhadapnya, tapi pintu kamar yang terkunci itu menghentikan dirinya, pria itu mencari kunci yang tadi ia lempar begitu saja.
Ya! Setelah masuk kamar dalam keadaan merajuk, aditya mengunci pintu dan melempar kuncinya karna kesal, dan sekarang pria itu tengah kesulitan mencari kunci kamarnya sendiri, bahkan setelah kunci itu terlihatpun, aditya masih harus berusaha untuk meraihnya.
Aditya sudah tengkurap di lantai sebelah kiri rannjang, lalu pindah ke sebelah kanan ranjang, kemundian pindah lagi ke depan ranjang, namun kunci itu tetap tidak bisa ia raih.
__ADS_1
" ahhh..... sial... sial... sial... dasar ranjang sialan, kupastikan besok aku akan mengantimu dengan ranjang baru yang kolongnya lebih tinggi, atau ranjang datar sekalian, agar lain kali jangankan kunci, semut kecil sekalipun tidak bisa masuk" geram aditya seraya mengacak-ngacak rambutnya kasar